Salma Nadhifah Hasna Khairiyyah (19) bersama ibunya. (Istimewa)
JOGJA - Perjuangan keras dan doa yang tak putus akhirnya berbuah manis bagi Salma Nadhifah Hasna Khairiyyah (19). Gadis asal Padukuhan Nogosari, Desa Sidokarto, Kecamatan Godean, Sleman, ini berhasil melangkah lebih dekat menuju cita-citanya setelah dinyatakan lolos di Program Studi Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP).
Bukan sekadar lolos, kebahagiaan Salma kian lengkap lantaran ia mendapatkan subsidi Uang Kuliah Tunggal (UKT) hingga 100 persen alias gratis total dari UGM.
Di balik senyum sumringah Salma, ada kisah perjuangan luar biasa dari sang ibu, Riyanti (48). Sejak suaminya meninggal dunia pada tahun 2021, Riyanti terpaksa mengambil alih peran sebagai tulang punggung keluarga tunggal dan memulai semuanya dari nol.
Untuk menyambung hidup dan membiayai sekolah anaknya, Riyanti mengandalkan usaha kecil-kecilan dengan berjualan air minum kemasan. Tanpa toko besar, ia memanfaatkan telepon genggamnya untuk menawarkan dagangan melalui aplikasi WhatsApp ke warung-warung dan pelanggan sekitar.
Dari usaha yang tidak menentu ini, Riyanti mengantongi pendapatan sekitar Rp 1,5 juta per bulan. Namun, keterbatasan ekonomi tak membuat semangatnya padam untuk mendukung mimpi sang putri.
"Saya sering ada di titik terendah dalam keluarga. Tapi Tuhan itu Maha Baik. Kita berusaha terus. Kalau hari ini tidak jualan, nanti ada rezeki lain yang tiba-tiba datang," ujar Riyanti saat ditemui di kediamannya, Rabu (8/7/2026).
Baca juga: Tembus UGM dengan "Screen Reader", Ini Cerita Angel Mengejar Mimpi Jadi Peneliti
Riyanti mengaku, sejak awal Salma mengutarakan niatnya untuk kuliah di kampus bergengsi tersebut, ia langsung memberikan restu penuh meski sempat kebingungan memikirkan biayanya.
"Salma cerita kalau dia mau kuliah. Saya bilang pokoknya semangat belajar, insyaallah ada jalannya. Meskipun ada keterbatasan ekonomi, saya tetap dukung. Tidak tahu jalannya dari mana, tapi dicoba dulu saja," kenang Riyanti dengan mata berkaca-kaca.
Salma, yang merupakan alumni SMAN 1 Godean dan aktif di kegiatan jurnalistik sekolah, menceritakan ketegangannya menjelang pengumuman SNBP. Di hari krusial itu, ia bahkan harus menyelesaikan ujian sekolah terlebih dahulu hingga siang hari.
Alih-alih langsung membuka pengumuman di tengah ramainya grup WhatsApp teman-temannya menjelang pukul tiga sore, Salma memilih untuk menenangkan diri. Ia memutuskan untuk menunaikan ibadah salat Ashar terlebih dahulu.
Saat layar ponselnya menunjukkan warna hijau tanda diterima, tangis haru langsung pecah di rumah sederhana mereka. Kabar mengenai subsidi UKT 100 persen menjadi kejutan yang sama sekali tidak diduga oleh Salma dan ibunya.
"Keadaan ekonomi kini memang sulit, tetapi ternyata alhamdulillah UGM memberi subsidi sampai 100 persen dan itu di luar bayangan saya selama ini," ungkap Salma.
Baca juga: Dukung Pengembangan Biodesel 50, Guru Besar UGM Beri Catatan Kritis Ini
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Dikirim Melalui E-mail