Potret para pelari mahasiswa UMY. (Istimewa)
JOGJA - Di tengah keterbatasan anggaran promosi dan penyelenggaraan event yang dimiliki Dinas Pariwisata (Dinpar) Kabupaten Sleman, terutama memasuki semester kedua yang minim momentum libur panjang. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman mengandalkan pengembangan sport tourism untuk mengejar target kunjungan wisatawan sebanyak 8,5 juta orang sepanjang 2026.
Salah satu agenda yang diharapkan mampu mendongkrak kunjungan wisatawan ialah Transmigrasi Festival 2026 Fun Run 6K yang digelar Balai Besar Pelatihan dan Pemberdayaan Masyarakat Transmigrasi (BBPPMT) Yogyakarta bekerja sama dengan KADIN Sleman dan Bank Mandiri. Event tersebut akan berlangsung di kawasan D'Kaliurang Camping Ground, Pakem, Sleman, Minggu (23/8/2026).
Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman, Edy Winarya, mengatakan hingga 25 Juli 2026 realisasi kunjungan wisatawan telah mencapai 4,56 juta orang atau sekitar 53 persen dari target tahunan.
Menurutnya, memasuki paruh kedua tahun ini diperlukan terobosan untuk menjaga laju kunjungan wisata karena jumlah momentum libur panjang relatif lebih sedikit dibanding semester pertama.
"Saat ini kami dituntut untuk lebih kreatif dalam mengejar target kunjungan wisatawan. Per 25 Juli, capaian kita sudah menyentuh angka 4,56 juta orang atau sekitar 53 persen. Masuk ke semester kedua ini, pilihan ajang dan momentum liburan cenderung terbatas. Di sinilah sport tourism seperti event lari menjadi angin segar untuk mendongkrak distribusi wisatawan serta penerimaan Pajak Barang dan Jasa Tertentu (PBJT) dari sektor hotel dan restoran," ujarnya, saat jumpa pers di Kantor BBPPMT Yogyakarta, Senin (27/7/2026).
Edy menjelaskan dampak ekonomi dari penyelenggaraan event olahraga akan jauh lebih besar apabila mampu menarik peserta dari luar daerah maupun mancanegara.
"Jika peserta ajang lari ini didominasi oleh warga lokal, dampaknya terhadap pajak hotel dan restoran tentu terbatas. Namun, apabila pesertanya berasal dari luar daerah atau bahkan mancanegara, dampaknya akan sangat signifikan dalam menggerakkan perekonomian, memperpanjang length of stay (lama tinggal), serta meningkatkan spending money (pengeluaran belanja) wisatawan di Sleman," katanya.
Karena itu, menurut Edy, kolaborasi lintas sektor menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan sektor pariwisata, termasuk melalui penyelenggaraan Transmigrasi Festival 2026.
"Jadi, diharapkan tren sport tourism dan maraknya kegiatan lari saat ini dapat memberikan dampak multiplier effect bagi perekonomian lokal, mulai dari tingkat okupansi hotel hingga lama tinggal wisatawan," ujarnya.
Meski belum dapat memberikan dukungan anggaran besar, Dinas Pariwisata Sleman akan mendukung penyelenggaraan event melalui promosi, fasilitasi, serta kajian terhadap regulasi perizinan dan retribusi.
"Meski kontribusi awal kami belum besar, kami juga siap memfasilitasi kebutuhan ajang serta mengkaji regulasi perizinan dan retribusi agar tetap rasional, ramah bagi penyelenggara, serta menarik minat masyarakat dan peserta untuk berpartisipasi secara antusias. Kalau berkaitan khusus dengan Fun Run ini kami juga tidak memiliki kontribusi yang besar tapi kita terus berupaya nantinya ada beberapa hal fasilitas agar daya tariknya peserta seperti retribusi dan sebagainya jadi distribusinya itu tidak terlalu tinggi," katanya.
Sehingga, ia berharap dukungan lintas sektor terhadap sport tourism terus berlanjut agar kualitas penyelenggaraan event semakin meningkat.
"Dinas Pariwisata Sleman tidak memiliki anggaran yang signifikan untuk melaksanakannya. Justru temen-temen dari lintas sektor bisa mendapatkan dukungan dari teman-teman lintas sektoral lain. Sehingga, diharapkan program ini terus berlanjut secara konsisten ke depannya," tutur Edy.
Selain itu, Edy menilai sport tourism juga menjadi strategi pemerataan destinasi wisata, khususnya di wilayah utara dan barat Sleman.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung