Senin, 27 JULI 2026 • 18:25 WIB

Siswa Korban Bullying Nekat Bawa Bom ke Sekolah, Sosiolog UGM: Alarm Keras Sistem Pendidikan Kita

Author

Lokasi kejadian bom rakitan di Padang oleh siswa. (Istimewa)

JOGJA - Peristiwa ledakan bom rakitan di MAN 3 Kota Padang yang melibatkan seorang siswa madrasah kembali menggegerkan publik. Terlebih, aksi nekat pelaku merakit hingga tiga bom dipicu oleh dendam akibat perundungan (bullying) ekstrem yang dialaminya serta terinspirasi dari komunitas siber True Crime Community.

Menanggapi fenomena mengerikan ini, Sosiolog sekaligus Ketua Social Research Center Universitas Gadjah Mada (SOREC UGM), Dr. Andreas Budi Widyanta (Abe), menilai bahwa insiden ini merupakan cerminan dari luka mendalam dalam sistem pendidikan dan lingkungan sosial anak.

Menurut Abe, setiap anak tumbuh dari konstruksi lingkungan di sekitarnya. Ketika seorang anak mengalami trauma batin dan kurang mendapat perhatian, perundungan dari lingkungan akan memicu kemarahan laten yang berisiko meledak sewaktu-waktu.

"Kemudian digunjang dengan bullying oleh dunia sekitarnya, kadangkala oleh teman-temannya. Nah situasi itu tentu membuat anak juga memendam rasa amarah yang tidak semua orang bisa ketahui," ujarnya, Senin (27/7/2026).

Abe menyoroti peran kemajuan teknologi yang kian mengikis peran Tripusat Pendidikan (keluarga, sekolah, dan masyarakat). Akses medsos yang tanpa batas membuat anak-anak rentan terpapar konten kekerasan hingga pornografi.

"Informasi yang serba tidak sehat untuk tumbuh kembang anak itu membuat anak menjadi sebuah alat yang mengabsorpsi, dan bisa jadi justru menginspirasi anak-anak kita untuk mengikuti apa yang dilakukan oleh jejak-jejak kekerasan yang ditinggalkan oleh sosial media," katanya.

Ia menjelaskan bahwa anak-anak memiliki kemampuan mimesis atau meniru. Sayangnya, lembaga seperti Komdigi pun dinilai belum memiliki kapasitas penuh untuk menyaring konten berbahaya secara efektif.

"Kemampuan mimesis yang salah tersebut ialah bentuk kegagalan bagi konstruksi pendidikan dari keluarga, sekolah, dan masyarakat," tegasnya.

Lebih lanjut, Abe menggambarkan bahwa tekanan psikologis pada anak dapat memicu dua jenis ledakan kegagalan sosial, yakni ledakan ke dalam berupa aksi menyakiti diri sendiri (self-harm) hingga bunuh diri, atau ledakan ke luar dalam bentuk aksi kekerasan terhadap orang lain.

Baca juga: Cerita Inspiratif Kristiani: Melawan Trauma Bullying Hingga Keterbatasan Transportasi Demi Gelar Magister UNY

Ia pun mengingatkan agar masyarakat dan pemerintah tidak hanya berfokus pada penanganan keamanan di permukaan seperti penjinakan bom, melainkan menukik ke akar permasalahan.

"Kita gali dari akar persoalan gunung es tentang perilaku anak sekolah yang melakukan ini maka kita perlu menukik ke hal yang lebih dalam merefleksikan kembali bagaimana sistem pendidikan kita dan bagaimana memperkuat budaya dialog bersama anak-anak kita," tutur Abe.

Ia menilai, sistem pendidikan di Indonesia saat ini terlalu menitikberatkan pada capaian kurikulum (knowledge) ketimbang penanaman nilai budi pekerti (value), serta amat minim mengajarkan budaya dialog dan pengelolaan emosi.

"Sejak kecil, kita tidak pernah diajari mengelola emosi itu karena apa? Orang tua maunya yang normatif-normatif saja, kotbah-kotbah moral bahkan dengan dalil-dalil keagamaan kita," jelasnya.

Ketimpangan Peran Guru

Selain itu, Abe menyoroti persoalan perundungan yang berakar dari ketidaksiapan keluarga dan masyarakat dalam menerima perbedaan. Praktik diskriminasi, stereotip, hingga penggunaan identitas agama untuk menghakimi sesama menjadi bibit munculnya bullying di sekolah.

"Saya meyakini bahwa keluarga kita tumbuh di dalam ketidaksiapan akan keberagaman. Perundungan bukan persoalan yang sederhana, melainkan karikatur bentuk masyarakat yang tidak siap dengan keberagaman," ujarnya.

Ia menekankan bahwa agama merupakan ranah pribadi yang tidak boleh disalahgunakan untuk mengintimidasi kelompok lain.

Di sisi lain, Abe menyayangkan masih banyaknya tenaga pendidik yang berfokus pada urusan administratif, sertifikasi, atau sekadar menyerahkan tugas pada teknologi tanpa memiliki ikatan batin dan kepedulian terhadap kondisi emosional murid.

"Agama merupakan urusan privasi antara manusia dengan Tuhan, seharusnya jangan dijadikan alat untuk menginvasi pihak yang berbeda," tegasnya.

Baca juga: Tersangka Kasus Daycare Little Aresha Bertambah Jadi 5 Orang Termasuk 2 Guru TK Terlibat, Ini Kata Polresta Soal Ada Rekonstruksi Lagi

Desak Pendekatan Cura Personalis

Sebagai solusi mendasar, Abe mendesak pemerintah dan lembaga pendidikan untuk menerapkan pendekatan cura personalis yakni pendekatan pendidikan yang memberikan perhatian dan kepedulian secara utuh serta individual kepada setiap anak, bukan dengan cara penyeragaman.

"Untuk memulihkan sistem pendidikan yang sudah bobrok ini memang sangat berat apabila tidak didukung solusi dari berbagai arah. Tantangannya adalah bagaimana tripusat pendidikan dan pemerintah dapat membangun sistem yang lebih cura personalis. Tidak ada treatment yang general dalam pendidikan. Kalau ada penyeragaman, berarti itu bentuk kekerasan," pungkas Abe.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Dikirim Melalui E-mail

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU