Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Selasa, 02 JUNI 2026 • 18:02 WIB

Dugaan Korban Malpraktik : Ibu Balita Asal Bantul Beberkan Detik-Detik Anaknya Meninggal Usai CT Scan di RSUD Prambanan

Dugaan Korban Malpraktik : Ibu Balita Asal Bantul Beberkan Detik-Detik Anaknya Meninggal Usai CT Scan di RSUD PrambananIbu korban dugaan malpraktik RSUD Prambanan Sleman, Anastasia Niken Purwandari (36). (Olivia Rianjani)

JOGJA - Kasus dugaan kelalaian atau malpraktik medis yang menimpa seorang balita berusia 3 tahun 11 bulan asal Piyungan, Bantul, di RSUD Prambanan terus bergulir di ranah hukum. Pihak keluarga korban kini blak-blakan mengungkap kronologi memilukan sebelum buah hati mereka dinyatakan meninggal dunia.

Anastasia Niken Purwandari (36), ibu kandung korban, mengatakan bahwa anak keduanya tersebut datang ke rumah sakit dalam kondisi yang sangat sehat, aktif, dan ceria. Tidak ada indikasi sakit ataupun keluhan fisik sebelum tindakan medis dilakukan.

Menurut Niken, sebelum anaknya menjalani prosedur computed tomography scan (CT scan) dan diberikan sedasi (obat penenang), bocah malang tersebut bahkan masih sempat bermain dan makan dengan lahap di area rumah sakit.

"Dia tuh sehat, dia nggak sakit, dia masih bermain disitu, masih makan juga. Waktu sebelum tindakan itu dia sehat, tapi setelah tindakan itu sampe dia gak sakit, dia gak ada keluhan apapun," ujarnya kepada wartawan saat ditemui di Mapolda DIY, Selasa (2/6/2026).

Keceriaan sang anak, kata Niken, bahkan masih terlihat jelas ketika tim medis memasangkan alat infus di ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD). Korban sama sekali tidak menunjukkan rasa takut, menangis, atau rewel.

"Terus waktu dipasang alat untuk dimasukin dia masih ceria, dia masih bercanda sama saya. Jadi sama sekali dia tuh gak sakit. Pas waktu dipasang alat infusnya itu yang buat suntikan itu, dia masih tetap tidak takut, dia masih tetap ceria, sempat saya becandain dia masih ketawa," kenang Niken.

"Terus keluar dari ruang IGD pun waktu sudah habis dipasang itu dia tidak nangis, dia masih tetap sehat ceria. Setelah itu dia masih minta makanan, masih makan seperti biasa, tidak ada yang berubah," sambungnya.

Menurutnya, aktivitas normal dan kondisi ceria tersebut terus bertahan hingga korban berada di ruang radiologi untuk mengantre giliran pemeriksaan.

"Dia di ruang radiologi pun dia juga masih makan, dikasih makanan orang itu juga dia masih dimakan, masih lihat HP, lihat TV, itu masih aktivitas seperti biasa. Perubahannya itu setelah dia itu masuk CT scan baru semuanya berubah," kata Niken.

Kronologi di Ruang Radiologi

Lanjut Niken menjelaskan, pemeriksaan CT scan ini bermula dari evaluasi lingkar kepala anaknya pada bulan April yang menunjukkan indikator berada di garis merah. Atas rekomendasi dokter, pihak keluarga menyetujui tindakan CT scan tersebut.

Namun, situasi di dalam ruang radiologi berubah drastis menjadi menegangkan. Korban diketahui menerima suntikan obat penenang melalui cairan infus sebanyak tiga kali, dengan jeda waktu masing-masing satu jam.

"Masuk ruang CT scan itu setengah sebelas lebih. Masuk ruang CT scan, disitu sudah mulai proses penyuntikan itu sampai tiga kali suntikan ada selang satu jam, selang satu jam. Dia diberi suntikan lewat alat infus itu disitu tiga kali. Disitu saya mendampingi anak saya, setelah anak saya tidur saya baru keluar. Setelah saya keluar itu, saya tidak tahu di dalam dokter melakukan apa," beber Niken.

Niken mengaku masih mengingat momen-momen terakhir saat anaknya mulai merasa tidak nyaman, tepatnya setelah menerima dosis suntikan yang kedua. Korban yang awalnya ceria tiba-tiba berubah menjadi rewel dan terus meminta pulang karena merindukan kakaknya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan Langsung

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Dugaan Korban Malpraktik : Ibu Balita Asal Bantul Beberkan Detik-Detik Anaknya Meninggal Usai CT Scan di RSUD Prambanan

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!