Rekonstruksi tragedi depan SMAN 3 Yogyakarta (Kawasan Stadion Kridosono) yang berlangsung di Halaman Polresta Yogyakarta, pada Selasa (7/7/2026). (Olivia Rianjani)
JOGJA - Suasana haru penuh kesedihan menyelimuti halaman Mapolresta Yogyakarta pada Selasa (7/7/2026). Ayah dari AA (18), pelajar SMK asal Sleman yang tewas akibat penganiayaan berat, tak kuasa menahan air mata saat menyaksikan langsung sejumlah adegan rekonstruksi kekejian para pelaku yang merenggut nyawa putranya. Peristiwa tragis ini bermula pada Minggu, 17 Mei 2026 dini hari sekitar pukul 03.30 WIB.
Korban AA yang kala itu berboncengan motor dengan rekannya di Jalan Magelang, mendadak dikejar oleh sekelompok orang. Aksi kejar-kejaran itu berakhir brutal di depan pintu selatan SMAN 3 Yogyakarta, kawasan Stadion Kridosono. AA dianiaya secara sadis sebelum akhirnya tumbang di depan pintu Gereja HKBP.
Kanit 3 Satreskrim Polresta Yogyakarta, Ipda Gata Kinarta Immanuel Purba, mengatakan bahwa rekonstruksi yang memperagakan 19 adegan tersebut berjalan lancar, meski beberapa tersangka utama yang masih buron terpaksa digantikan oleh pemeran pengganti.
"Alhamdulillah proses rekonstruksi kita terkait perkara penganiayaan yang mengakibatkan meninggal dunia terhadap korban anak berjalan dengan lancar. Semua proses dapat kita lalui dengan baik, ada beberapa yang masih DPO kita gantikan dengan pemeran pengganti," ujarnya kepada wartawan, di halaman Mapolresta Yogyakarta.
Detik-Detik Tragedi Pembacokan
Reka adegan menggambarkan secara runtut mulai dari titik awal pertemuan di Jalan Magelang hingga eksekusi berdarah di depan SMAN 3 Kota Yogyakarta. Berdasarkan hasil rekonstruksi, korban diketahui menerima dua sabetan senjata tajam yang sangat fatal di bagian dada.
"Dalam adegan tadi dapat kita lihat bersama jelas bahwa korban itu menerima bacokan satu kali tepat pada dada atas bagian kanan, sehingga ketika proses korban dibawa ke rumah sakit di perjalanan, korban terjatuh," jelas Ipda Gata.
Nahas, luka robek yang sangat parah di bagian vital membuat nyawa AA tidak tertolong lagi. Korban dinyatakan meninggal dunia sebelum sempat mendapatkan perawatan medis.
"Dan pada faktanya ketika ditolong oleh ambulans gereja, dalam perjalanan menuju rumah sakit sampai di rumah sakit korban sudah meninggal dunia. Ya, kena bacokan di dada," bebernya.
Motif Spontan
Pihak kepolisian menegaskan bahwa insiden berdarah ini sama sekali tidak melibatkan perseteruan antar-geng motor atau aksi tawuran yang direncanakan. Tragedi ini murni dipicu oleh gesekan spontan di jalan raya.
"Kalau motifnya awalnya bisa kita lihat bersama dalam proses rekonstruksi karena adanya lihat-lihatan dan dilanjutkan proses tantang-tantangan, akan tetapi dari perkara ini tidak ada unsur janjian ataupun unsur tawuran antar geng," ungkap Ipda Gata.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung