Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Rabu, 03 DESEMBER 2025 • 18:10 WIB

DIY Rawan Longsor dan Banjir Saat Liburan, Pakar UGM Paparkan Peta Risiko Dan Soroti Rendahnya Kesadaran Masyarakat terhadap Peringatan Cuaca

DIY Rawan Longsor dan Banjir Saat Liburan, Pakar UGM Paparkan Peta Risiko Dan Soroti Rendahnya Kesadaran Masyarakat terhadap Peringatan CuacaDosen Prodi Bisnis Perjalanan Wisata Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM), Ghifari Yuristiadhi M. Makhasi (kanan). (Olivia Rianjani)

JOGJA - Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) diprediksi menghadapi ancaman serius dari cuaca ekstrem selama periode libur akhir tahun. Curah hujan yang berada di atas normal, ditambah potensi bencana hidrometeorologi, membuat sejumlah destinasi wisata berada dalam kondisi rawan.

Dosen Prodi Bisnis Perjalanan Wisata Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM), Ghifari Yuristiadhi M. Makhasi, menjelaskan bahwa BMKG telah memprediksi peningkatan curah hujan ekstrem sejak September, dan kondisi tersebut diperkirakan berlanjut hingga Desember, dengan puncak hujan diprediksi terjadi pada Januari hingga Februari 2026.

"Curah hujan di DIY saat ini masih di atas rata-rata. Potensinya meningkat terus, dan dampaknya meliputi banjir, genangan air, hingga tanah longsor,” ujar Ghifari saat memberi keterangan di DPRD DIY, Rabu (3/12/2025).

Data dari BPBD DIY menunjukkan tren kenaikan intensitas hujan beberapa bulan terakhir. Peringatan dini hari ini mencakup berbagai wilayah, mulai dari Imogiri, Pundong, hingga Purwosari, dengan potensi hujan lebat disertai angin kencang dan petir. Sehingga, menurut Ghifari, wilayah perbukitan di DIY patut diwaspadai karena risiko longsor tinggi.

"Untuk potensi longsor, zona rawan ada di Gunungkidul, Kulon Progo, dan Sleman," katanya.

Sementara kawasan dataran rendah lebih berisiko mengalami banjir dan genangan air, ia mencontohkan kejadian longsor yang beberapa waktu lalu memutus akses menuju salah satu destinasi wisata populer di wilayah selatan.

"Gangguan akses ini bisa menghambat mobilitas wisatawan dan berdampak pada kunjungan, terutama menjelang puncak liburan," jelasnya.

Kendati demikian, Ghifari menekankan bahwa DIY kini menghadapi multi-hazard, termasuk risiko erupsi dan aktivitas geologi lain, sehingga pendekatan mitigasi harus lebih preventif dan edukatif.

"Untuk mengurangi risiko bagi wisatawan dan pelaku industri, penting menerapkan hierarki pengendalian risiko, mulai dari eliminasi risiko, substitusi aktivitas, engineering control, administrative control, hingga penggunaan APD,” paparnya.

Selain itu, ia menekankan pentingnya edukasi mitigasi bencana bagi pramuwisata muda, yang menjadi garda depan pelayanan wisatawan. Ghifari menyoroti rendahnya kesadaran masyarakat terhadap informasi cuaca dari BMKG.

"Kadang ada wisatawan atau rombongan yang tetap nekat meski sudah ada peringatan cuaca ekstrem. Ini berbahaya,” tuturnya.

Ia juga mengingatkan risiko aktivitas seperti berenang di pantai selatan, bermain di sekitar sungai, atau berkemah di wilayah rawan banjir dan longsor.

"Wisatawan perlu diedukasi untuk tidak memaksakan diri. Harus siap dengan opsi wisata alternatif," imbuh Ghifari.

Baca juga: Dinpar DIY Akan Gandeng Pelaku Wisata Koordinasi Intensif Antisipasi Cuaca Ekstrim dan Lonjakan Wisatawan Akhir Tahun 2025, Tiga Wilayah Rawan Bencana

Meski risiko meningkat, Ghifari menyebut DIY tetap diproyeksikan menerima sekitar 1,6 juta wisatawan selama libur akhir tahun, didominasi wisatawan domestik.

"Ini peluang besar, tapi juga tantangan. Kenyamanan dan keselamatan bisa menurun jika cuaca ekstrem tidak diantisipasi," katanya.

Oleh karena itu, Ghifari menegaskan perlunya koordinasi lintas sektor sebelum bencana terjadi, termasuk antara dinas pariwisata, BPBD, Satpol PP, kepolisian, dan pelaku industri pariwisata.

"Jangan koordinasinya setelah kejadian. Ini berbicara mitigasi yang seharusnya dilakukan ketika sudah ada prediksi atau indikasi risiko meningkat. Misalnya, regulasi tentang penutupan sementara destinasi wisata bisa diterapkan sesuai SOP dan dikomunikasikan," tegasnya.

Baca juga: Dinpar DIY Akan Gandeng Pelaku Wisata Koordinasi Intensif Antisipasi Cuaca Ekstrim dan Lonjakan Wisatawan Akhir Tahun 2025, Tiga Wilayah Rawan Bencana

Dalam hal tersebut, ia mencontohkan disiplin koordinasi lintas sektor yang baik terjadi di wilayah Merapi saat ada peningkatan aktivitas erupsi. Meski, menurutnya, kesiapsiagaan terhadap bencana hidrometeorologi seperti banjir dan longsor sehari-hari masih kurang. Ghifari menegaskan bahwa DIY harus membangun citra sebagai destinasi wisata tangguh bencana.

"Dengan ketidakpastian cuaca yang meningkat, pariwisata DIY menghadapi tantangan sekaligus peluang. Yang terpenting adalah kesiapan semua pihak. Kita ingin menunjukkan bahwa DIY bukan hanya destinasi favorit, tetapi juga destinasi yang tangguh,” pungkasnya. 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan Langsung

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

DIY Rawan Longsor dan Banjir Saat Liburan, Pakar UGM Paparkan Peta Risiko Dan Soroti Rendahnya Kesadaran Masyarakat terhadap Peringatan Cuaca

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!