JOGJA - Merespons krisis pengelolaan sampah yang masih melanda Kota Yogyakarta. Kelompok mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) menghimpun basis data bank sampah di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya yang diintegrasikan ke dalam sebuah laman digital bernama DaurKita.
Inisiatif ini digarap oleh 12 personel mahasiswa ini mendapatkan dukungan pendanaan langsung dari GIK Advanced Leadership Arena (GALA) berupa insentif serta pembekalan karakter kepemimpinan.
Project Officer DaurKita, Jeffryta Nasya Sanjaya, mengatakan platfrom ini resmi diperkenalkan dalam workshop "Bijak Mengelola Sampah" yang digelar pada Sabtu (6/6) lalu. Dalam acara tersebut, DaurKita turut menggandeng Lokalogi by Pramuka UGM untuk memberikan edukasi komprehensif kepada peserta. Menurutnya, melalui pemetaan ini, masyarakat khususnya mahasiswa diharapkan dapat lebih mudah mengakses fasilitas penyetoran sampah terdekat.
"Terdapat empat jenis sampah yang bisa dikelola oleh mitra DaurKita, yakni organik, anorganik, B3, dan residu. Harapan kami, semoga DaurKita dapat menjembatani teman-teman mahasiswa UGM dengan tempat pengelolaan sampah terdekat. Dengan ini, kendala akses dan informasi itu bisa diredam," ujarnya.
Sebagai gerakan yang diinisiasi oleh Pramuka UGM sejak 2024 itu, Lokalogi konsisten mengawal manajemen sampah di berbagai acara besar kampus, seperti Pionir, Gelex, Porsenigama, Culfest, hingga konser tahunan.
Perwakilan Lokalogi, Yudhistira, membagikan data dan evaluasi mengenai dinamika produksi sampah di arena acara (event). Berdasarkan catatan mereka, lonjakan sampah residu biasanya terjadi di akhir pelaksanaan kegiatan.
"Sampah residu bisa ditekan di hari pertama atau kedua karena jumlah pengunjung belum terlalu banyak. Biasanya, jumlah lonjakan sampah residu terjadi ketika penutupan acara. Hal ini terjadi karena pengunjung meningkat, sementara Lokalogi Heroes yang memantau tempat sampah jumlahnya terbatas," ungkap Yudhistira.
Yudhis juga menyampaikan bahwa masa persiapan (loading) acara kerap menjadi titik lemah yang luput dari perhatian panitia.
"Masa persiapan juga menjadi satu catatan penting dalam mengelola sampah acara, sebab sampah yang dihasilkan selama persiapanlah yang kerap tidak terkontrol maupun tercatat," jelasnya.
Sementara itu, perwakilan Lokalogi lainnya, Abiyyi, menekankan bahwa keberadaan bank sampah yang terdesentralisasi merupakan intervensi krusial, terutama bagi wilayah yang belum memiliki sistem pengangkutan sampah terpilah yang optimal.
Baca juga: Mahasiswa KKN UGM di IKN Siap Dobrak Tren Slow Fashion Lewat Ecoprint
Ia menggarisbawahi tiga alasan utama mengapa peran individu dan bank sampah saling mengikat dalam ekosistem ini. Pertama, menjadi solusi jangka pendek di hulu. Kedua, mengatasi kesenjangan rantai distribusi dari konsumen menuju pabrik daur ulang yang jumlahnya masih sangat terbatas. Ketiga, bank sampah dapat menstimulasi kesadaran masyarakat melalui stimulus ekonomi.
"Sampah yang terpilah masih ada harganya, sehingga harusnya bisa dijual meski nilainya turun. Tentunya, tujuan yang sirkuler ini tidak dapat berjalan apabila tidak ada proses pemilahan dari konsumen atau sumber utama," tegas Abiyyi.
Informasi lebih lanjut mengenai program dan akses peta kemitraan ini dapat dipantau melalui situs resmi mereka dan akun Instagram @daurkita. Laman DaurKita saat ini telah menyediakan daftar 18 nama mitra bank sampah yang tersebar di enam kecamatan di Yogyakarta.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Dikirim Melalui E-mail