Rabu, 07 JANUARI 2026 • 18:20 WIB

Gara - Gara Diduga Pneumonia, Satu Bayi di Sleman Terdeteksi Super Flu, Dinkes DIY Sebut Belum Ada Vaksin Baru

Author

Ilustrasi Super Flu pada anak. (Istimewa)

JOGJA - Dinas Kesehatan Daerah Istimewa Yogyakarta (Dinkes DIY) mengonfirmasi adanya satu kasus Super Flu atau Influenza A (H3N2) subclade K yang menyerang seorang bayi berusia di bawah satu tahun. Kasus tersebut ditemukan di Kabupaten Sleman, meski pasien berdomisili di Kota Yogyakarta.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes DIY, Ari Kurniawati, menegaskan bahwa kasus ini sebenarnya terjadi pada periode September - Oktober 2025, namun baru terkonfirmasi belakangan karena proses pemeriksaan laboratorium yang membutuhkan waktu lama.

"Disebutkan ada beberapa provinsi, salah satunya DIY. Ada satu kasus, itu di Sleman tapi domisilinya di Kota Jogja. Namun kini pasien sudah dinyatakan sembuh dan dipulangkan," ujarnya kepada wartawan, Selasa (6/1/2026).

Ari menyampaikan, bayi tersebut terdeteksi saat menjalani rawat inap di rumah sakit rujukan di Sleman dengan gejala demam dan gangguan pernapasan. Secara klinis, kasus awalnya didiagnosis sebagai pneumonia balita, penyakit yang umum terjadi pada anak.

"Kalau diagnosa awalnya itu pneumonia, radang paru. Penyebabnya tidak langsung bisa diketahui sampai ke jenis virusnya. Tidak semua penyakit bisa langsung dideteksi sampai ke strain virusnya," jelasnya.

Baca juga: Keluarga Penyedia Diduga Ikut Keracunan Snack Serupa dialami Mahasiswa UNISA, Dinkes DIY Akan Sosialisasi Setiap Penyedia Makanan

Dijelaskan Ari, penentuan bahwa pasien terinfeksi Influenza A (H3N2) subclade K baru diketahui setelah sampel diperiksa melalui Whole Genome Sequencing (WGS) di laboratorium nasional milik Kementerian Kesehatan.

"Pemeriksaan WGS itu hanya bisa dilakukan di lab Kemenkes. Karena lab nasional mengelola sampel dari seluruh Indonesia, tentu membutuhkan waktu. Jadi bukan ditutup-tutupi, tapi memang prosesnya lama," tegas Ari.

Dugaan Tertular dari Orang Sekitar

Terkait sumber penularan, i menduga kuat bayi tersebut tertular dari kontak erat di lingkungan sekitar, mengingat pasien masih berusia di bawah satu tahun dan tidak memiliki riwayat perjalanan.

"Karena dia masih bayi, tidak ke mana-mana. Dugaan kita pasti tertular dari orang sekitarnya. Itu sebabnya penting sekali orang yang sakit memakai masker, apalagi kalau di rumah ada bayi atau lansia," katanya.

Dalam hal itu, Ari kembali mengingatkan bahwa pada periode September - Oktober 2025 memang terjadi peningkatan kasus anak yang menjalani rawat inap akibat infeksi saluran pernapasan.

"Mungkin teman-teman juga ingat, waktu September - Oktober itu banyak anak yang inap. Jadi secara klinis sudah tertangani dengan baik, pasien membaik dan sembuh," ucapnya.

Pantau Kasus Pakai Dua Sistem

Kendati demikian, Ari memastikan tidak ada lonjakan kasus di DIY, termasuk selama libur Natal dan Tahun Baru (Nataru).

"Kami punya Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR). Penyakit respiratori dipantau harian. Sejauh ini tidak ada alert atau peningkatan yang mengarah ke super flu," jelasnya.

Baca juga: Update Terbaru Kasus DBD di Sleman Capai 383 Kasus, Dinkes : Tak Ada Korban Meninggal Berkat Program Wolbachia

Selain itu, menurut Ari, pemantauan dilakukan melalui dua mekanisme, yakni pelaporan rutin seluruh fasilitas kesehatan dan sistem sentinel atau lokus di puskesmas serta rumah sakit rujukan.

"Semua faskes wajib melaporkan penyakit potensial wabah, termasuk influenza like illness. Itu dilakukan setiap hari, termasuk saat Nataru," pesan Ari.

Serukan PHBS

Seperti halnya COVID-19 maupun menghindari penyakit lainnya, Ari kembali menekankan bahwa Super Flu bukan penyakit baru dan tingkat keparahannya relatif ringan.

"Kemenkes juga menyatakan kasus ini rata-rata tidak berat. Fatality rate-nya rendah dan jauh di bawah COVID-19. Jadi tidak perlu panik," katanya.

Menurutnya, upaya pencegahan tetap sama dengan penyakit infeksi pernapasan lainnya.

"Prinsipnya tetap PHBS. Kalau sakit pakai masker, cuci tangan pakai sabun, dan tingkatkan daya tahan tubuh. Rumusnya itu sama," tegasnya lagi.

Terkait kemungkinan adanya vaksin baru, Ari menyebut belum ada vaksin khusus untuk subclade K. Namun, vaksin influenza yang sudah ada tetap bermanfaat.

"Sampai saat ini belum ada kebijakan vaksin baru khusus untuk subclade ini. Vaksin influenza yang ada masih digunakan dan tetap memberi perlindungan," jelasnya.

Namun demikian, ia menunggu kebijakan lanjutan akan menunggu Surat Edaran resmi dari Kementerian Kesehatan.

"Kami masih menunggu surat edaran Kemenkes. Sambil berjalan, kami tetap mewajibkan faskes melaporkan kasus dan memantau melalui sistem kewaspadaan," pungkas Ari.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Dikirim WA (Pribadi)

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU