JOGJA - Pondok pesantren (PP) di Kota Yogyakarta kini ikut ambil bagian dalam mendukung Gerakan Masyarakat Jogja Olah Sampah (Mas JOS). Langkah ini menjadi wujud nyata kepedulian lembaga pendidikan keagamaan dalam menciptakan lingkungan yang bersih sekaligus mendorong pengelolaan sampah secara optimal.
Walikota Yogyakarta Hasto Wardoyo, menyampaikan bahwa pondok pesantren memiliki budaya gotong royong yang sejalan dengan semangat Segoro Amarto, yakni kebersamaan dan kepedulian terhadap lingkungan.
"Pondok pesantren ini kan setiap hari memproduksi sampah, termasuk sampah organik dari makanan, sehingga pengelolaan sampahnya harus dipikirkan. Untuk PP Kotagede Hidayatul Mubtadi-ien ini baru dibuat biopori, sehingga harapannya pengolahan sampah bisa selesai di lingkup pondok,” ujar Hasto, belum lama ini dalam rangkaian Peringatan Hari Santri Nasional.
Hasto juga menegaskan, kegiatan reresik atau bersih-bersih di pondok pesantren harus dijadikan budaya bersama. Menurutnya, kebersihan adalah bagian dari iman yang perlu diwujudkan tidak hanya oleh santri dan pengasuh pondok, tetapi juga warga sekitar.
"Ini juga bagian dari kampanye Mas JOS. Saya mengapresiasi kegiatan ini, selain menjaga kebersihan juga membangun ukhuwah yang baik antara pondok secara internal dengan masyarakat,” tuturnya.
Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Yogyakarta, Ahmad Shidqi, mengatakan bahwa momentum Hari Santri Nasional dimanfaatkan untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam pengelolaan sampah.
“Kegiatan hari ini dilakukan di lima titik yaitu PP Kotagede Hidayatul Mubtadi-ien, Timoho Minhajut Tamyiz, Al Barokah, Bener, dan Al Islam. Ini bentuk nyata bagaimana semua lapisan masyarakat bersama-sama menyukseskan gerakan Mas JOS untuk menangani sampah di Kota Yogyakarta,” jelasnya.
Dari pihak pondok, Perwakilan Pengurus PP Kotagede Hidayatul Mubtadi-ien, Minan Nurrohman, mengungkapkan bahwa pihaknya telah menerapkan sistem pemilahan sampah menjadi anorganik, organik, dan residu. Namun, pengelolaan sampah organik masih menjadi tantangan tersendiri.
“Kami sudah mendapatkan edukasi melalui gerakan Mas JOS ini, terutama soal pengelolaan sampah organik. Ternyata tidak semua sisa makanan bisa masuk ke biopori, karena sisa makanan berlemak, berminyak, atau mengandung tulang dapat menghambat proses penguraian dan menimbulkan bau tidak sedap,” terangnya.
Baca juga: Atasi Kemiskinan, Sleman Gencarkan Program “Satu Keluarga Miskin Satu Sarjana”
Minan menambahkan, pihaknya berkomitmen untuk terus menjaga kebersihan dan mengoptimalkan pengelolaan sampah di lingkungan pesantren.
“Kami akan terus bersinergi dengan Pemkot, Kemenag, dan masyarakat sekitar untuk mendukung gerakan Mas JOS. Harapannya, pondok pesantren bisa menjadi contoh bagi masyarakat dalam mewujudkan lingkungan yang bersih dan sehat,” pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Keterangan Pers