Rabu, 03 DESEMBER 2025 • 18:35 WIB

Wacana Peralihan Becak Kayuh ke Listrik, Dosen UGM Soroti Tantangan Pengelolaan Limbah Baterai

Author

Potret becak listrik di DIY. (Olivia Rianjani)

JOGJA - Program peralihan becak kayuh menjadi becak listrik menjadi salah satu langkah pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus mendukung transportasi ramah lingkungan. Program inisiatif Presiden Prabowo Subianto ini telah berjalan sejak 2024 dan tercatat telah menyalurkan lebih dari 2.000 unit becak listrik ke berbagai wilayah di Indonesia, dengan prioritas penerima adalah kelompok lanjut usia.

Peneliti Senior Pusat Studi Transportasi dan Logistik Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Ir. Dewanti, M.S., menyambut positif inisiatif ini. Menurutnya, konsep transportasi hijau dan berkelanjutan sangat penting diterapkan di perkotaan yang masih menghadapi masalah kemacetan dan emisi karbon tinggi.

"Becak listrik dapat berkontribusi menekan polusi udara yang kian memburuk. Saya kira, program ini harus disiapkan dengan baik infrastruktur dan regulasi yang diperlukan,” ujarnya, Rabu (3/12/2025).

Baca juga: Tegaskan Bukan Hilangkan Pekerjaan, Alasan Pemda DIY Segera Tertibkan Ribuan Bentor Peralihan ke Becak Kayuh Bertenaga Alternatif

Selain ramah lingkungan, becak listrik kini dilengkapi dengan teknologi Internet of Things (IoT) yang memudahkan pengoperasian. Dewanti menjelaskan, sejumlah fitur canggih seperti vehicle tracking, monitoring baterai dan sistem kelistrikan, sistem pembayaran digital, sensor keselamatan, hingga fasilitas lain disematkan pada kendaraan ini.

"Teknologi ini dapat memudahkan dan menarik perhatian wisatawan untuk lebih memilih becak sebagai kendaraan khas nusantara,” jelas Dewanti.

Namun, Dewanti menyoroti sejumlah tantangan yakni dimulai dari skema peralihan dari becak konvensional ke listrik, ketersediaan stasiun pengisian daya (SPKLU), hingga kebutuhan regulasi lalu lintas yang mendukung. Ia juga mengingatkan soal pengelolaan limbah baterai agar dampak lingkungan dapat diminimalkan.

Selain itu dari sisi biaya, ujar dia, becak listrik dibanderol puluhan juta rupiah, sementara becak kayuh masih lebih murah dalam operasional sehari-hari. Namun, menurut Dewanti, becak konvensional menekankan tenaga manusia sehingga terasa kurang manusiawi.

"Pengemudi becak listrik harus dibekali pengetahuan tentang teknologi, operasi, dan pemeliharaannya," tegasnya.

Baca juga: Atasi Limbah Cair di Kawasan Wisata Jogja, Guru Besar UGM KembangkanTripikon-S Berteknologi Micro-bubble

Oleh karena itu, keberhasilan program ini perlu dibarengi dengan pembinaan bagi pengemudi becak kayuh dan pengaturan jumlah becak listrik di jalan agar tidak menimbulkan kemacetan baru.

"Pengemudi becak kayuh perlu bimbingan pengoperasiannya serta pembatasan jumlah dalam menghindari kemacetan yang lebih parah," pungkas Dewanti.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Dikirim Melalui E-mail

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU