Imbas Jumlah Anak Usia SD Hingga Pilih Pilih Sekolah Buat SD Negeri Sepi Termasuk di DIY, Wamendikdasmen Restui Regrouping Sekolah
JOGJA - Fenomena Sekolah Dasar (SD) negeri yang mengalami krisis atau kekurangan siswa kian marak terjadi di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), mulai dari Kota Yogyakarta, Sleman, hingga Gunungkidul. Menanggapi hal tersebut, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menilai kebijakan penggabungan sekolah (regrouping) merupakan langkah yang tepat dan sehat.
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq, mengungkapkan bahwa terdapat tiga faktor utama yang menyebabkan sekolah-sekolah dasar negeri kini makin sepi peminat.
Salah satunya, menurut dia faktor pertama adalah perubahan demografi, di mana populasi anak usia sekolah dasar memang mengalami penurunan secara alamiah.
"Saya dengar ya di SD negeri di Kota Jogja, termasuk ini saya dengar dari di Sleman juga mengalami hal yang sama. Jadi ini banyak daerah mengalami kasus serupa bahwa SD negerinya, termasuk juga beberapa SD swasta, mengalami kekurangan murid," ujarnya kepada wartawan saat ditemui dalam acara peletakan batu pertama TK Aisyiyah Bantul, Jumat (24/7/2026).
Fajar menjelaskan secara rinci dinamika yang terjadi di masyarakat saat ini. Menurutnya, perubahan preferensi masyarakat dan kondisi demografi sangat memengaruhi keterisian siswa di sekolah.
"Sebenarnya ada banyak faktor. Pertama faktor demografi, memang jumlah usia anak di SD itu semakin menurun karena faktor demografi aja. Yang kedua, memang ada tren di mana orang tua lebih memilih sekolah-sekolah swasta tertentu yang dianggap punya kualitas. Mereka mau memasukkan anak meskipun berbayar," bebernya.
"Yang ketiga, biasanya orang tua ada tren memasukkan anak mereka ke sekolah-sekolah keagamaan. Kenapa? Merasa untuk mengatasi persoalan kenakalan remaja hari ini. Maka pilihannya masuk ke sekolah keagamaan, termasuk pesantren itu menjadi pilihan prioritas. Makanya ada kenaikan juga pesantren yang berbasis boarding ini meningkat jumlah siswanya," ungkap Fajar.
Menyikapi fenomena ini, Fajar menilai langkah regrouping atau merger yang diambil oleh sejumlah pemerintah daerah merupakan opsi yang efisien dan rasional bagi operasional sekolah serta penataan tenaga pendidik.
"Nah jadi ini saya kira ada faktor demografis secara alamiah, yang kedua faktor preferensi orang tua. Nah sekarang bagaimana daerah menyikapi ini sebenarnya? Beberapa daerah sudah ada inisiatif memerger sekolah atau regrouping, ya saya kira itu lebih sehat. Karena beban sekolah siswanya 5 orang sama siswanya 50 orang atau sekolah itu sama saja," tegasnya.
Ia menyebutkan, penggabungan sekolah juga akan berdampak positif pada pemerataan kualitas pendidikan melalui penataan ulang posisi guru.
"Kalau terjadi regrouping, maka mudah-mudahan nanti ada redistribusi guru. Sehingga nanti pemerataan guru bisa kita lakukan dengan proses regrouping ini," tandas Fajar.
Gunungkidul Resmi Regroup 5 SD Negeri
Diketahui, regrouping telah dieksekusi oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gunungkidul melalui Dinas Pendidikan (Disdik). Pada tahun ajaran 2026/2027, Disdik Gunungkidul resmi menggabung lima SD negeri akibat penurunan jumlah siswa yang terjadi terus-menerus.
Baca juga: Mendasmen Abdul Mu'ti: Mengajar TK dan SD Itu Paling Sulit
Kepala Disdik Gunungkidul, Nunuk Setyowati, menjelaskan bahwa penataan ini dilakukan demi efisiensi dan peningkatan kualitas pembelajaran.
"Lima SD negeri yang diregrouping yakni SD Negeri Sambeng II yang digabung dengan SD Negeri Sambeng I, SD Negeri Widoro Semin dengan SD Negeri Sumberejo Semin, SD Negeri Kemiri I Tanjungsari dengan SD Negeri Kemiri II Tanjungsari, SD Negeri Jaten Tanjungsari dengan SD Negeri Gatak Tanjungsari. Terakhir SD Negeri Gelaran III Karangmojo digabung dengan SD Negeri Banyubening I Karangmojo," pungkas Nunuk.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Wawancara Langsung