Megawati Warning Seniman Indonesia Saat Buka Pameran di Bantul :" Daftarkan HAKI Sekarang Sebelum Dicuri Asing!"
JOGJA - Ketua Umum PDI Perjuangan sekaligus Presiden ke-5 RI, Megawati Soekarnoputri, melayangkan kritik tajam terhadap potret regenerasi dunia kesenian di tanah air. Megawati menyoroti minimnya figur maestro seni baru yang mampu menjadi inspirasi sekaligus pembentuk karakter generasi muda Indonesia saat ini.
Hal tersebut disampaikan Megawati saat membuka pameran seni rupa bertajuk "Mata Hati Soekarno" di Le Gareca Space, Kasihan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sabtu (6/6/2026) sore.
"Semakin tua saya, saya betul-betul harus bilang kepada maestro-maestro yang lebih besar. Karena sekarang menurut saya, mohon maaf, mungkin karena didikan kita sekarang sudah tidak ada lagi maestro. Siapa coba? Ayo, tolong diomongkan," ujarnya.
Menurut Megawati, seni bukan sekadar produk visual atau sarana hiburan belaka. Lebih dari itu, seni merupakan instrumen vital dalam membentuk fundamen kemanusiaan serta watak personal. Oleh karena itu, ia mendorong agar pengenalan seni diinternalisasikan sejak usia dini.
"Ibu-ibu yang punya anak, cepat-cepatlah untuk bisa mengajari mereka menari dari umur lima tahun. Seni itu menurut saya membangunkan yang namanya roh kita, menjadi sebuah hal yang sangat baik bagi kemanusiaan," tuturnya.
Sentil Penari Masa Kini
Dalam kesempatan tersebut, putri Proklamator Bung Karno ini juga menceritakan kedekatannya dengan dunia estetika sejak kecil, berkat ekosistem keluarga besarnya yang akrab dengan para kreator dan pemikir kebudayaan.
"Saya sendiri bisa menari Bali, Sunda, Jawa, dan Sumatera. Empat ini saya borong semua. Dari situlah mulai masuk ke dalam diri kami ini yang namanya mengetahui seni," kenang Megawati.
Namun, saat mengamati realitas seni pertunjukan hari ini, Ketua Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) ini melihat adanya pergeseran substansial. Ia menilai banyak penari generasi baru yang hanya menonjolkan aspek teknis namun kehilangan penjiwaan.
"Dulu maestro-maestro yang mengajarkan kepada kami mengajarkan menari dengan rohnya. Jadi rohnya itu juga ikut menari. Sekarang hal seperti itu yang tidak ada," ungkapnya.
Warning Kehilangan Identitas Nasional
Melihat fenomena tersebut, Megawati berharap kantong-kantong kebudayaan seperti sanggar seni dan padepokan dapat terus bertumbuh secara inklusif di tengah masyarakat, bukan hanya dinikmati kelompok tertentu.
"Saya senang sekali kalau terus-menerus ada padepokan yang benar-benar bisa dirasakan manfaatnya bukan oleh kalangan tertentu saja, tapi oleh rakyat seluruhnya," imbuhnya.
Ia pun memperingatkan dampak fatal jika generasi muda terus abai terhadap kesenian tradisi seperti wayang, tari daerah, hingga kesenian rakyat.
"Kalau anak-anak kita sekarang tidak bisa merasakan getaran jiwa yang namanya nasionalisme, itu bahaya. Karena budaya dan seni itu salah satu cara membangun nasionalisme," tegas Megawati.
Kemudian, Megawati juga menaruh perhatian serius pada kepastian hukum para pelaku seni di era global. Ia mendesak para seniman tanah air untuk lebih melek terhadap Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) agar karya otentik Indonesia tidak mudah diakuisisi oleh entitas asing.
"Sekarang HAKI itu sudah masuk ke dalam hukum internasional. Tolong digerakkan seniman-seniman untuk mendaftarkan karya-karyanya. Kalau sudah dicuri, tidak bisa lagi," tandasnya.
Tentang Pameran 'Mata Hati Soekarno'
Pameran seni rupa "Mata Hati Soekarno" ini dijadwalkan berlangsung selama satu bulan penuh, mulai 6 Juni hingga 6 Juli 2026. Berperan sebagai kurator, Suwarno Wisetrotomo menjelaskan bahwa pameran ini memajang karya dari 47 perupa sebagai bentuk refleksi visual atas pemikiran Bung Karno.
Menurut Suwarno, pameran ini menjadi ruang bagi para seniman untuk memanifestasikan dramaturgi kehidupan, ucapan, serta tindakan sang Proklamator.
"Melalui medium rupa, publik di lintas generasi diharapkan dapat menyerap kembali spektrum pemikiran sang Proklamator secara lebih intim dan kontekstual," jelas Suwarno.
Acara pembukaan pameran ini turut dihadiri oleh sejumlah tokoh nasional dan seniman senior, di antaranya Mahfud MD, Ganjar Pranowo, Hasto Wardoyo, Endah Kuntariningsih, Rano Karno, Butet Kartaredjasa, seniman se-DIY, serta warga masyarakat sekitar.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung