Wali Kota Jogja Optimis Wilayahnya Jadi "The Little Singapore" Tapi Bukan Untuk Industri :" Ini Tidak Terlalu Berlebihan"
JOGJA - Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta membidik target besar untuk menyulap Kota Gudeg menjadi 'The Little Singapore'. Namun, konsep yang diusung bukan mengubah kota pariwisata ini menjadi pusat industri atau perdagangan raksasa, melainkan meniru tingkat kedisiplinan dan keteraturan tata kotanya.
Hal tersebut ditegaskan oleh Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, saat memimpin upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-79 Pemerintah Kota Yogyakarta di Lapangan Balai Kota, Senin (8/6/2026).
Dalam momentum tersebut, Pemkot Yogyakarta secara resmi menggaungkan gerakan "ASRI" (Aman, Sehat, Resik, Indah) yang dikombinasikan dengan aksi nyata di lapangan.
"Tidak terlalu berlebihan ketika saya berkali-kali menyampaikan bahwa Yogyakarta bisa menjadi The Little Singapore jika kita bisa menjaga keamanan, kebersihan, keindahan, dan ketertiban. Makna The Little Singapore dalam konteks kita adalah mencontoh kedisiplinannya, kebersihannya, kerapiannya, ketertibannya, dan keamanannya; bukan mencontoh sebagai pusat industri atau pusat perdagangannya," ujarnya.
Hasto menjelaskan bahwa tanggal 7 Juni merupakan hari berdirinya Pemerintah Kota berdasarkan UU RI Nomor 17 Tahun 1947. Sementara untuk usia Kota Yogyakarta sendiri jauh lebih tua dan baru akan diperingati pada Oktober mendatang.
"Artinya, dalam berkarya di Pemkot Yogyakarta, kita senantiasa berupaya untuk mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik demi membangun kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat," ucapnya.
Bedah Gerakan ASRI
Untuk merealisasikan target The Little Singapore, Pemkot Yogyakarta menyelaraskan programnya dengan arahan Presiden dan Pemerintah Pusat melalui gerakan ASRI. Hasto membedah empat esensi utama dari gerakan tersebut yakni diantaranya aman yang mana menggerakkan Forkopimda, Babinsa, Bhabinkamtibmas, Satpol PP, Linmas, hingga Jaga Warga untuk memberikan rasa tenang kepada masyarakat.
Kedua, sehat yaitu mewujudkan masyarakat yang sehat jasmani-rohani sekaligus membangun birokrasi pemerintahan yang sehat, bersih, berintegritas, dan kolaboratif.
Ketiga, resik yaitu menjaga kebersihan lingkungan fisik dan mewujudkan birokrasi yang disiplin, akuntabel, serta terhindar dari praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN).
Keempat, Indah yaitu menata kota pariwisata berbasis budaya, merawat taman, membersihkan sungai, serta memprioritaskan program "Munggah Mundur Madep Kali" untuk hunian di bantaran sungai.
Menurut Hasto, gerakan ini diperkuat dengan aksi KORVE (Korps Sukarela), yang melibatkan aparatur pemerintah bersama masyarakat. Termasuk pada setiap hari Jumat, sebanyak 4.500 personel ASN dikerahkan di 150 titik untuk membersihkan lingkungan. Aksi gotong royong ini berlanjut pada hari Minggu khusus untuk program bedah rumah.
Ia menilai, langkah ini diambil sebagai bentuk implementasi strategi Indonesia Incorporated yang dicanangkan Pemerintah Pusat.
"Arah pembangunan nasional tidak hanya berfokus pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga transformasi lingkungan dan jangan lupa rekonstruksi sosial. Perubahan perilaku menjadi bagian yang sangat penting untuk menjaga lingkungan di Kota Yogyakarta," jelas Hasto.
Gandeng Gus Iqdam Antisipasi Kejahatan Jalanan
Lebih lanjut, Hasto menyoroti maraknya kasus kejahatan jalanan yang melibatkan generasi muda akhir-akhir ini. Sebagai langkah rekonstruksi sosial dan pembinaan karakter, Pemkot Yogyakarta berencana menggelar pengajian akbar keagamaan yang menyasar anak muda.
"Kita memutuskan nanti pada tanggal 14 (insya Allah) akan diadakan pengajian akbar yang diisi oleh Gus Iqdam yang akan memberikan mauidhatul hasanah (nasihat kebaikan) kepada kita semua. Mohon dukungan, ketertiban, dan keamanannya," tegas Hasto.
Oleh karena itu, mantan Kepala BKKBN RI ini mengajak seluruh elemen masyarakat dan instansi terkait untuk mempererat sinergi demi kemajuan Kota Pelajar.
"Mari kita memantapkan langkah mewujudkan Yogyakarta yang Aman dalam kebersamaan, Yogyakarta yang Sehat dalam kehidupan, Yogyakarta yang Resik dalam lingkungan dan tata kelola, dan Yogyakarta yang Indah dalam pelayanan, budaya, dan kolaborasi. Mari kita terus bergandeng tangan, 'Gandeng Gendong' menjaga Kota Yogyakarta agar tetap berhati nyaman dan istimewa, untuk hari ini dan masa depan," pungkas Hasto.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung