Minggu, 26 JULI 2026 • 17:05 WIB

Bukan Cuma Daging dan Telur, UGM Minta Pangan Biru Jadi Masa Depan Pangan RI

Author

Potret ikan layak konsumsi (Istimewa)

JOGJA - Universitas Gadjah Mada (UGM) mendorong pemerintah dan masyarakat untuk mulai berfokus pada pengembangan blue food atau pangan biru secara berkelanjutan. Langkah ini dinilai strategis untuk memperkuat ketahanan pangan nasional di tengah ancaman perubahan iklim, penurunan ketersediaan lahan pertanian, dan pesatnya pertumbuhan penduduk.

Sebagai negara kepulauan dengan luas wilayah laut mencapai 70 persen, Indonesia dinilai memiliki potensi besar dalam memanfaatkan sumber daya perairan, baik dari perikanan tangkap, budi daya air laut, maupun air tawar. Pangan biru mencakup berbagai komoditas perairan seperti ikan, kerang, hingga rumput laut.

Dekan Fakultas Pertanian UGM, Prof. Ir. Jaka Widada, M.P., Ph.D., menegaskan bahwa masa depan sistem pangan nasional tidak bisa lagi hanya bergantung pada sektor pertanian di daratan. Menurutnya, potensi sektor perairan perlu dikelola dengan pendekatan yang lebih progresif dan ramah lingkungan.

"Kekayaan perairan juga harus dikelola secara bijaksana, inovatif, dan berkelanjutan. Di sinilah ilmu pengetahuan, teknologi, dan kolaborasi lintas sektor menjadi kunci untuk menghasilkan solusi yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat," ujar Jaka Widada dalam Seminar Nasional Tahunan XXIII Hasil Penelitian Perikanan dan Kelautan (SEMNASKAN-UGM XXIII) di Auditorium Harjono Danoesastro UGM, Sabtu (25/7/2026).

Senada, Wakil Rektor UGM Bidang Penelitian, Pengembangan Usaha, dan Kerja Sama, Dr. Danang Sri Hadmoko, S.Si., M.Sc., menyoroti pentingnya peran blue food sebagai sumber protein utama bagi lebih dari 280 juta jiwa penduduk Indonesia. Ia mendorong agar kampanye makan ikan terus digalakkan secara masif, mengingat pola konsumsi masyarakat saat ini masih didominasi oleh protein darat seperti daging dan telur.

"Dukungan kebijakan, riset maupun teknologi, blue food nantinya benar-benar menjadi salah satu tulang punggung ekonomi kita," kata Danang.

Kebutuhan Protein Ikan Melonjak di 2050

Kantangan keterbatasan lahan pertanian dan degradasi lingkungan di darat kini menjadi perhatian mendesak secara global. Direktur Pemasaran Ditjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Erwin Dwiyana, S.Pi., M.Sc., memprediksi kebutuhan protein ikan dunia akan melonjak tajam seiring peningkatan populasi.

"Transformasi sistem blue food menjadi suatu kebutuhan mendesak seiring proyeksi pertumbuhan populasi dunia menjadi 9,66 miliar jiwa pada 2050. Kondisi tersebut diperkirakan berdampak pada kebutuhan protein ikan naik hingga 67 persen," jelas Erwin.

Baca juga: Kisah Rofi, Anak Penjual Ikan Keliling Cilacap yang Tembus Psikologi UGM dengan Kuliah Gratis

Erwin menambahkan, pengembangan pangan biru di Indonesia perlu berpijak pada lima dimensi utama: ketersediaan, keterjangkauan, pemenuhan gizi, mutu dan keamanan pangan, serta keberlanjutan.

"Transformasi blue food harus diarahkan pada peningkatan produktivitas, pengembangan produk bernilai tambah, kolaborasi lintas sektor, serta pemanfaatan sumber daya secara berkelanjutan sebagai fondasi menuju Indonesia Emas 2045," tegas Erwin.

Inovasi Pangan Biru

Agar pangan biru lebih mudah diterima oleh masyarakat luas, inovasi pengolahan menjadi kunci utama. Dosen Departemen Perikanan UGM, Dr. Nurfitri Ekantari, S.Pi., M.P., memperkenalkan strategi penggabungan mikroalga dan makroalga ke dalam matriks makanan sehari-hari.

Menurut Nurfitri, alga kini tak lagi sebatas bahan baku obat atau suplemen, tetapi bisa diolah menjadi panganan populer seperti mie, mochi, hingga es krim.

"Mari kita beraksi dengan kolaborasi untuk menciptakan makanan yang lezat, karena tidak akan ada artinya makanan yang kita buat dengan macam-macam kalau tidak lezat dan meningkatkan minat masyarakat," ungkap Nurfitri.

Baca juga: Menteri LH "Merinding" Dengar Sultan HB X Penjarakan Perusak Alam :"Kami Harus Lebih Galak"

Adapun gelaran SEMNASKAN-UGM XXIII tahun ini mengusung tema "Blue Foods: Potensi dan Pengelolaan Berkelanjutan Sistem Pangan Biru Berbasis Perairan Lokal". Ketua Panitia Seminar, Dr. Susana Endah Ratnawati, S.Pi., M.Si., menyampaikan bahwa forum ini menjadi wadah kolaborasi akademisi dan pemangku kepentingan.

"Seminar ini diikuti oleh 109 pemakalah, 4 peserta non-pemakalah, serta perwakilan dari 15 institusi dan perguruan tinggi di Indonesia. Melalui penyelenggaraan seminar perikanan ini diharapkan dapat menjadi wujud komitmen bersama dalam membangun sistem pangan akuatik yang berdaya saing, berbasis sains, dan berkelanjutan," tandas Susana.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Dikirim Melalui E-mail

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU