Kepala Bidang Pemasaran Pariwisata Dinas Pariwisata (Dinpar) Sleman, Kus Endarto. (Olivia Rianjani)
JOGJA - Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman memprediksi jumlah wisatawan yang berkunjung ke destinasi wisata di wilayahnya selama libur Lebaran 2026 mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya.
Kepala Bidang Pemasaran Pariwisata Dinas Pariwisata (Dinpar) Sleman, Kus Endarto, mengatakan pihaknya memperkirakan kunjungan wisatawan ke destinasi di Sleman selama periode libur Lebaran berada pada kisaran 250.000 hingga 400.000 orang. Periode pencatatan kunjungan wisatawan pada libur Lebaran tahun ini dilakukan mulai 14 hingga 29 Maret 2026.
"Kalau dibandingkan tahun lalu ini jelas menurun. Tahun lalu perkiraan kami di angka 300.000 sampai 500.000 kunjungan," ujar Kus Endarto, dalam jumpa pers, di Rumah Dinas Bupati, pada Selasa (10/3/2026).
Menurutnya, ada beberapa faktor yang mempengaruhi turunnya proyeksi kunjungan wisatawan. Salah satunya adalah kondisi ekonomi masyarakat yang sedang melemah.
"Alasan yang kami tentukan adalah satu, kondisi ekonomi ambles. Yang kedua, kebetulan Lebaran jatuh di tengah bulan. Biasanya teman-teman swasta itu gajiannya sekitar tanggal 26, sementara masa pencatatan kunjungan sudah selesai," ucapnya.
Selain itu, faktor kebutuhan lain seperti persiapan biaya pendidikan juga diperkirakan mempengaruhi keputusan masyarakat untuk berwisata.
"Ditambah lagi nanti bulan April sudah mulai ada yang mempersiapkan biaya kuliah anak, sehingga kemungkinan perjalanan wisata menjadi lebih rendah," tuturnya.
Diketahui sebelumnya, pada awal Januari 2026 terjadi lonjakan kunjungan wisatawan yang cukup besar di Sleman. Berdasarkan data pariwisata, pergerakan wisatawan saat itu mencapai lebih dari satu juta kunjungan ke berbagai destinasi.
Namun untuk libur Lebaran tahun ini, Kus Endarto mengaku pihaknya tidak yakin angka kunjungan dapat menyamai periode tersebut.
"Kalau kita lihat, kemungkinan lebih banyak yang lewat saja. Berkaca pada libur Nataru kemarin, jumlah kendaraan yang masuk dan keluar hampir sama," katanya.
Empat Juta Pemudik Diprediksi Hanya Melintas
Selama masa mudik Lebaran, kata dia, diperkirakan sekitar empat juta orang akan melintas di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Namun tidak semuanya akan singgah berwisata.
"Prediksi yang melintas memang sekitar empat juta. Tapi yang benar-benar mampir ke destinasi wisata itu paling maksimal 10 persen," kata Kus Endarto.
Baca juga: Layani 24 Jam Penuh, BAZNAS Sleman Siapkan 40 Masjid Ramah Musafir, Berikut Daftarnya
Ia mencontohkan kondisi serupa terjadi pada libur Natal dan Tahun Baru sebelumnya.
"Nataru kemarin sekitar enam juta yang melintas, tapi yang benar-benar berkunjung ke destinasi wisata di DIY hanya sekitar 1,5 juta. Dari jumlah itu yang paling tinggi Alhamdulillah Sleman hampir satu juta kunjungan," ungkapnya.
Lanjut Kus Endarto menyebut, keterbatasan waktu libur juga dinilai menjadi faktor yang membuat masyarakat tidak banyak melakukan perjalanan wisata.
"Libur Lebaran yang benar-benar umum itu hanya mulai sekitar tanggal 18 Maret, jadi waktunya relatif singkat walaupun ada kebijakan work from anywhere (WFA)," jelasnya.
Wisatawan Jawa Masih Dominasi
Untuk sektor pariwisata, puncak kunjungan wisatawan di Sleman diperkirakan terjadi pada Minggu, 22 Maret 2026.
"Kalau bagi pariwisata, puncaknya tetap nanti di hari Minggu tanggal 22. Setelah itu akan turun landai, bahkan tanggal 24 sudah sangat landai karena banyak yang kembali ke daerah masing-masing," kata Kus Endarto.
Mayoritas wisatawan yang datang diperkirakan masih berasal dari Pulau Jawa. Adapun destinasi Favorit Wisatawan ke Sleman, jika berdasarkan data sementara hingga 9 Maret 2026, pergerakan tercatat 955.748 kunjungan, dengan 98,93 persen merupakan wisatawan nusantara. Beberapa destinasi yang menjadi pilihan utama wisatawan seperti kawasan candi yang dikelola PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko dengan kontribusi kunjungan sekitar 23,32 persen, kemudian lava tour Merapi sebesar 15,34 persen, serta kawasan wisata Kaliurang sekitar 9,74 persen.
"Wisatawan kemungkinan 95 persen dari Pulau Jawa, terutama dari Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat karena aksesibilitasnya lebih mudah,” ujarnya.
Wisatawan Terjebak Akomodasi Tak Berizin
Sementara itu, lanjut Kus Endarto, tingkat hunian hotel selama periode libur Lebaran diperkirakan berada pada kisaran 45 hingga 60 persen.
"Okupansi hotel kita perkiraannya ada di antara 45 sampai maksimal 60 persen," imbuhnya.
Namun menurutnya, angka tersebut belum tentu menggambarkan kondisi sebenarnya karena banyak wisatawan memilih menginap di akomodasi yang tidak berizin.
"Kecenderungannya sekarang orang mencari yang murah dan akhirnya terjebak pada akomodasi yang tidak berizin. Sementara okupansi yang tercatat hanya dari hotel yang memiliki izin," ujarnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung