Pemula Sampai Profesional Bisa Ikut! UGM Trail Run 2026 Pada September Mendatang Tawarkan Sensasi Lari Malam "Background" Lahar Pijar Merapi
JOGJA - Gelaran lari lintas alam bergengsi yakni UGM Trail Run 2026, bersiap kembali menyapa para pencinta alam dan olahraga. Memasuki tahun keenam penyelenggaraannya, rute utama ajang tahunan dalam rangka memperingati Dies Natalis Universitas Gadjah Mada (UGM) ini bakal dipusatkan di Gelora Hargobinangun, Kaliurang, Sleman, pada 26 September 2026 mendatang.
Tren olahraga lari lintas trail run memang mengalami lonjakan popularitas yang masif di wilayah Yogyakarta sejak diinisiasi komunitas Trail Runners Yogyakarta pada 2019 lalu. Dampak positifnya pun nyata dirasakan pada sektor ekonomi dan pariwisata lokal di lereng Gunung Merapi, seperti kawasan Klangon dan Kali Talang.
Ketua Panitia UGM Trail Run 2026, Budi Susila, mengatakan bahwa ajang ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, kali ini tampil dengan skala yang jauh lebih besar serta konsep yang dirancang lebih mendalam. Serta, tidak hanya sekadar memfasilitasi hobi para pencinta olahraga lari. Pihak panitia berkomitmen memperkuat nilai edukasi dan kepedulian sosial melalui tiga pilar utama, yakni Run, Edu, dan Care.
"Tahun ini tetap kita tingkatkan dan temanya digali lebih dalam lagi. Tema dari event lari UGM Trail Run 2026 ini bukan hanya sekadar lari, tapi kita juga mengusung 3 konsep, yakni Run, Edu, dan Care," ujarnya, dalam jumpa pers di GIK UGM, Sabtu (6/6/2026).
Pada pilar Edu, panitia memberikan pembekalan keselamatan secara bertahap bagi peserta sejak masa prapelaksanaan hingga hari H. Melalui kolaborasi dengan RSUP Dr. Sardjito, para pelari dibekali pelatihan penanganan darurat (emergency rescue). Tidak hanya itu, saat agenda race pack collection dan expo di GIK UGM pada 24 - 25 September 2026, panitia turut melibatkan BMKG serta Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) untuk memberikan edukasi publik.
Sementara pada pilar Care, sebagian uang registrasi dari peserta akan dialokasikan langsung untuk program beasiswa bagi mahasiswa yang membutuhkan. Program ini nantinya diintegrasikan dengan ajang UGM Ultra Charity Run pada Desember mendatang.
Budi menyebutkan, berkaca dari tahun lalu, donasi yang berhasil terkumpul mencapai Rp 500 juta. Tahun ini, panitia membidik angka dua kali lipat lebih besar.
"Tahun ini ditargetkan meningkat hingga dua kali lipat seiring dengan target kepesertaan yang mencapai 4.000 orang," kata Budi.
Netralitas Tanpa Pengawalan ke Pejabat
Di tengah dinamika politik saat ini, panitia menegaskan bahwa UGM Trail Run 2026 sepenuhnya bersifat umum demi menjaga netralitas.
"Kategori ini sepenuhnya untuk umum. Hal ini kami lakukan agar event ini tidak terafiliasi pada satu tokoh tertentu, mengingat situasi geopolitik dan kondisi saat ini. Meskipun setelah mereka mulai lari, kami tidak memberikan pengawalan khusus meskipun dia seorang pejabat, kami tetap berharap tokoh-tokoh yang nanti bergabung bisa memberikan kontribusi positif," tegas Budi.
Rute Baru Jarak Terjauh 77 Km
Kemudian, Race Director UGM Trail Run 2026, Roostian, mengungkapkan bahwa untuk menyesuaikan dengan usia Dies Natalis UGM tahun ini, panitia memperkenalkan kategori rute baru yang menantang dengan jarak terjauh hingga 77 km. Rute ini menggunakan sistem relay (estafet) yang beranggotakan empat pelari, dengan syarat wajib adanya kesetaraan gender dalam tim. Selain kategori tersebut, opsi jarak individu reguler tetap tersedia, mulai dari 7K, 15K, 30K, hingga 50K.
"Rute 77 km ini jalurnya lebih melebar. Selama ini, rute kita mengambil titik start dari Kaliurang, Binangun, lalu menuju ke arah barat ke Bukit Turgo. Dari sana, rute akan mengarah ke timur lagi sampai ke Kali Talang dan kawasan sekitarnya," ujar Roostian.
Untuk mengantisipasi penumpukan pelari atau bottleneck akibat lonjakan jumlah peserta, kata dia, penyelenggara telah menyiapkan strategi mitigasi dengan memperpanjang jalur awal.
"Ini dilakukan guna mengurai kepadatan pelari sebelum mereka memasuki area jalan setapak (trail) yang sempit," katanya.
Baca juga: Idul Adha 1446 H, UGM Serahkan Dua Sapi Limosin 500 Kg ke Masjid Kampus Hingga Desa Se-DIY
Menurut Roostian, daya tarik ajang tahun ini bahkan telah memikat pelari internasional karena telah terverifikasi oleh International Trail Running Association (ITRA). Hingga saat ini, pendaftar asing didominasi oleh pelari asal negara-negara Eropa seperti Belarus dan Ceko, serta perwakilan Asia yang dipimpin oleh pelari asal Jepang.
"Mereka akan bersaing dengan pelari domestik luar kota hingga instansi khusus seperti satuan Kopassus," ucapnya.
Lanjut Roostian menambahkan, untuk kategori jarak jauh (30K, 50K, dan 77K), pelepasan start akan dimulai sejak Sabtu sore dan dini hari secara bertahap. Oleh karena itu, para pelari diwajibkan membawa perlengkapan wajib (mandatory gear) seperti lampu kepala (headlamp) dan jaket pelindung angin (windbreaker).
"Sensasi lari malam di daerah Gunung Merapi itu biasanya khas; agak ada bunyi-bunyi alami, terus ada pemandangan lahar pijar yang turun. Itulah experience yang mungkin tidak ada di mana pun, dan itulah yang kami tawarkan," ungkap Roostian.
Aturan Biaya Protes Rp 500 Ribu
Terkait regulasi biaya protes sebesar Rp 500.000 yang sempat memicu perbincangan di kalangan calon peserta, Roostian meluruskan bahwa aturan tersebut merupakan standar baku kompetisi internasional. Kebijakan ini berfungsi sebagai jaminan mitigasi agar protes dilakukan secara rasional serta menjaga ketertiban kompetisi di zona podium.
"Uang tersebut akan dikembalikan utuh jika protes pelari terbukti benar," tegasnya.
Sementara itu, Wakil Rektor UGM Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Alumni, Dr. Arie Sudjito, menilai UGM Trail Run 2026 telah bertransformasi menjadi ruang inklusif yang menyatukan alumni, komunitas, masyarakat umum, hingga warga dunia.
Lebih dari sekadar ajang olahraga, Arie memandang acara ini memiliki nilai strategis yang lebih luas, yakni sebagai instrumen diplomasi untuk memperkenalkan kekayaan budaya, keramahan, dan keindahan alam Indonesia ke kancah global sekaligus mengikis stigma negatif.
"Apa artinya do care? Mendidik untuk peduli lingkungan, mendidik untuk memahami lokalitas, mendidik untuk memahami kebudayaan. Care untuk membantu, ini yang akan menumbuhkan beasiswa dan sebagainya. Saya rasa, mungkin sekali lagi kita akan support supaya pekerjaan-pekerjaan seperti ini bisa menjadi fungsi diplomasi," jelasnya.
Ia pun menyampaikan apresiasinya terhadap peran penting media massa dan media sosial dalam menyebarluaskan pesan edukatif serta informasi presisi mengenai acara ini secara luas kepada publik.
Kendati demikian, ia menyatakan di tengah situasi global yang penuh dengan tantangan, UGM berharap kegiatan kolaboratif yang melibatkan multisektor ini mampu menyebarkan energi positif yang berdampak nyata, baik bagi kesehatan fisik, ketajaman berpikir, hingga peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan lereng Merapi.
"UGM Trail Run itu bisa menjadi alternatif kita sehat, otak kita sehat, peduli dan kita bisa menjadi alternatif membangkitkan sebuah bangsa di tengah situasi krisis," pungkas Arie.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung