Sebut Lahan Sawah di Sleman Turun 3.000 Hektare Sejak 2018, Tapi Lahan Pertanian Pekarangan Justru Bertambah, Pemkab Akan Lakukan Ini
JOGJA - Lahan pertanian sawah di Kabupaten Sleman terus mengalami penyusutan dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2018, luas lahan sawah tercatat sekitar 18.000 hektare, sementara pada 2024 tersisa sekitar 15.000 hektare atau berkurang sekitar 3.000 hektare.
Plt Kepala Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Kabupaten Sleman, Rofiq Andriyanto, mengakui penyusutan lahan tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi upaya pengembangan sektor pertanian.
"Ini menjadi permasalahan karena mau membesarkan sektor pertanian tapi butuh lahan," ujarnya, dalam jumpa pers di Kantor Dinas Pertanian Sleman, pada Selasa (3/3/2036).
Menurutnya, persoalan alih fungsi lahan telah disampaikan kepada pimpinan daerah. Namun di sisi lain, pemerintah tetap harus membuka ruang bagi investasi.
"Kesimpulan yang pasti, bahkan kalau dari pimpinan menyampaikan tetap harus ada ruang untuk investasi masuk di kampung. Kalau saya ya sudah, kita akan menanam ke dalam, jadi pertanian jalan juga investasi jalan," katanya.
Karena itulah, pihaknya telah berulang kali berkoordinasi dengan pemerintah kapanewon untuk menahan laju alih fungsi lahan pertanian ke non-pertanian.
"Kesimpulan yang pasti, bahkan kalau dari pimpinan menyampaikan tetap harus ada ruang untuk investasi masuk di kampung. Kalau saya ya sudah, kita akan menanam ke dalam, jadi pertanian jalan juga investasi jalan. Kami sudah berulang kali koordinasi dengan temen-temen di Kapanewon," jelasnya.
Produksi Beras Masih Aman
Meski luas lahan menyusut, Rofiq memastikan produksi beras Sleman masih dalam kondisi aman untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Pada 2025, produksi beras Sleman diperkirakan mencapai 135.103,56 ton, dengan jumlah penduduk sekitar 1,2 - 1,3 juta jiwa. Sementara kebutuhan konsumsi beras masyarakat hanya sekitar 74.900 - 75.000 ton per tahun.
"Sehingga saya masih punya sisa 60.000 ton yang bisa kita salurkan ke wilayah yang lain. Karena jumlah penduduk masih 1,2 atau 1,3. Artinya, kalau dari sisi pangan pokok dan beras kita aman, kita aman insya Allah," ungkapnya.
Untuk 2026 sendiri, produksi diprediksi sedikit menurun menjadi sekitar 132.980,2 ton. Namun dengan estimasi konsumsi tetap di kisaran 75.000 ton, Sleman dinilai masih surplus.
"Kami tidak menutup kemungkinan bahwa tetap ada pergeseran luas ke bawah. Tapi dengan konsumsi mungkin 75.000 ton kita tetap masih cukup di 2026 ini," ujarnya.
Ia bahkan menyebut, jika luas sawah tinggal 10.000 hektare sekalipun, kondisi tersebut masih akan impas dalam proyeksi 30 tahun ke depan selama tidak ada pengurangan signifikan.
"Artinya, kalau dari sisi pangan pokok dan beras kita aman, kita aman insya Allah," ucap Rofiq.
Fokus Pangan Lokal dan Pekarangan
Dinas Pertanian kini, kata Rofiq, mendorong penguatan pangan lokal melalui program pertanian terpadu dan pemanfaatan pekarangan. Program tersebut dikenal sebagai konsep mixed farming atau pertanian terpadu, yang di tingkat provinsi populer dengan istilah "Lumbung Mataraman".
"Nah, yang kita dorong memang bukan ke arah beras, kita mencoba untuk pangan-pangan lokal yang semakin dilupakan," katanya.
Menurutnya, saat ini terdapat sekitar 600 Kelompok Wanita Tani (KWT) yang menjadi motor penggerak pangan lokal di Sleman. Ke depan, seluruh kelompok yang ada ditargetkan aktif dalam pengembangan pekarangan produktif.
"Kegiatan ini memang lebih kepada pekarangan yang ada di sekitar wilayah Kabupaten Sleman. Sawah kita semakin berkurang, tapi setelah saya intip dari teman-teman Tata Ruang bahwa pekarangan yang ada di Kabupaten Sleman itu malah bertambah luas," jelasnya.
Produktivitas pekarangan memang tidak sebesar sawah. Jika rata-rata produktivitas sawah mencapai 6,1 - 6,2 ton per hektare, maka pekarangan diperkirakan hanya sekitar 3 ton per hektare.
Maka, dengan potensi lahan pekarangan sekitar 15.000 - 20.000 hektare dan asumsi sepertiganya dimanfaatkan, produksi tambahan bisa mencapai sekitar 24.000 ton per tahun.
"Dan luar biasa untuk menambah cadangan kita melalui lahan-lahan pekarangan," ucap Rofiq.
Regenerasi Petani
Disamping itu, Rofiq juga menyoroti minimnya minat generasi muda di sektor pertanian.
"Kendalanya kalau di pertanian jarang anak muda yang terjun ke situ alias rata-rata sudah sepuh-sepuh," ujarnya.
Sebagai solusi tersebut, pihaknya memberikan fasilitasi pendidikan gratis bagi anak petani melalui Politeknik Pembangunan Pertanian, serta membuka peluang magang pertanian ke luar negeri seperti Taiwan dan Korea.
Selain itu, Dinas Pertanian juga bekerja sama dengan BPJS Ketenagakerjaan untuk memberikan perlindungan bagi petani, khususnya operator alat dan mesin pertanian.
"Untuk 2026 kita jamin sampai 12 bulan. Tahun kemarin kita mendapat CSF untuk 1.560 orang dan ke depan akan terus kita lanjutkan karena semakin modern dunia pertanian, risiko juga semakin tinggi," pungkas Rofiq.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung