Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Kamis, 16 APRIL 2026 • 16:00 WIB

Disalip Tipis oleh Solo, Kota Jogja Jadi Runner Up Kota Maju 2026 di Indonesia, Pemkot Jogja Bidik Jadi "City of Festival

Disalip Tipis oleh Solo, Kota Jogja Jadi Runner Up Kota Maju 2026 di Indonesia, Pemkot Jogja Bidik Jadi City of FestivalWali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo. (Olivia Rianjani)

JOGJA - Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, memberikan respon terkait rilis data terbaru Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) per April 2026 yang menempatkan Kota Surakarta (Solo) di posisi pertama kota paling maju di Indonesia. Berdasarkan skor Indeks Daya Saing Daerah (IDSD), Yogyakarta kini berada di peringkat kedua dengan selisih angka yang sangat tipis.

Hasto mengatakan bahwa pihaknya tidak ingin menyikapi hasil tersebut dengan emosional. Sebaliknya, Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta akan melakukan evaluasi mendalam untuk membedah indikator apa saja yang membuat posisi Yogyakarta terlampaui oleh Solo.

"Kalau saya lihat angkanya itu selisihnya 0,01. Jadi kalau skor indeksnya Surakarta itu 4,43, kemudian Yogyakarta itu 4,42. Di satu sisi saya juga masih bersyukur Alhamdulillah bahwa Yogyakarta itu peringkat 2 dibandingkan kota-kota yang lainnya," ujar Hasto, pada Rabu (15/4/2026).

Instruksikan Bappeda 'Breakdown' Data

Untuk mengetahui penyebab selisih tipis tersebut, Hasto menginstruksikan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Yogyakarta untuk melakukan bedah data secara mendetail.

"Kita akan belajar nanti 0,01 itu sebenarnya item apa. Ini Kepala Bappeda baru saya minta untuk melihat sebetulnya komponen yang 0,01 itu selisihnya di mana, kita breakdown-lah, kemudian kita urai selisihnya di mana," tegasnya.

Baca juga: Sambangi Kota Jogja, Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto Apresiasi Kinerja Pemkot PAD Naik Hingga Rp 1 Triliun

Meski begitu, Hasto menilai bahwa posisi Yogyakarta sebenarnya masih jauh mengungguli kota-kota besar lainnya di Indonesia. Sebagai perbandingan, Kota Semarang berada di peringkat ketiga dengan skor 4,37, sementara Kota Bandung berada di angka 4,34.

"Kalau yang lainnya kan seperti kami dengan Semarang itu selisihnya kan lumayan, dari kita 4,42 Semarang 4,37. Ya ini kan selisihnya lumayan banyak. Misalnya di bawahnya lagi dengan Bandung selisihnya 4,34, artinya selisihnya banyak. Tapi dengan Solo itu kan 0,01," ungkapnya.

Fokus Strategi Investasi dan 'City of Festival'

Dugaan sementara, kata Hasto, sektor investasi dan pengelolaan acara (event) menjadi faktor pembeda. Hasto mengakui bahwa Kota Solo cenderung lebih agresif dalam menarik investasi tanpa banyak pembatasan, sementara Yogyakarta harus lebih berhati-hati dalam menjaga keseimbangan nilai-nilai lokal.

"Mungkin salah satunya investasi, sehingga investasi yang di Kota Solo kemudian mengemas event-event yang bisa lebih semarak, mungkin kita juga harus lebih lagi untuk bisa belajar dengan Solo misalnya. Di Jogja kita juga harus banyak memperhitungkan mempertahankan banyak hal," ujar Hasto.

Baca juga: Alasan Pemkot Yogya Tak Gelar WJNC Pada Oktober 2025

Kendati demikian, pihaknya berencana memaksimalkan konsep City of Festival. Hasto ingin durasi berbagai festival unggulan di Yogyakarta diperpanjang agar dampak ekonominya lebih terasa, mencontoh keberhasilan ArtJog yang mampu bertahan hingga 70 hari.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Wawancara Langsung

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Disalip Tipis oleh Solo, Kota Jogja Jadi Runner Up Kota Maju 2026 di Indonesia, Pemkot Jogja Bidik Jadi "City of Festival

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!