Rabu, 11 MARET 2026 • 13:25 WIB

Dinkes Sleman Siapkan Layanan Kesehatan 24 Jam Selama Libur Lebaran, Salah Satunya Waspadai Risiko Kematian Ibu

Author

Kepala Dinas Kesehatan Sleman, dr. Cahya Purnama, M.Kes. (Olivia Rianjani)

JOGJA - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sleman menyiapkan berbagai langkah untuk memastikan pelayanan kesehatan tetap optimal selama masa libur dan arus mudik Lebaran 2026. Penguatan layanan dilakukan di puskesmas, rumah sakit, hingga sistem kegawatdaruratan untuk mengantisipasi berbagai potensi kejadian kesehatan.

Kepala Dinas Kesehatan Sleman, dr. Cahya Purnama, M.Kes, mengatakan puskesmas dengan layanan rawat inap akan tetap beroperasi selama 24 jam, sementara puskesmas non-rawat inap membuka layanan dari pagi hingga malam.

"Pelayanan di puskesmas tetap kami siapkan. Untuk yang rawat inap buka 24 jam seperti biasa, kemudian yang non rawat inap buka dari jam 07.30 sampai jam 19.00 pada tanggal 18 sampai dengan 24 Maret 2026. Setelah itu tetap ada jadwal piket sesuai standar," ujar Cahya, dalam jumpa pers, di Rumah Dinas Bupati, Selasa (11/3/2026).

Selain itu, Dinkes Sleman juga berkoordinasi dengan Sistem Emergency Services (SES) untuk menangani kondisi kedaruratan yang terjadi secara mendadak.

"Akan ada koordinasi juga dengan SES. Saat ini kita sudah memiliki gedung baru di bekas gedung JNK dan masyarakat bisa menghubungi nomor 0811-2668-900 apabila terjadi kedaruratan mendadak," katanya.

Dinkes Sleman juga meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kejadian luar biasa, seperti keracunan makanan dan penyakit menular yang mungkin muncul saat mobilitas masyarakat meningkat selama libur Lebaran.

"Untuk seluruh rumah sakit kami persiapkan juga untuk P3K maupun P3P guna meningkatkan pencegahan terhadap kejadian luar biasa, baik keracunan makanan maupun penyakit-penyakit menular," jelas Cahya.

Dalam menghadapi kondisi darurat kesehatan ibu dan bayi, tujuh rumah sakit di Sleman disiapkan sebagai fasilitas Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Komprehensif (Ponek). Rumah sakit tersebut meliputi RSUP Sardjito, RSUD Sleman, RSUD Prambanan, RSA UGM, RSKIA Sadewa, RSU Sakinah Idaman, serta RS PKU Muhammadiyah Gamping.

Menurut Cahya, layanan tersebut bertujuan menekan angka kematian ibu dan bayi dengan penanganan yang cepat dan terintegrasi.

"Tujuannya untuk menurunkan angka kematian ibu maupun angka kematian bayi dengan penanganan yang komprehensif, cepat, dan terintegrasi," katanya.

Ia mengungkapkan pada 2025 terdapat sembilan kasus kematian ibu di wilayah Sleman. Salah satu penyebab yang kerap terjadi adalah kehamilan yang tidak direncanakan sehingga ibu tidak melakukan pemeriksaan secara rutin.

"Permasalahan yang sering muncul adalah kehamilan yang tidak dikehendaki. Kadang tidak langsung periksa, tahu-tahu sudah akan melahirkan. Ini yang berbahaya," ungkap Cahya.

Karena itulah, ia mengimbau masyarakat untuk melaporkan kepada puskesmas apabila mengetahui ada ibu hamil, ibu bersalin, atau ibu nifas yang datang dari luar daerah ke wilayah Sleman agar dapat dipantau.

"Kalau ada yang datang ke Sleman dalam kondisi hamil, tolong dilaporkan ke puskesmas supaya bisa kami pantau dan mencegah terjadinya kematian ibu," tegas Cahya.

Selain itu, pengawasan juga dilakukan terhadap ibu yang baru melahirkan karena beberapa kasus kematian justru terjadi pada masa nifas.

"Beberapa kasus kematian terjadi pada masa nifas, setelah melahirkan beberapa hari baru meninggal. Ini yang harus diwaspadai," kata Cahya.

Baca juga: Cabai Merah Sempat Naik 5,76 Persen, Pemkab Sleman Klaim Stok Bahan Pangan Aman dan Kunjungan Pasar Masih Stabil

Sementara itu, Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinkes Sleman, dr. Dedi Aprianto, mengatakan pihaknya telah melakukan koordinasi dengan seluruh rumah sakit dan puskesmas untuk memastikan kesiapsiagaan layanan selama libur Lebaran.

"Untuk libur hari raya ini kami sudah berkoordinasi dengan seluruh perwakilan rumah sakit dan puskesmas di wilayah Sleman terkait kesiapsiagaan kegawatdaruratan," ujarnya.

Menurutnya, wilayah Sleman juga telah didukung armada penanganan darurat serta sistem SES untuk menangani kasus seperti serangan jantung.

"Alhamdulillah di wilayah Sleman kami sudah dilengkapi dengan armada dan juga didukung oleh SES," kata Dedi.

Selain itu, Dinkes Sleman juga melakukan monitoring dan evaluasi (monev) ke seluruh puskesmas, termasuk mendata ibu hamil yang diperkirakan akan melahirkan saat masa cuti bersama Lebaran.

"Kami meminta setiap puskesmas mendata ibu hamil yang HPL-nya bertepatan dengan masa cuti bersama, sehingga bisa dilakukan pemantauan, termasuk ibu-ibu nifas," tegasnya.

Baca juga: Dinpar Sleman Sebut Ekonomi Salah Satu Faktor Kunjungan Wisatawan ke Sleman Saat Lebaran 2026 Diprediksi Turun dan Okupansi Hotel Hanya 60 Persen

Dedi kembali menekankan untuk mendukung pelayanan kesehatan bagi pemudik, tenaga kesehatan juga disiagakan di beberapa titik, termasuk di kawasan Tempel yang menjadi jalur perbatasan.

"Dari koordinasi terakhir, kami juga ditugaskan menyiagakan peralatan untuk penanganan jantung di Tempel yang merupakan wilayah perbatasan,” pungkasnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan Langsung

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU