JOGJA - Tim gabungan mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Institut Teknologi Bandung (ITB) berhasil menyabet Juara 1 sekaligus penghargaan Best Speaker dalam ajang kompetisi EcoVation 2026 yang digelar di PwC Office WTC 3, Jakarta Selatan, Jumat (10/7/2026).
Tim yang terdiri dari Fatika Permata Dewi dan Derichson Qualimva (Teknik Industri UGM 2024), serta Fadil Alfayat (ITB) ini sukses mengungguli Zhejiang University di posisi kedua dan Binus University di posisi ketiga. Derichson Qualimva juga dinobatkan sebagai Best Speaker pada ajang tersebut.
Dalam kompetisi ini, mereka menyoroti persoalan ketimpangan informasi (information asymmetry) atau lemons problem pada industri nikel Indonesia. Isu yang diangkat berfokus pada kesulitan pembeli internasional dalam membedakan produsen nikel yang sudah menerapkan prinsip ESG (Environmental, Social, and Governance) secara bersih dengan produsen yang belum, akibat tiadanya mekanisme sinyal nasional yang kredibel.
Dalam mengatasi stigma Dirty Nickel tersebut, tim merumuskan gagasan bertajuk PROVE-N (Proof-based Responsible & Verified Nickel). Proposal ini menyajikan kerangka kerja tata kelola dan verifikasi ESG tiga lapis yakni Ground, Trace, dan Proof yang dirancang khusus untuk skema PwC Indonesia.
Anggota tim UGM, Fatika Permata Dewi, menjelaskan bahwa kerangka kerja tiga lapis ini memanfaatkan ekosistem yang sudah ada tanpa perlu membangun instrumen dari awal.
"Intinya adalah sistem ini membantu nikel Indonesia bisa 'membuktikan diri bersih' lewat sistem yang sudah ada, bukan membuat instrumen baru dari nol," ujar Fatika, Senin (20/7/2026).
Ia merinci, Ground Layer berperan menyusun standar operasional seperti pengelolaan tailings dan hubungan kemasyarakatan. Trace Layer berfokus pada penegakan integrasi data SIMBARA-ESG dan PROVE Score yang terikat dengan kuota produksi RKAB.
"Sementara itu, Proof Layer menjadi sertifikasi resmi IRNC berstandar internasional (IRMA, CBAM, Battery Passport) sekaligus pelaporan keuangan PSPK menjelang batas waktu Januari 2027," kata Fatika.
Namun, menurut dia, perjalanan meraih tangga juara tidaklah mudah. Tim ini harus melewati tiga babak tantangan dengan case collaborator yang berbeda-beda di setiap tahapnya. Babak Preliminary bermitra dengan Mad for Makeup, Semifinal dengan Uniqlo, hingga babak Final bersama PwC Indonesia.
Di partai puncak, proposal mereka diuji oleh tiga juri ahli dari PwC Indonesia, yakni Miranti Nastiti (Manager of Sustainability), Vinsensius Hansen (Manager of Sustainability), dan Stella Farronikka (Senior Manager of Sustainability).
Fatika mengungkapkan, dinamika kasus yang berubah-ubah menuntut daya tahan serta fleksibilitas berpikir yang tinggi dari seluruh anggota tim. Serta, mengenai proses brainstorming dan eksekusi yang harus diulang dari awal sebanyak tiga kali.
"Berbeda dengan lomba dengan 1 case collaborator yang pada tahap selanjutnya hanya perlu mengembangkan ide di tahap sebelumnya," jelasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Dikirim Melalui E-mail