JOGJA - Kasus pembacokan maut yang menewaskan seorang pelajar di kawasan Kridosono, tepatnya di depan SMAN 3 Yogyakarta, akhirnya menemui titik terang. Aparat Polresta Yogyakarta berhasil mengungkap motif di balik aksi brutal yang dilakukan oleh kelompok geng bernama Vozter tersebut.
Kapolresta Yogyakarta, Kombes Pol Eva Guna Pandia, menjelaskan bahwa peristiwa tragis ini bermula ketika kelompok pelaku mendengar adanya informasi rencana tawuran di wilayah Jalan Magelang. Di sisi lain, korban bersama temannya yang berboncengan sepeda motor juga sedang bergerak dari kawasan Mrican, Gejayan, untuk mencari informasi terkait keberadaan kelompok lawan setelah sebelumnya sempat saling tantang di media sosial.
"Korban berboncengan sepeda motor dengan temannya, berangkat dari daerah Mrican, Gejayan, melintasi Jalan Magelang dalam rangka mencari informasi tentang keberadaan kelompok geng lawannya setelah sebelumnya terjadi saling tantang untuk tawuran di sekitar Jalan Magelang," ujar Pandia, dalam konferensi pers di Mapolresta Yogyakarta, Jumat (22/5/2026).
Mendengar rumor tawuran tersebut, kelompok Vozter yang berjumlah enam orang kemudian berpatroli menggunakan tiga sepeda motor matik untuk menjaga area mereka.
"Pelaku dari geng Vozter mendengar adanya janjian tawuran di wilayahnya, kemudian menjaga wilayahnya dengan berkeliling sekitar Jalan Magelang," beber Pandia.
Ketika melintas di simpang tiga Borobudur Plaza, rombongan pelaku berpapasan dengan korban. Pelaku kemudian mendekati motor korban dan sempat terlibat adu mulut singkat.
"Rombongan pelaku mendekati korban sambil bertanya, 'Sekolah ngendi kowe?' dan dijawab korban dengan kata-kata, 'Kepo'. Kemudian rombongan pelaku kembali bertanya, 'Sekolah ngendi kowe?' dan kembali dijawab korban dengan kata-kata, 'Ora sekolah'," ungkap Pandia.
Rombongan pelaku sempat meninggalkan korban di bundaran depan Kantor Samsat. Namun, situasi memanas ketika korban justru berhenti dan menantang balik para pelaku sembari memutar-mutarkan sabuk gespernya.
"Mendengar hal tersebut dan melihat, para pelaku berbalik arah mengejar korban," katanya.
Melihat pelaku berbalik arah, korban melarikan diri ke arah timur menuju Abu Bakar Ali sambil berteriak "Vozter!". Dari kawasan Kotabaru, korban melaju ke arah Stadion Kridosono. Setibanya di depan SMAN 3 Yogyakarta, korban melihat dua orang warga sedang mendirikan tenda dan berniat berhenti untuk meminta pertolongan.
"Sesaat kemudian rombongan pelaku langsung mendekati korban dan temannya sambil menendang sepeda motor mengakibatkan korban hingga terjatuh," ujar Pandia.
Saat korban terjatuh, salah satu pelaku turun dari motor dan langsung mengayunkan senjata tajam jenis celurit berwarna biru dengan gagang kayu cokelat sepanjang 70 sentimeter ke arah dada korban.
"Kemudian salah satu pelaku langsung turun dari sepeda motor sambil mengeluarkan satu bilah senjata tajam jenis celurit warna biru dengan gagang kayu warna coklat yang langsung diayunkan ke arah tubuh korban, mengenai bagian dada yang menembus di dada bagian depan sehingga terjadi pendarahan di dalam selaput jantung," beber Pandia.
Korban sempat berusaha diselamatkan oleh temannya dengan dibonceng kembali, namun akhirnya terjatuh dan ditolong oleh warga sekitar untuk dilarikan ke Rumah Sakit Panti Rapih. Sayang, nyawa korban tidak tertolong akibat pendarahan hebat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung