Jogja Bersuara untuk Andrie Yunus, Massa Aksi Minta Negara Desak Pengusutan Teror Air Keras :"Kami Berikan Waktu 7 Hari"
JOGJA - Ditengah bulan suci Ramadhan 2026, sejumlah elemen masyarakat sipil yang tergabung dalam Suara Ibu Indonesia bersama mahasiswa lintas kampus menggelar aksi solidaritas untuk aktivis HAM Andrie Yunus di Bundaran Universitas Gadjah Mada (UGM), Sabtu (14/3/2026).
Aksi ini digelar sebagai bentuk dukungan sekaligus desakan kepada negara agar mengusut tuntas kasus penyiraman air keras yang dialami Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) tersebut.
"Seorang pembela HAM tidak akandiam melihat rakyat ditindas kekuasaan sebagaimana seorang ibu tidak akan diam melihat anaknya menderita," ucap seruan massa aksi.
Perwakilan massa aksi, Cila, mengatakan peristiwa yang menimpa Andrie merupakan alarm serius bagi masyarakat sipil. Menurutnya, serangan tersebut menunjukkan ancaman nyata terhadap para pejuang hak asasi manusia di Indonesia.
"Bagi kami ini ancaman yang sangat nyata. Rasanya pisau itu sudah dekat sekali di leher. Apa yang menimpa Andrie sekarang bisa saja menimpa kawan-kawan pers, menimpa masyarakat sipil yang tidak dilindungi oleh negara," ujar Cila kepada wartawan disela-sela aksi.
Ia menegaskan, aksi tersebut bertujuan memperkuat solidaritas sekaligus menekan negara agar mengungkap pelaku di balik serangan tersebut, termasuk aktor intelektual yang diduga berada di baliknya.
"Kami ingin negara membuka sejelas-jelasnya siapa pelakunya, tidak hanya aktor di lapangan tetapi juga aktor intelektualnya," katanya.
Dalam aksi tersebut, massa membawa poster dan bunga sebagai simbol solidaritas. Mereka juga membuka mimbar bebas yang diisi dengan pembacaan puisi, orasi, hingga doa untuk kesembuhan Andrie Yunus. Cila menyebutkan, masyarakat sipil menuntut aparat penegak hukum segera mengungkap pelaku penyerangan tersebut dalam waktu paling lama tujuh hari.
"Jika lebih dari itu, masyarakat sipil akan terus membangun kekuatan bersama untuk memantau dan menekan dari berbagai arah agar negara benar-benar menyelesaikan kasus ini," ucapnya.
Ia juga menyoroti bahwa kasus kekerasan terhadap pejuang HAM bukanlah peristiwa baru. Menurutnya, banyak kasus pelanggaran HAM yang hingga kini belum terselesaikan.
"Kita bisa melihat dari berbagai kasus pelanggaran HAM yang sampai hari ini belum selesai. Jadi rasanya negara belum berani mengungkap siapa dalangnya," kata dia.
"Kami berharap tidak akan ada Andrie-Andrie berikutnya. Sangat mengerikan jika orang yang bersuara untuk keadilan justru harus menghadapi ancaman seperti ini," tegas Cila.
Dalam pernyataannya, massa aksi juga menuntut pemerintah menjamin keamanan bagi pembela HAM agar dapat bekerja tanpa intimidasi maupun kriminalisasi :
- Menuntut Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) untuk mengungkap pelaku teror kepada Andrie Yunus dalam waktu selambat-lambatnya 7 hari ke depan (21 Maret 2026).
- Menuntut Polri untuk membuka kepada publik siapa saja pelaku teror kepada aktivis-aktivis pro-demokrasi dan apa motifnya.
- Menuntut Pemerintah untuk mengelola negara secara kompatibel, bersih, dan berpihak kepada rakyat.
Aksi tersebut berlangsung hingga buka puasa dilokasi itu.
Sebelumnya, Wakil Koordinator KontraS Andrie Yunus mengalami serangan penyiraman air keras oleh orang tak dikenal di kawasan Jakarta Pusat pada Kamis 12 Maret 2026 malam. Insiden terjadi ketika Andrie mengendarai sepeda motor di Jalan Salemba I - Talang.
Menurut keterangan KontraS, dua pelaku yang berboncengan menggunakan sepeda motor diduga menyiramkan air keras ke arah tubuh Andrie sebelum melarikan diri.
Akibat serangan tersebut, Andrie mengalami luka bakar sekitar 24 persen pada sejumlah bagian tubuh, termasuk tangan, wajah, dada, dan area mata, sehingga harus menjalani perawatan medis di rumah sakit.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung