JOGJA - Tim KKN-PPM Universitas Gadjah Mada (UGM) unit Pelita Nusantara bersiap membawa terobosan baru dalam dunia mode ramah lingkungan (slow fashion) ke kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN). Menjelang penerjunan pada pertengahan Juni mendatang, tim ini telah membekali diri dengan menggelar workshop pembuatan ecoprint di Desa Sidoarum, Kabupaten Sleman, DIY, Minggu (24/5/2026).
Pelatihan yang diikuti oleh 18 anggota tim dari lintas subunit ini menggandeng narasumber dari Asosiasi Eco-Printer Indonesia (AEPI) Yogyakarta. Dalam lokakarya tersebut, mereka mempraktikkan teknik cetak pada media kain sepanjang 1,5 meter dengan memanfaatkan pewarna alami dari daun dan bunga untuk menghasilkan pola yang unik.
Anggota Tim Pelita Nusantara dari Program Studi Sosiologi angkatan 2023, Annisa Attaya Zahra, menjelaskan bahwa program pelatihan ecoprint ini nantinya akan menyasar komunitas PKK di Desa Bukit Raya, Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur. Langkah ini diambil sebagai upaya pemberdayaan perempuan setempat berbasis ekonomi kreatif.
"Di Desa Bukit Raya ada banyak komunitas ibu-ibu, salah satunya komunitas PKK. Akhirnya aku berpikir, apa yang bisa dibuat oleh komunitas ibu-ibu yang tetap memiliki nilai jual, akhirnya memilih ecoprint," ujar Annisa, Senin (8/6/2026).
Selain membuka peluang usaha bagi warga, Annisa menekankan bahwa pemilihan ecoprint merupakan bentuk kampanye nyata untuk menggaungkan slow fashion yang lebih aman bagi ekosistem.
"Jadi ini bukan sekadar kain untuk fashion, tetapi salah satu upaya menjaga lingkungan karena banyak pakaian yang sangat mencemari lingkungan. Salah satu upaya menanggulanginya adalah slow fashion. Salah satu produknya itu ecoprint," jelasnya.
Senada, Koordinator Mahasiswa Tingkat Unit Tim Pelita Nusantara, Christian Perdana Putra Malau. Menurutnya, pelibatan anggota dari berbagai subunit dalam workshop ini bertujuan agar edukasi ecoprint bisa tersebar lebih luas, bahkan setelah masa KKN berakhir.
"Harapannya ecoprint tidak hanya dikenal di subunit Bukit Raya saja. Lalu mungkin nanti saat teman-teman kembali ke kota masing-masing, ecoprint ini bisa dikenalkan juga karena pembuatannya sendiri tidak ribet dan hasilnya estetik," kata Christian.
Christian menjelaskan bahwa kain hasil pelatihan tersebut nantinya akan dijahit dan digunakan sebagai rompi resmi tim.
"Gerakan ini diharapkan menjadi simbol kampanye kelestarian alam yang mereka usung," ucapnya.
Sementara itu, jalannya lokakarya dipandu langsung oleh pengurus AEPI Yogyakarta, Rahmi Ananta Widya Kristianti. Alumnus Fakultas Kehutanan UGM angkatan 1999 yang akrab disapa Ami ini telah menggeluti dunia ecoprint sejak tahun 2020. Ia menilai langkah mahasiswa UGM ini sangat strategis dalam menekan dampak buruk industri pakaian jadi.
"Kita ingin mengenalkan konsep slow fashion karena selama ini sampah terbanyak salah satunya adalah limbah tekstil. Harapannya, nanti teman-teman juga dapat membantu geliat UMKM warga karena ecoprint ini bernilai jual tinggi," tutur Ami.
Oleh karena itu, Ami berharap kolaborasi ini mampu menumbuhkan kesadaran kolektif masyarakat di sekitar kawasan IKN untuk mulai beralih ke gaya hidup hijau (green lifestyle).
"Melalui ecoprint ini untuk memberikan kesadaran kolektif masyarakat terkait pentingnya menjaga kelestarian lingkungan. Mulai dari hal kecil, karena hal-hal kecil membuat orang menjadi sempurna, tetapi kesempurnaan bukanlah hal yang kecil," pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Dikirim Melalui E-mail