Rabu, 04 MARET 2026 • 13:30 WIB

Sebut Kualitas Air Belum Capai Target Karena Masih ditemukan Limbah Ternak Jadi Titik Pembuangan Sampah, Ini Langkah yang dilakukan DLH Sleman

Author

Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sleman, Sugeng Riyanta. (Olivia Rianjani)

JOGJA - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sleman mencatat Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKL) tahun 2025 melampaui target. Namun, komponen Indeks Kualitas Air (IKA) masih belum mencapai angka yang ditetapkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD).

Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sleman, Sugeng Riyanta, mengatakan secara kumulatif IKL Kabupaten Sleman tahun 2025 telah melampaui target.

"Indikator kinerja di Pemerintah Kabupaten Sleman adalah kualitas lingkungan hidup atau IKL dimana IKL-nya kita ditargetkan di tahun 2025 kemarin sebenarnya sudah tercapai ditarget. Nilai kualitas lingkungan hidup ini ditargetkan 67, realisasi di tahun 2025 sudah tercapai 72,37," ujarnya, dalam jumpa persnya di Kantor Dinas Pertanian Sleman, pada Selasa (3/3/2026).

Menurut Sugeng, IKL terdiri dari tiga komponen, yakni indeks kualitas air, indeks kualitas udara, dan indeks kualitas lahan. Untuk udara dan lahan, kondisinya masih tergolong baik. Namun indeks kualitas air masih perlu ditingkatkan.

"Kalau yang indeks udara dan lahan Kabupaten Sleman angkanya masih aman artinya statusnya masih baik. Tetapi kita masuk di indeks kualitas air ini kemarin dari target yang dipasang 75 angka indeksnya ini hanya tercapai 72,37. Jadi masih ada 3 poin yang harus kita kejar biar mencapai nanti target untuk indeks kualitas air," katanya.

DLH Sleman telah melakukan inventarisasi dan identifikasi sumber pencemar di 11 ruas sungai yang diuji kualitas airnya, masing-masing di tiga titik, yakni hulu, tengah, dan hilir.

"Dari sebelas ruas sungai ini memang dari hasil uji kualitas airnya banyak parameter yang masih melebihi standar ini terutama dalam bakteri e-coli. Nah inilah sebagai faktor kenapa indeks kualitas air di Kabupaten Sleman ini belum bisa tercapai," ungkap Sugeng.

Sebelas sungai yang diuji diantaranya Sungai Winongo, Sungai Code-Boyong, dan Sungai Opak, termasuk anak-anak sungainya di wilayah urban Sleman. DLH juga menemukan masih adanya titik-titik pembuangan sampah liar di sejumlah lokasi.

"Kemudian kita masih menjumpai beberapa tempat dalam tanda kutip tempat pembuangan sampah. Banyak sekali bermunculan di beberapa titik," katanya.

Sugeng menambahkan, sumber pencemaran juga berasal dari limbah domestik, kegiatan pariwisata, perhotelan, rumah sakit, klinik, rumah makan dan restoran, hingga sektor pertanian dan peternakan.

"Ternyata dari hasil inventarisasi kami dari sumber-sumber ini banyak sekali yang bersumber dari kegiatan misalnya kegiatan pariwisata, ada kegiatan perhotelan ini membuang di sungai juga meskipun sudah kita lakukan dari sisi pengawasan," bebernya.

Meski demikian, Sugeng menyebut pengawasan terhadap hotel relatif lebih mudah karena umumnya telah dilengkapi dokumen lingkungan dan instalasi pengolahan air limbah (IPAL).

"Kalau selama ini yang hotel-hotel yang sudah melengkapi dengan instalasi pengolah air limbah sudah bagus kinerjanya. Mereka kan punya kewajiban rutin melaporkan setiap 6 bulan sekali. Nah di situlah kita lihat," terangnya.

DLH Sleman, lanjut Sugeng, rutin melakukan pengawasan terhadap laporan tersebut. Jika ditemukan parameter melebihi baku mutu, maka akan dilakukan tindak lanjut. Parameter yang diawasi antara lain pH, BOD, COD, TSS, nitrat, nitrit, serta total coliform.

"Ketika teman kami lakukan pencermatan terhadap laporan itu, ketika itu melebihi standar baku mutu kita lakukan ini menjadi target untuk pengawasan kami. Kemudian nanti kita adakan tindakan untuk perbaikannya," tegasnya.

Selain sektor usaha, kontribusi signifikan terhadap pencemaran sungai juga diduga berasal dari sektor peternakan, khususnya kandang komunal.

"Parameter yang sangat signifikan itu adalah parameter koli atau koli (e-coli) tinja. Itu yang bersumber dari tinja manusia maupun hewan itu mempengaruhi parameter total koli ini yang cukup signifikan," kata Sugeng.

Ia pun menyebut, ternak sapi maupun babi memiliki kontribusi terhadap penurunan kualitas air sungai.

"Kandang komunal datanya kemarin dari teman-teman forum itu banyak. Ternak sapi, kemudian ada juga, mohon maaf mungkin babi sensitif saya kan bilang babi ini. Iya itu punya kontribusi terhadap penurunan kualitas air sungai," ungkap Sugeng.

Tak hanya itu, penggunaan pupuk kandang yang belum matang juga berpotensi meningkatkan kadar bakteri di aliran sungai.

"Penggunaan pupuk yang barangkali belum masak ya. Pupuk kandang yang belum masak ini kan juga sumber koli. Sehingga langsung ditabur begitu saja sehingga akan mempengaruhi larinya ke sungai," imbuh Sugeng.

Karena itulah, DLH Sleman membentuk Forum Komunitas Sungai Sleman (FKSS) sejak delapan tahun lalu. Hingga kini telah terverifikasi 31 komunitas sungai, meski masih ada enam kapanewon yang belum membentuk forum serupa.

"Kita sudah membentuk forum Komunitas Sungai Sleman delapan tahun yang lalu dan komunitasnya di Kabupaten Sleman ini sudah terbentuk kemarin terverifikasi ada 31 komunitas," ujar Sugeng.

Baca juga: DIY diprediksi Banjir Sedang Hingga Menengah Maret Ini, Pemkab Sleman Terbitkan Dua SK Darurat

Komunitas tersebut dilibatkan dalam kegiatan bersih sungai, edukasi lingkungan, penghijauan sempadan, serta inventarisasi sumber pencemar.

"Kegiatan bersih-bersih sungai ini juga kita lakukan dan difasilitasi oleh APBD Sleman. Kemudian melakukan edukasi terkait dengan lingkungan. Kemudian juga ada kegiatan penghijauan di sempadan sungai," katanya.

Namun Sugeng menegaskan, upaya peningkatan kualitas air sungai tidak bisa dilakukan DLH sendiri, melainkan perlu kolaborasi lintas perangkat daerah.

"Ini tidak bisa DLH sendiri dalam hal untuk bisa mengendalikan, menurunkan atau meningkatkan kualitas air sungai ini. Ini harus kolaborasi, koordinasi dengan perangkat daerah yang lain bersama-sama bagaimana kita memperbaiki kualitas air sungai ini," tegasnya.

Baca juga: Paling Banyak di Sleman, Disnakertrans DIY Ungkap Belum Ada Aduan THR 2026 Tapi Catat 11 Perusahaan Kena Sanksi Tahun Lalu

Saat ini, langkah yang ditempuh masih pada tahap koordinasi, khususnya dengan sektor pertanian terkait penggunaan pupuk dan pengelolaan limbah ternak.

Sehingga, Sugeng berharap melalui pengawasan rutin, penguatan komunitas sungai, serta kolaborasi lintas sektor, target indeks kualitas air sebesar 75,43 dapat tercapai pada tahun-tahun mendatang.

"Kita masih di tahap koordinasi. Mudah-mudahan ada langkah berikutnya," pungkasnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan Langsung

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU