JOGJA - Hari kedua Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), Selasa (14/7/2026), menyisakan potret ironis di tengah gemerlap Yogyakarta yang menyandang predikat sebagai Kota Pelajar. Di saat sekolah-sekolah negeri dan swasta favorit menjadi rebutan ribuan calon siswa, SMA Gotong Royong justru menghadapi realitas yang kontras.
Sekolah yang terletak di Jalan Tompeyan No. 156, Kemantren Tegalrejo, Kota Yogyakarta dimana memiliki satu petak tanah ini hanya bisa melaksanakan kegiatan MPLS untuk tiga orang siswa baru. Meski minim peserta, keberagaman tetap terlihat kental di sekolah ini. Selain murid beragama Islam, terdapat pula siswa yang menganut agama Kristen dan Katolik, namjn belum ada perwakilan dari umat Hindu maupun Buddha.
Sekolah satu atap yang menampung jenjang SMP dan SMA ini terus berjuang di tengah keterbatasan finansial dan fasilitas fisik yang memprihatinkan. Diketahui, hampir 100 persen siswa yang mengenyam pendidikan di sekolah yang berdiri sejak tahun 1982 ini berlatar belakang keluarga prasejahtera.
Kepala Sekolah SMP-SMA Gotong Royong Tegalrejo, Ame Lita Br Tarigan Sibero, mengatakan bahwa kegiatan hari kedua MPLS sengaja diisi dengan aktivitas fisik yang menyenangkan demi memotivasi para siswa baru.
Hal ini berbeda dengan hari pertama yang difokuskan pada upacara pembukaan, pengenalan visi-misi sekolah, penyampaian tata tertib, kesepakatan kelas, serta penanaman tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat yang diakhiri sesi refleksi.
"MPLS hari ini, tadi ada senam, kemudian ada senam tanggap bencana juga, terus nanti juga ada senam lantai. Jadi hari ini khusus kinestetik ya, gerak-gerak ya, gitu," ujarnya saat ditemui wartawan di lokasi, Selasa (14/7/2026).
Tahun ajaran baru kali ini diakui menjadi tantangan yang sangat berat. Jumlah pendaftar sangat minim, bahkan tidak sedikit siswa yang semula berniat masuk akhirnya memilih mengundurkan diri.
"Kalau kemarin itu yang ambil formulir itu lima, tapi yang baru kembali tiga. Iya, yang mengikuti tiga siswa baru," kata Ame Lita.
Bertahan dengan Kelas Gabungan
Kondisi sepi peminat ini membuat aktivitas kelas terpaksa berjalan secara gabungan. Saat ini, total siswa SMP Gotong Royong yang terletak tepat di depan area makam Kristen tersebut hanya berjumlah 15 anak.
Rinciannya yakni kelas 7 sebanyak 3 siswa dan kelas 8 sebanyak 4 siswa termasuk satu siswa pindahan dari Kabupaten Bantul serta dua siswa mutasi dari sekolah negeri. Sementara kelas 9 diisi oleh 8 siswa yang kini tengah difokuskan pada persiapan Tes Kemampuan Akademik (TKA) sebagai pengganti Ujian Nasional.
Untuk jenjang SMA yang berada satu atap, kata dia, jumlah total siswanya hanya 21 anak. Kelas 10 diisi oleh 8 siswa baru, kelas 11 sebanyak 6 siswa, dan kelas 12 memiliki 7 siswa. Ame Lita mengakui tren penurunan drastis jumlah siswa ini mulai dirasakan sejak tahun 2015 seiring ketatnya persaingan dengan sekolah yang memiliki fasilitas lebih mewah.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung