JOGJA - Dalam rangka memperingati HUT ke-80 TNI, Korem 072/Pamungkas menggelar Lomba Ngamen/Musisi Jalanan Piala Panglima TNI 2025 di Museum TNI AD Dharma Wiratama, Kota Yogyakarta, Minggu (28/9/2025). Kegiatan ini menjadi ruang ekspresi bagi para musisi jalanan di Yogyakarta, sekaligus ajang pencarian talenta untuk tampil di tingkat nasional.
Komandan Korem 072/Pamungkas, Brigjen TNI Bambang Sujarwo, mengatakan bahwa ajang ini merupakan bentuk dukungan TNI terhadap perkembangan seni, khususnya seni musik jalanan, yang selama ini masih minim ruang tampil secara layak.
"Kali ini memang berkaitan dengan HUT TNI ke-80, di mana TNI ikut berpartisipasi mendorong dan memajukan kesenian, khususnya kami di Yogyakarta sebagai kota seni. Rekan-rekan musisi jalanan selama ini mengekspresikan diri di perempatan jalan, dan belum banyak ruang untuk mereka tampil. Maka kami hadir untuk memberikan ruang itu," ujarnya.
Baca juga: Sering Blunder, Pakar UGM Minta Pemerintah Evaluasi Strategi Komunikasi Publik
Brigjen Bambang menambahkan, dua pemenang terbaik dari Yogyakarta akan diberangkatkan ke Jakarta untuk mengikuti babak final Lomba Ngamen Piala Panglima TNI pada 5 Oktober 2025 mendatang.
"Kami akan memfasilitasi akomodasi dan transportasi peserta yang berangkat ke Jakarta. Harapannya, perwakilan dari Jogja bisa tampil maksimal di tingkat nasional," katanya.
Adapun hasil lomba, dimana yang terpilih lima besar musisi terbaik, yaitu:
Rvv Musik Jogja dan Togi Arnantyo dipastikan akan mewakili Korem 072/Pamungkas dalam babak final nasional. Lomba ini merupakan bagian dari seleksi nasional yang digelar di empat kota besar: Yogyakarta, Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Nantinya, para pemenang dari masing-masing wilayah akan tampil di Jakarta untuk memperebutkan Piala Panglima TNI.
Menurut Brigjen Bambang, penyelenggaraan ini tidak lepas dari dukungan para seniman, praktisi musik, akademisi, komunitas musisi jalanan, serta stakeholder UMKM di Yogyakarta.
"Mudah-mudahan ini bisa jadi event tahunan. Tahun depan, tidak menutup kemungkinan pesertanya lebih banyak dan jangkauannya lebih luas. Kami juga sedang diskusikan kemungkinan lokasi yang lebih strategis seperti Malioboro agar lebih dekat dengan masyarakat," imbuhnya.
Selain itu, ia berharap agar masyarakat mulai melihat musisi jalanan sebagai seniman profesional, bukan sekadar pengamen.
"Kalau kita sebut pengamen, seolah mereka kelas bawah. Padahal penampilan mereka tidak kalah dengan musisi besar. Hanya saja, selama ini mungkin belum ada ruang dan waktu yang tepat. Kami berharap kegiatan ini jadi jembatan untuk mereka bisa tampil di panggung nasional," tandasnya.
Baca juga: Dies Natalis ke-79, Fakultas Farmasi UGM Genjot Transformasi Pendidikan dan Standardisasi Inovatif
Kepada dua perwakilan tersebut, Brigjen Bambang menyampaikan pesan khusus kepada para wakil dari Yogyakarta yang akan tampil di Jakarta.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan