Potret Kristiani Tandi Rani. (Istimewa)
JOGJA - Gelar magister biasanya identik dengan kesibukan di perpustakaan atau kenyamanan ruang kelas. Namun bagi Kristiani Tandi Rani, perjalanan meraih gelar S2 di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) justru ditempuh lewat rute yang jauh lebih menantang: menembus arus sungai di pedalaman Kalimantan hingga mengejar jadwal bus Trans Jogja di sela-sela liputan.
Perempuan kelahiran Tana Toraja, 7 Juni 2000 ini baru saja merampungkan studi magister dengan capaian gemilang. Ia berhasil meraih predikat cumlaude dengan IPK 3,89 hanya dalam masa studi 1,5 tahun. Di balik toga tersebut, tersimpan perjalanan hidup yang tidak mudah.
Jauh sebelum pencapaian ini, Kristiani adalah penyintas perundungan (bullying) sejak sekolah dasar hingga SMP. Luka batin yang mendalam sempat membuatnya nyaris mengambil keputusan fatal untuk mengakhiri hidup.
Momen itulah yang menjadi titik balik. Kristiani memberanikan diri terjun ke dunia penyiar radio di RPK FM Tana Toraja, yang perlahan membangkitkan rasa percaya dirinya.
"Obat kedaluwarsa sudah ada di tangan saya waktu itu. Tapi nenek mengetuk pintu kamar. Dari situ saya berpikir, kalau Tuhan masih memberi kesempatan hidup, berarti saya harus mengembangkan bakat yang saya punya," ujarnya, Senin (29/6/2026).
Tantangan kembali datang saat ia memulai karir jurnalistik. Sempat terpuruk karena isu kesehatan serius yang membuatnya nyaris berhenti bermimpi, ia justru bangkit dan menabung semangat untuk melanjutkan S2. Sebuah bantuan tak terduga dari Kepala Dinas Kesehatan saat itu menjadi modal awal pendaftaran kuliahnya.
Saat menempuh pendidikan di UNY, ia harus bekerja di Mahakam Ulu, Kalimantan Timur. Di sana, ia menyulap bekas kantor Dinas Pariwisata menjadi ruang kuliah pribadi.
"Banyak orang hanya melihat saya lulus cumlaude. Padahal, gelar ini lahir dari Mahakam Ulu. Saya kuliah sambil liputan, mengejar sinyal, naik speedboat, menulis tesis di bekas kantor dinas, lalu kembali bekerja. Rasanya benar-benar berdarah-darah," tuturnya.
Si "Jurnalis Trans Jogja"
Setelah pindah ke Yogyakarta untuk menuntaskan tesis, Kristiani tetap teguh pada profesinya. Karena tidak mahir mengendarai sepeda motor, ia mengandalkan Trans Jogja untuk mobilitas liputan. Rekan sesama jurnalis bahkan menjulukinya sebagai "jurnalis busway".
"Julukan itu justru menjadi simbol kebersamaan. Ketika liputan berada jauh dari jangkauan halte, rekan-rekan tidak pernah membiarkan saya berjuang sendiri. Mereka bergantian menjemput dan mengantar," katanya.
Sederet prestasi pun ia torehkan, mulai dari lulus Uji Kompetensi Wartawan (UKW) Muda di usia 23 tahun hingga memenangkan berbagai kompetisi karya tulis jurnalistik nasional. Meski disibukkan dengan kuliah, ia tetap aktif dalam pelayanan di Gereja Mawar Sharon dan organisasi Permata UNY.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Rilis