Senin, 08 JUNI 2026 • 17:20 WIB

HUT ke-79 Pemkot Yogyakarta, Walkot Hasto Minta ASN Ubah Mindset :"Bantu Bereskan Masalah Sampah, Jangan Boros Anggaran!

Author

Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo. (Olivia Rianjani)

JOGJA - ​Momentum Hari Ulang Tahun (HUT) Pemerintah Kota Yogyakarta ke-79. Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, meminta jajaran Aparatur Sipil Negara (ASN) dan masyarakat untuk mulai beralih ke program-program yang memberikan dampak nyata dan berkelanjutan, alih-alih sekadar menggelar seremoni yang boros anggaran, menurutnya Pro-poor dan pro-environment itu menjadi bagian yang penting.

Hal tersebut ditegaskan Hasto usai memimpin upacara peringatan HUT Pemkot Yogyakarta yang berlangsung di Kompleks Balai Kota Yogyakarta, Senin (8/6/2026).

"Iya, saya kira momen krusial di Hari Ulang Tahun Pemerintah Kota ke-79 ini adalah kita harus mengubah mindset (pola pikir). Yang harus diubah mindset-nya bukan hanya pemerintah, tetapi juga masyarakat," ujarnya.

Hasto menyoroti kebiasaan lama dalam perayaan hari jadi yang sering kali terjebak dalam euforia sesaat. Menurutnya, refleks instingtif dalam membuat acara harus diubah agar berorientasi pada kemanfaatan publik.

"Sehingga refleksnya, ketika mengadakan acara-acara hari ulang tahun, jangan refleks mengadakan acara yang sifatnya hura-hura, yang sifatnya hanya boros-boros mengeluarkan tenaga, biaya, dan waktu, tapi peninggalannya tidak ada. Harus ada peninggalan yang berdampak, artinya kan ada warisan kebaikannya. Itu sebetulnya yang kita pesankan," tegasnya.

Kemudian, ia menekankan bahwa peringatan hari jadi seharusnya menjadi momentum bagi para abdi negara untuk tetap mengejar target kinerja sembari meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat. Hasto mencontohkan program inovatif seperti pemberian diskon pajak yang terbukti efektif menstimulus warga sekaligus mengamankan pendapatan daerah.

"Sehingga, mereka ini pola pikirnya adalah memperingati hari jadi pemerintah sambil bekerja mengejar target, plus sambil melayani masyarakat dengan lebih baik. Contohnya, misalkan mendiskon pajak," jelas Hasto.

"Kita juga mengeluarkan tenaga yang tidak sedikit dan persiapan yang tidak mudah, tapi hasilnya kan ada bekasnya. Oh ya, masyarakat tertolong, realisasi pajak tercapai. Pajak yang biasanya ditargetkan untuk 6 bulan, bisa terealisasi dalam waktu 1 hari. Kenapa tidak begitu saja? Saya bilang sama teman-teman PNS, mindset-nya harus kita ubah begitu," sambungnya.

Baca juga: Pimpin HUT ke-79 Pemkot Jogja: Hasto Wardoyo Semprot ASN Malas Hingga Haramkan Donasi Bedah Rumah Masuk Kas Pemkot

Selain sektor itu, Hasto juga mendorong akselerasi target kinerja di bidang kesehatan dan pengentasan kemiskinan agar diintegrasikan langsung dalam rangkaian perayaan HUT kota.

"Kemudian yang punya target harus melakukan pengobatan atau pemeriksaan gratis sekian kali dalam setahun, kenapa tidak kita adakan pemeriksaan gratis sekarang saja? Akhirnya held (terlaksana) juga pemeriksaan gratis, yang memang merupakan target kinerja, sekaligus merayakan (HUT) dan dampaknya langsung dirasakan masyarakat," paparnya.

Lanjut Hasto menilai, sikap pro-poor (berpihak pada warga miskin) dan pro-environment (peduli lingkungan) juga harus diwujudkan dalam aksi gotong-royong yang konkret di lapangan.

"Kita juga harus mengurangi lingkungan kumuh, mengurangi kemiskinan, dan sebagainya. Nah, kenapa kita tidak bedah rumah? Kemudian kita laksanakan bersama secara gotong-royong. Maka, itu juga langsung dirasakan dampaknya oleh masyarakat. Jadi saya kira, kerja yang berdampak itu penting sekali," tegas Hasto.

Namun, pihaknya menegaskan tidak lantas menghapus hiburan rakyat sama sekali. Ruang apresiasi bagi para pelaku seni dan budaya lokal tetap diberikan porsi yang proporsional.

"Tentu hiburan tetap ada, dan kita mengapresiasi teman-teman yang berkarya dalam bidang seni, seperti kompetisi kelurahan dan sebagainya. Tapi intinya adalah mengubah mindset, baik PNS-nya, pemerintahannya, dan bersama-sama dengan masyarakat," tegasnya lagi.

Baca juga: Wali Kota Jogja Optimis Wilayahnya Jadi "The Little Singapore" Tapi Bukan Untuk Industri :" Ini Tidak Terlalu Berlebihan"

Hasto kembali menggarisbawahi bahwa perbaikan kota, termasuk dalam menyelesaikan isu-isu krusial seperti pengelolaan sampah, memerlukan proyek rekonstruksi sosial yang masif. Namun, reformasi tersebut harus dimulai dari dalam birokrasi terlebih dahulu.

"Rekonstruksi sosial masyarakat itu penting. Kalau proyek rekonstruksi masyarakat, contoh jelasnya adalah pengelolaan sampah. Tapi ini juga harus dimulai dari mindset kita yang berubah dulu, baru nanti bisa mengubah mindset masyarakat. Rekonstruksi sosial di internal PNS dan pemerintah dulu, baru kita rekonstruksi pada masyarakat. Saya kira intinya itu menurut saya," pungkasnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan Langsung

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU