Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo. (Olivia Rianjani)
JOGJA - Momentum Hari Ulang Tahun (HUT) Pemerintah Kota Yogyakarta ke-79. Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, meminta jajaran Aparatur Sipil Negara (ASN) dan masyarakat untuk mulai beralih ke program-program yang memberikan dampak nyata dan berkelanjutan, alih-alih sekadar menggelar seremoni yang boros anggaran, menurutnya Pro-poor dan pro-environment itu menjadi bagian yang penting.
Hal tersebut ditegaskan Hasto usai memimpin upacara peringatan HUT Pemkot Yogyakarta yang berlangsung di Kompleks Balai Kota Yogyakarta, Senin (8/6/2026).
"Iya, saya kira momen krusial di Hari Ulang Tahun Pemerintah Kota ke-79 ini adalah kita harus mengubah mindset (pola pikir). Yang harus diubah mindset-nya bukan hanya pemerintah, tetapi juga masyarakat," ujarnya.
Hasto menyoroti kebiasaan lama dalam perayaan hari jadi yang sering kali terjebak dalam euforia sesaat. Menurutnya, refleks instingtif dalam membuat acara harus diubah agar berorientasi pada kemanfaatan publik.
"Sehingga refleksnya, ketika mengadakan acara-acara hari ulang tahun, jangan refleks mengadakan acara yang sifatnya hura-hura, yang sifatnya hanya boros-boros mengeluarkan tenaga, biaya, dan waktu, tapi peninggalannya tidak ada. Harus ada peninggalan yang berdampak, artinya kan ada warisan kebaikannya. Itu sebetulnya yang kita pesankan," tegasnya.
Kemudian, ia menekankan bahwa peringatan hari jadi seharusnya menjadi momentum bagi para abdi negara untuk tetap mengejar target kinerja sembari meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat. Hasto mencontohkan program inovatif seperti pemberian diskon pajak yang terbukti efektif menstimulus warga sekaligus mengamankan pendapatan daerah.
"Sehingga, mereka ini pola pikirnya adalah memperingati hari jadi pemerintah sambil bekerja mengejar target, plus sambil melayani masyarakat dengan lebih baik. Contohnya, misalkan mendiskon pajak," jelas Hasto.
"Kita juga mengeluarkan tenaga yang tidak sedikit dan persiapan yang tidak mudah, tapi hasilnya kan ada bekasnya. Oh ya, masyarakat tertolong, realisasi pajak tercapai. Pajak yang biasanya ditargetkan untuk 6 bulan, bisa terealisasi dalam waktu 1 hari. Kenapa tidak begitu saja? Saya bilang sama teman-teman PNS, mindset-nya harus kita ubah begitu," sambungnya.
Selain sektor itu, Hasto juga mendorong akselerasi target kinerja di bidang kesehatan dan pengentasan kemiskinan agar diintegrasikan langsung dalam rangkaian perayaan HUT kota.
"Kemudian yang punya target harus melakukan pengobatan atau pemeriksaan gratis sekian kali dalam setahun, kenapa tidak kita adakan pemeriksaan gratis sekarang saja? Akhirnya held (terlaksana) juga pemeriksaan gratis, yang memang merupakan target kinerja, sekaligus merayakan (HUT) dan dampaknya langsung dirasakan masyarakat," paparnya.
Lanjut Hasto menilai, sikap pro-poor (berpihak pada warga miskin) dan pro-environment (peduli lingkungan) juga harus diwujudkan dalam aksi gotong-royong yang konkret di lapangan.
"Kita juga harus mengurangi lingkungan kumuh, mengurangi kemiskinan, dan sebagainya. Nah, kenapa kita tidak bedah rumah? Kemudian kita laksanakan bersama secara gotong-royong. Maka, itu juga langsung dirasakan dampaknya oleh masyarakat. Jadi saya kira, kerja yang berdampak itu penting sekali," tegas Hasto.
Namun, pihaknya menegaskan tidak lantas menghapus hiburan rakyat sama sekali. Ruang apresiasi bagi para pelaku seni dan budaya lokal tetap diberikan porsi yang proporsional.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung