Konferensi pers Polsek Mergangsan Kota Yogyakarta, pada Senin (20/7/2026). (Olivia Rianjani)
JOGJA - Dua orang remaja asal Kemantren Gondomanan, Kota Yogyakarta, bernasib naas. Remaja berinisial NS (18) dan AN (18) menjadi korban pengeroyokan brutal oleh sekelompok pemuda di Jalan Ireda No. 100, Kelurahan Keparakan, Kemantren Mergangsan, Kota Yogyakarta, pada Kamis (9/7/2026) sekira pukul 04.15 WIB.
Peristiwa tersebut terjadi saat NS dan AN sedang berboncengan sepeda motor dalam perjalanan pulang setelah membeli rokok di sebuah warung Madura kawasan depan Purawisata. Namun di tengah jalan, mereka tiba-tiba dihadang dan diserang oleh lima orang pemuda. Polisi memastikan aksi pengeroyokan tersebut murni disebabkan lantaran para pelaku salah sasaran.
Hal ini diungkapkan, Kanit Reskrim Polsek Mergangsan, Iptu Shandi Vivianto, mengatakan bahwa kelompok pelaku awalnya sempat berselisih dengan pihak lain di kawasan Malioboro.
Saat perjalanan pulang melalui Jalan Ireda, mereka berpapasan dengan korban dan secara sepihak mengira kedua remaja tersebut adalah kelompok yang sempat melempar batu ke arah mereka.
"Untuk tersangka ini mereka hanya kebetulan saja awalnya main di Malioboro, kemudian saat pulang itu sudah sempat mau ribut tetapi dengan entah siapa, bukan dengan korban. Kemudian mereka ke Jalan Ireda dan ternyata berpapasan dengan korban, disangkanya rombongan (yang terduga lempar batu ke pelaku)," ujarnya, dalam konferensi pers di Mapolsek Mergangsan, pada Senin (20/7/2026).
Shandi menjelaskan, peristiwa penyerangan tersebut dipicu oleh perkiraan sepihak dari para pelaku.
"Ada yang bilang 'Ah ini', tapi sebenarnya mereka hanya kira-kira saja, salah sasaran," ungkapnya.
Di sisi lain, pihak kepolisian membeberkan bahwa para pelaku bukan merupakan kelompok geng sekolah maupun geng motor. Kelimanya diketahui sudah berusia dewasa dan bekerja. Mereka adalah RS (19), MFM (21), DWN (18), MZK (21), dan HAM (22), yang seluruhnya merupakan warga Kapanewon Pleret, Kabupaten Bantul.
Dari hasil pemeriksaan, mereka juga tidak terbukti mengonsumsi minuman beralkohol ataupun obat-obatan terlarang saat beraksi.
"Tapi kalau untuk pelaku ini bukan anak geng, mereka sudah dewasa, sudah kerja. Jadi waktu kejadian, saya tanya yang pelaku tidak menggunakan alkohol atau obat-obatan. Mereka sudah dewasa, sudah bekerja," kata Shandi.
Terkait alat bukti bambu yang digunakan untuk mengeroyok korban, Shandi menyebutkan bahwa para pelaku memanfaatkan barang yang ada di lokasi kejadian (TKP) secara spontan.
"Kalau barang bukti bambu ini ditemukan di TKP. Jadi mereka tidak membawa dari rumah atau dari mana-mana, karena ada itu mereka gunakan. Dan ini di TKP kita amankan. Kemudian barang-barang pakaian ini kita amankan di tempat mereka kita tangkap," jelasnya.
Baca juga: Diduga Salah Sasaran, Dua Remaja di Kota Jogja dikeroyok 5 Pemuda Bantul Usai Beli Rokok
Tak butuh waktu lama bagi jajaran Kepolisian untuk membekuk seluruh pelaku yang mana telah berhasil diringkus pada hari yang sama usai petugas melakukan pengembangan instan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung