Sabtu, 06 JUNI 2026 • 13:10 WIB

Klakson Bersahut-sahutan Para Pengendara di Bundaran UGM, Simbol Aksi "Nyerah Jadi WNI", Eks Rektor UII yang Turun Aksi Itu :"Jangan Sepelehkan!"

Author

Suasana aksi damai dan diskusi publik bertajuk "NYERAH JADI WNI" di Bundaran Universitas Gadjah Mada (UGM), Jumat (5/6/2026) sore. (Olivia Rianjani)

JOGJA - Kegelisahan atas memburuknya situasi ekonomi dan tata kelola pemerintahan saat ini memicu aksi solidaritas di wilayah Yogyakarta. Sejumlah elemen masyarakat sipil yang tergabung dalam Suara Ibu Yogyakarta, Sejagat, Wakanda, pengemudi ojek online (ojol), hingga Forum Cik Diktiro menggelar aksi damai dan diskusi publik bertajuk "NYERAH JADI WNI" di Bundaran Universitas Gadjah Mada (UGM), Jumat (5/6/2026) sore.

Aksi yang berlangsung sejak pukul 15.30 hingga 17.30 WIB ini menarik perhatian publik lewat tiga medium unik yang dihadirkan massa untuk menyalurkan keresahan mereka. Selain menyediakan "Kotak Kegelisahan" dan "Papan Game Revolusi", massa juga mengajak para pengendara yang melintas untuk membunyikan klakson kendaraan sebagai simbol solidaritas.

Perwakilan massa dari Suara Ibu Indonesia di Yogyakarta, Marsinah, menegaskan bahwa situasi ekonomi saat ini sudah berada di tahap yang sangat mengkhawatirkan, terutama bagi masyarakat kelas menengah ke bawah. Kenaikan harga barang pokok hingga anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dinilai kian mencekik kehidupan sehari-hari.

"Hari ini kita sedang resah memikirkan situasi ekonomi yang semakin buruk. Betul bahwa situasi ini belum melatuh, tapi dalam konteks masyarakat ekonomi yang paling terdampak itu adalah masyarakat dengan kelas kecil menengah ke bawah ya, besar-besaran," ujarnya, disela-sela aksi.

Marsinah menyoroti tiga "kejutan negatif" yang harus dihadapi masyarakat setiap hari yakni nilai tukar dolar yang kian tak terkendali, tarif pajak UMKM yang mencekik, hingga kasus korupsi yang menyeret Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) terkait pos anggaran Makan Bergizi Gratis (MBG).

Kemudian, ia juga mengkritisi hilangnya independensi Bank Indonesia (BI) akibat intervensi agenda politik rezim saat ini. Program-program seperti MBG, Kemitraan Domestik Modern Mandiri (KDMP), Danantara, hingga Food Estate dituding menjadi beban fiskal berat yang memicu ketimpangan sosial yang luar biasa.

Baca juga: Kritik Pidato Politik, Pakar UGM: Terlalu Jauh Dengan Realita Lapangan

Diketahuinya, berdasarkan riset tahun 2026, kekayaan 50 orang terkaya di Indonesia bahkan setara dengan kekayaan 50 juta lebih rakyat miskin. Menurutnya, dampak nyata dari karut-marut ekonomi ini, lanjut Marsinah, dirasakan langsung oleh para pekerja sektor informal seperti pengemudi ojek online.

"Bahkan misalnya hari ini teman-teman ojol yang juga hadir bersama kita juga merasakan betul karena ada kenaikan seperti oli yang awalnya Rp 50 ribu jadi Rp 70-80 ribu," ungkap Marsinah.

Lebih lanjut, ia mengecam tindakan pembungkaman terhadap suara-suara kritis masyarakat oleh negara, berkaca pada kasus hukum yang menimpa aktivis Andri Yunus.

"Semakin kamu kritis maka risikonya sebenarnya akan semakin besar dari segi keamanan. Jadi kita ingin supaya negara ini menghentikan total kalau perlu MBG, KDMP, dan proyek-proyek pemborosan lainnya, termasuk juga kunjungan presiden ke luar negeri yang semakin tidak terkendali dan tidak ada hasil yang signifikan," tegasnya.

Tiga Tuntutan Utama

Adapun tiga tuntutan utama yang ditujukan kepada pemegang kebijakan yakni diantaranya:

  1. Stabilisasi Ekonomi, yakni mewajibkan pemerintah dan Bank Indonesia mengambil langkah luar biasa untuk menstabilkan ekonomi dan meningkatkan nilai rupiah.
  2. Evaluasi Fiskal Progresif, yakni mendesak pemerintah mengalihkan anggaran program yang dinilai boros (seperti MBG, KDMP, Danantara, Food Estate, dan perjalanan dinas luar negeri) untuk subsidi kebutuhan dasar pangan, bensin, modal usaha, serta pendidikan.
  3. Perlindungan Warga Sipil, yakni menuntut jaminan hak asasi dan keamanan bagi warga negara yang menyuarakan kritik, baik secara personal maupun melalui media sosial.

​Terkait riuh klakson yang terus bersahut-sahutan dari para pengendara sepanjang aksi, Marsinah menilai hal itu sebagai sinyal kuat bahwa masyarakat luas merasakan penderitaan yang sama.

"Dari awal sampai sekarang berganti klakson itu berbunyi. Artinya, hampir rakyat Indonesia sebenarnya ingin membunyikan klakson karena hampir menyerah jadi WNI," ucapnya.

Eks Rektor UII: Jangan Normalisasi Keadaan!

Mantan Rektor UII, Fathul Wahid. (Olivia Rianjani)

​Aksi ini juga mendapat dukungan moral dari kalangan akademisi. Mantan Rektor Universitas Islam Indonesia (UII), Fathul Wahid, tampak hadir di tengah-tengah massa aksi. Ia menyampaikan bahwa gerakan ini murni lahir dari niat baik untuk masa depan Indonesia, sekaligus menjadi ruang penting untuk merawat akal sehat di tengah situasi nasional yang tidak menentu.

"Ya ini bagian dari kita semua untuk merawat kewarasan karena masih banyak yang perlu dikoreksi di negeri ini. Dan semuanya ini saya yakin juga dilakukan dengan niat yang sangat baik dan harapan yang mulia untuk negeri kita lebih baik ke depannya," ujar Fathul.

Ia pun meminta para penguasa dan pemegang otoritas untuk tidak menutup telinga terhadap suara-suara dari sektor akar rumput, mulai dari kaum ibu, mahasiswa, hingga pengemudi ojek online. Merespons meroketnya nilai dolar dan anjloknya rupiah, ia mengingatkan pemerintah agar tidak menormalisasi keadaan atau menganggap enteng dampak pelemahan mata uang ini bagi rakyat kecil.

"Tentu kita sedih karena rupiah melemah luar biasa, dan yang perlu kita jadikan bahwa dampaknya bukan hanya kepada mereka yang bermain dolar. Rakyat di bawah juga merasakan betul. Kita ada dengar kawan-kawan pengrajin tempe-tahu juga sudah terdampak, harga-harga sudah mulai naik," jelasnya.

Lanjut Fathul menambahkan bahwa dalam ekosistem ekonomi global yang saling terhubung, perubahan di satu sektor pasti akan berdampak sistemik ke sektor lainnya. Karena itu, ia mendesak pemerintah untuk bersikap jujur dan menyampaikan kondisi ekonomi secara objektif kepada publik.

"Jangan disepelekan, jangan dinormalisasi, sehingga pengambil kebijakan juga seharusnya memberikan kabar yang objektif sehingga rakyat juga bisa menilai secara objektif juga," tegas Fathul.

Baca juga: 500 Mahasiswa di Jogja Serukan Reformasi Jilid II, Kritik Keras Program MBG Hingga Koperasi Desa Merah Putih :"Boros Anggaran"

Kendati demikian, menurutnya soal aksi klakson dari para pengendara yang melintas di Bundaran UGM, Fathul melihat fenomena tersebut sebagai simbol solidaritas dan terbangunnya kesadaran kolektif.

"Nah itu sebenarnya sebagai wujud dukungan bahwa ada kepedulian bersama, ada kesadaran kolektif, tidak sekadar hanya klakson. Yang kami dengar adalah, 'Oh betul yang disuarakan oleh kawan-kawan, oh betul ada masalah di Indonesia.' Jadi klakson itu melambangkan solidaritas dan kesadaran bersama," pungkas Fathul.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan Langsung

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU