Massa aksi di depan Polda DIY pada Selasa (24/2) gelar salat goib. (Olivia Rianjani)
JOGJA - Suara letusan terdengar di depan Mapolda Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Selasa (24/2/2026) malam. Letusan tersebut terjadi saat massa menggelar aksi unjuk rasa di halaman instansi kepolisian tersebut.
Diketahui, aksi itu digelar salah satunya sebagai bentuk solidaritas atas dugaan penganiayaan terhadap seorang pelajar berinisial AT (14) di Maluku yang disebut dianiaya oknum anggota Brimob Polda Maluku, Bripda Mesias Siahaya.
Berikut sejumlah fakta lain yang terjadi dalam aksi tersebut:
1. Massa Gelar Salat Gaib
Berbeda dari demonstrasi pada umumnya, massa bergerak secara organik tanpa membawa draf tuntutan tertulis maupun menyediakan panggung orasi. Mereka menggelar salat gaib sekitar pukul 19.45 WIB sebagai bentuk doa untuk korban.
Salah satu peserta aksi, Yazi, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bentuk solidaritas sekaligus doa bagi para korban kekerasan aparat.
"Kami mendoakan para almarhum termasuk AT di Maluku sana yang menjadi korban dari kejahatan para polisi itu mendapatkan ketenangan di alam sana," ujarnya kepada wartawan usai salat gaib.
Ia menyebut, doa juga ditujukan bagi korban lain, termasuk mereka yang ditangkap dan direpresi dalam aksi demonstrasi Agustus 2025.
"Dan juga banyak teman-teman yang bisa kita tahu bahwa demo Agustus tahun lalu termasuk teman-teman UNY, Perdana Arie yang baru dibebaskan kemarin. Ini sebagai bentuk mendoakan mereka, semoga tenang di alam sana dan semoga para polisi sadar bahwa yang mereka lakukan itu salah," katanya.
Perdana Arie yang merupakan mahasiswa sekaligus aktivis UNY 2025 sebelumnya disebut sebagai salah satu peserta aksi yang sempat ditahan dan baru dibebaskan.
2. Soroti Korban Demo Agustus 2025
Dalam orasinya, massa juga menyinggung sejumlah korban dalam demonstrasi Agustus 2025, termasuk mahasiswa dari Universitas Amikom Yogyakarta, Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Universitas Gadjah Mada (UGM).
"Kami mengutuk kekerasan polisi. Kami bukan hanya mengatasnamakan mahasiswa, tapi masyarakat. Kami resah dan muak dengan kelakuan para polisi," ucap Yazi.
Oleh karena itu, ia kembali berharap adanya reformasi di tubuh kepolisian.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Dan Wawancara Langsung