JOGJA - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kulon Progo membongkar sejumlah fakta mengejutkan di balik kasus dugaan keracunan massal lauk Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menimpa 105 korban. Investigasi lapangan dan rekaman CCTV menunjukkan adanya kelalaian fatal pada prosedur pengolahan, sanitasi, hingga penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Karangwuni.
Mepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kulon Progo, Susilaningsih, mengungkapkan bahwa pengolahan makanan di SPPG Karangwuni memiliki banyak titik rawan kontaminasi. Selain tahapan memasak yang terlalu panjang, sanitasi peralatan makan dan masak di lokasi tersebut dinilai jauh dari standar.
"Pemasakan melalui banyak tahapan yang meningkatkan potensi kontaminasi dan sanitasi perawatan tidak optimal. Jadi untuk pembersihan, pencucian itu kan harusnya dengan air panas dan sebagainya," ujarnya, Kamis (23/7/2026).
Selain itu, juga ditemukan pada proses pendinginan lauk ayam. Makanan dibiarkan mengendap di suhu ruangan hingga masuk ke dalam zona suhu berbahaya yang memicu pembiakan bakteri.
"Kemudian pendinginan makanan dilakukan di ruang masak selama kurang lebih 2 jam. Sebelum pembersihan, beresiko pada zona suhu bahaya. Jadi 5-60 derajat itu cukup lama untuk 2 jam," jelasnya.
Padahal, daging ayam merupakan komoditas bahan pangan rentan.
"Kemudian untuk ayam itu merupakan bahan pangan beresiko tinggi terhadap kontaminasi bakteri seperti salmonela atau kostridium," tegas Susilaningsih.
Pelanggaran APD Terlacak CCTV
Temuan lain yang cukup mengelus dada yakni kondisi fisik bangunan SPPG Karangwuni. Meski tempat pengolahan ini sudah mengantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS), kenyataan di lapangan justru memperlihatkan kondisi fisik bangunan yang berlubang.
"Dan juga sedikit kondisi bangunan itu tidak rapat sehingga ada serangga yang bisa masuk. Waktu itu sudah di-KL dan sebagainya," kata Susilaningsih.
Dinkes Kulon Progo semakin menguatkan indikasi kelalaian setelah memeriksa rekaman kamera pengawas (CCTV) di area pengolahan. Terlihat jelas petugas dapur mengabaikan SOP APD saat menangani makanan.
"Kemudian ini yang disayangkan mungkin kondisi lingkungan pada saat itu proses penyimpanan tidak memakai APD. Terungkap dari CCTV, kita minta CCTV," ungkapnya.
Meski investigasi telah mengarah pada kelalaian pengolahan dapur, Dinkes masih menunggu konfirmasi resmi melalui uji laboratorium. Namun, proses pengujian sempat terhambat karena sampel penjamin mutu makanan yang disisihkan oleh pihak pengelola sangat sedikit dan jauh dari standar satu porsi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Wawancara Langsung