Konferensi pers Prambanan Jazz 2026. (Olivia Rianjani)
JOGJA - Prambanan Jazz Festival 2026 resmi mengusung tema Celebrate the Joy, sebuah semangat untuk merayakan kegembiraan di kompleks Candi Prambanan. Tahun ini, penyelenggara tidak hanya berfokus pada hiburan semata, tetapi juga melakukan transformasi signifikan dalam kurasi musik sebagai bentuk respons atas kritik publik dalam beberapa tahun terakhir.
Founder Prambanan Jazz dan Rajawali Indonesia, Anas Alimi, mengatakan bahwa festival ini diposisikan sebagai "rumah untuk pulang" bagi para penikmat musik. Untuk memperkuat identitas sebagai festival jazz, tahun ini porsi konten yang mengandung unsur jazz telah ditingkatkan hingga 63 persen.
"Kami tidak anti-kritik. Sejak tahun lalu kami mendengar masukan publik, dan tahun ini kami membuktikannya. Porsi konten yang mengandung unsur jazz sudah mencapai 63 persen, jauh di atas tahun-tahun sebelumnya," ujar Anas dalam konferensi pers di plataran Candi Prambanan, pada Kamis (2/7/2026) sore ini.
Baca juga: Prambanan Jazz ke-11 Usung Diplomasi Budaya Lewat Kenny G dan Eaj Park, Catat Tanggalnya!
Strategi Gaet Gen Z Ala Sunan Kalijaga
Anas menyampaikan strategi unik dalam menggaet generasi muda, khususnya generasi sandwich dan pengguna TikTok, untuk menikmati jazz. Ia mengaku menggunakan pendekatan "strategi kebudayaan" seperti yang dilakukan Sunan Kalijaga melalui Sekaten.
Menurutnya, festival tahun ini juga menghadirkan talenta internasional, Joey Alexander, peraih tiga kali nominasi Grammy, serta musisi legendaris tanah air seperti Karimata, Candra Darusman, dan Margie Segers untuk memperkuat esensi musik jazz.
"Kita tidak bisa memaksa generasi sekarang langsung masuk ke jazz tradisional. Kami menggunakan program Playing Jazz, di mana musisi lintas genre seperti The Panturas, Perunggu, dan Barasuara diajak mengaransemen musik mereka menjadi jazz. Harapannya, mereka yang datang untuk artis idola, akhirnya terpapar dan menyukai jazz," katanya.
Dampak ekonomi dari gelaran ini pun dirasakan nyata oleh warga sekitar. Anas mencatat, antusiasme penonton membuat penginapan, homestay, hingga rumah makan di sekitar lokasi, seperti di daerah Turi, habis dipesan (full booked).
Festival Kurator Prambanan Jazz 2026, Shadu Rasjidi, menyampaikan bahwa tugasnya adalah menyeimbangkan antara kualitas musikal dengan keberlanjutan festival.
"Kami ingin menghadirkan kualitas musikal yang baik sekaligus memastikan festival ini tetap sehat. Harapan saya, setelah pulang dari Prambanan, penonton jadi lebih terbuka dan menyadari bahwa jazz itu sangat dinikmati," jelas Shadu.
Transparansi Harga Tiket
Terkait harga tiket yang kerap menjadi perbincangan, VP Business of Ticketing Tiptip Network Indonesia, Mirna Puspita, menjelaskan bahwa penetapan harga telah disesuaikan dengan line-up dan durasi penampilan.
"Kami tidak bilang ini affordable, tetapi sangat worth it. Kami juga berupaya menjaga ekosistem dengan memvalidasi data pembeli untuk meminimalisir praktik calo, sehingga yang hadir benar-benar penikmat musik yang ingin menikmati acara," pungkas Mirna.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung