Kapolresta Yogyakarta, Kombes Pol Eva Guna Pandia (tengah). (Olivia Rianjani)
JOGJA - Arus kendaraan dan kunjungan wisatawan di Kota Yogyakarta mengalami peningkatan signifikan selama libur Lebaran 2026. Kondisi ini mendorong kepolisian setempat untuk melakukan penyesuaian kebijakan lalu lintas, termasuk menghentikan sementara program Car Free Night di kawasan Malioboro.
Berdasarkan data Back Office Smart Province per Jumat (20/3/2026) hingga pukul 15.00 WIB, tercatat sebanyak 27.984 kendaraan masuk ke Kota Yogyakarta, sementara 23.407 kendaraan keluar. Tingginya mobilitas ini menunjukkan meningkatnya aktivitas wisata selama masa libur.
Kepadatan lalu lintas terpantau paling tinggi di Simpang Empat Kyai Mojo dengan volume mencapai 17.968 kendaraan. Sementara itu, kawasan Malioboro dipadati wisatawan dengan jumlah mencapai 23.572 orang berdasarkan hasil penghitungan pengunjung.
Kapolresta Yogyakarta, Eva Guna Pandia, mengatakan lonjakan tersebut menjadi dasar pertimbangan dalam pengambilan kebijakan selama periode Lebaran.
"Jadi selama musim Lebaran ini, mulai H+ nanti Car Free Night sementara kita tiadakan, karena sebagian besar wisatawan itu mungkin hanya ingin lewat saja muter melalui jalan Malioboro," ujarnya.
Baca juga: Pustral UGM Singgung Timbunan Sampah Buntut Jutaan Wisatawan Lebaran 2026 Masuk DIY
Menurut Pandia, kebijakan penghentian sementara Car Free Night akan berlaku hingga sekitar 29 Maret 2026. Hal ini dilakukan untuk memberikan kelonggaran akses bagi wisatawan yang ingin menikmati suasana kota.
"Jadi tidak akan ada Car Free Night sampai tanggal 29. Kita mempersilakan kendaraan tetap bisa melintas karena banyak wisatawan hanya ingin menikmati suasana," katanya.
Selain Malioboro, kawasan Ngasem juga menjadi titik perhatian karena kerap mengalami kepadatan, terutama pada pagi hari. Untuk mengantisipasi kemacetan, pihak kepolisian akan melakukan pengaturan arus lalu lintas serta memberikan sosialisasi terkait lokasi parkir.
Dalam hal penegakan hukum, Pandia menegaskan bahwa tilang tetap diberlakukan, baik melalui sistem ETLE maupun manual. Namun, pendekatan yang lebih humanis akan diutamakan selama masa libur Lebaran.
"Kita lebih mengedepankan humanis. Tidak terlalu mengedepankan tilang ETLE maupun manual karena masyarakat sedang liburan bersama keluarga," jelasnya.
Ia pun menekankan pendekatan tersebut diharapkan dapat menjaga kenyamanan wisatawan sekaligus mempertahankan citra Yogyakarta sebagai destinasi wisata yang ramah.
"Harapannya masyarakat merasa nyaman, sehingga nanti akan kembali lagi ke Yogyakarta, karena kita tahu sektor wisata menjadi sumber penting pendapatan daerah," pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung