Salah satu giat program MBG di SD Kabupaten Sleman. (Olivia Rianjani)
JOGJA - Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menyatakan dukungan penuh terhadap wacana pergeseran fokus program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk lebih menyasar ibu hamil, ibu menyusui, dan balita, khususnya yang mengalami kurang gizi.
Menurut Hasto, kebijakan ini sangat sejalan dengan upaya Pemerintah Kota Yogyakarta dalam menekan angka stunting dan meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Ia menilai, intervensi nutrisi pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) adalah kunci utama yang tidak bisa ditawar.
Hasto membeberkan data di Kota Yogyakarta yang menunjukkan adanya ketimpangan distribusi bantuan nutrisi saat ini. Berdasarkan catatan yang ada, jumlah tenaga pendidik yang menerima manfaat jauh lebih besar dibandingkan kelompok rentan seperti ibu hamil dan balita.
"Kalau seandainya nanti digeser ke situ kan bagus, karena data yang masuk di kami, untuk guru dan tenaga pendidikan yang menerima sudah 3.987 orang. Sementara ibu hamil baru 67 orang. Kemudian ibu menyusui baru 760 orang, dan balita baru 695 orang dari total 10 ribu balita tadi. Jadi guru dan tenaga pendidikan lebih banyak," ujar Hasto, pada Rabu (15/4/2026).
Terkait teknis pelaksanaan, Hasto menegaskan bahwa Pemkot Yogyakarta sangat siap membantu proses distribusi (delivery) makanan hingga ke pintu rumah warga. Ia menyebut Yogyakarta memiliki infrastruktur tenaga kesehatan yang kuat hingga level kampung.
"Seandainya ada kerepotan dalam mengantar ke ibu hamil dan balita karena mereka ada di rumah-rumah, kami punya tim pendamping keluarga yang jumlahnya 390. Kami juga punya bidan atau tenaga kesehatan 169 yang mengawasi kampung-kampung itu. Jadi sebetulnya seandainya kita diperbolehkan untuk ikut membantu, kita punya tenaga untuk mendeliver," tegasnya.
Baca juga: Emak-emak Curhat ke Menkeu di Pasar Beringharjo, Minta Program MBG Dihentikan :"MBG Nggak Adil Pak"
Strategi "Ubun-ubun Belum Menutup"
Eks BKKBN tersebut menjelaskan secara biologis mengapa fokus pada anak di bawah dua tahun (Baduta) sangat krusial. Dari sekitar 10.361 balita di Jogja, terdapat sekitar 4.000 Baduta yang harus menjadi prioritas.
"Strateginya ya kita sasar yang kalau belum bisa 10 ribuan, yang 4 ribuan (Baduta) kita selesaikan dulu. Karena yang ubun-ubunnya belum nutup itu yang 4 ribuan ini. Kalau yang 6 ribuan sisanya itu umur 3, 4, 5 tahun. Tapi kalau mau strategis, efektif, dan efisien, ya kita sasar yang ubun-uburnya belum nutup ini, yaitu yang kurang dari 2 tahun plus yang baru hamil," jelas Hasto.
Ia menambahkan analogi sederhana mengenai pertumbuhan otak manusia. Intervensi pada anak yang ubun-ubunnya sudah menutup hanya akan berpengaruh pada berat badan, bukan kecerdasan.
"Logika sederhana begitu, kalau yang ubun-ubun belum nutup diberi (asupan) tambah cerdas, tapi yang sudah menutup tambah lemu (gemuk). Proses biologis dalam tubuh itu dari 0 hari dalam kandungan sampai 1.000 hari di luar kandungan, itu nggak bisa dibantahkan," imbuhnya.
Belajar dari Negara Maju
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Wawancara Langsung