Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Selasa, 17 MARET 2026 • 18:25 WIB

Kasus Campak Meningkat Jelang Mudik Lebaran 2026, Pakar UGM Minta Warga Waspada :"Ini Alarm"

Kasus Campak Meningkat Jelang Mudik Lebaran 2026, Pakar UGM Minta Warga Waspada : Ini AlarmIlustrasi anak kena campak. (Istimewa)

JOGJA - Menjelang arus mudik Lebaran, masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap penularan penyakit campak, terutama pada anak-anak. Peningkatan kasus dilaporkan terjadi di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam beberapa waktu terakhir.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan DIY, dr. Ari Kurniawati, mengungkapkan hingga minggu ke-9 tahun 2026 tercatat sebanyak 73 kasus campak terkonfirmasi. Angka ini meningkat sekitar 5,6 kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

"Sebagian kasus juga terjadi pada bayi di bawah sembilan bulan yang belum cukup umur untuk mendapatkan imunisasi,” ujar Ari dalam talkshow daring TropmedTalk bertajuk "Kasus Campak Naik Jelang Mudik, Haruskah Kita Panik?", Selasa (17/3/2026).

Menurut Ari, kelompok usia yang paling banyak terdampak adalah anak-anak usia 2 hingga 9 tahun. Kondisi ini menjadi perhatian karena mobilitas masyarakat diperkirakan meningkat saat musim mudik.

Baca juga: Mengenal Aplikasi "Westa", Karya Dosen UGM Kembangkan Sistem AI Ini untuk Pengolaan Sampah

Dosen Departemen Ilmu Kesehatan Anak FK-KMK UGM, dr. Ida Safitri Laksanawati, Sp.A(K), menjelaskan bahwa kerentanan terhadap campak tidak hanya terjadi pada anak-anak, tetapi juga orang dewasa. Ia menekankan pentingnya kelengkapan vaksinasi Measles and Rubella (MR).

"Ini menjadi alarm bagi kita. Ketika cakupan MR2-nya tidak optimal, dalam rentang waktu lima tahun ke depan, kadar antibodi orang yang sudah divaksinasi tersebut akan menurun signifikan," tegasnya.

Ia menambahkan, meskipun cakupan vaksinasi dosis pertama di DIY telah mencapai lebih dari 95 persen, cakupan dosis kedua masih sekitar 90 persen. Ketimpangan ini dinilai dapat mengganggu terbentuknya kekebalan kelompok.

Lebih lanjut, Ida mengimbau masyarakat untuk tidak panik, tetapi tetap meningkatkan kewaspadaan dengan persiapan matang sebelum bepergian.

"Perhatikan di mana kasus itu menyebar, dan dengan siapa akan bepergian. Terutama dengan anggota keluarga dengan usia yang berisiko, misalnya bayi usia 6 bulan, tentu belum mendapatkan vaksin campak. Kalau tidak begitu penting, jangan diajak berkerumun," ujarnya.

Baca juga: Emak-emak Curhat ke Menkeu di Pasar Beringharjo, Minta Program MBG Dihentikan :"MBG Nggak Adil Pak"

Sementara itu, Dosen Departemen Biostatistik, Epidemiologi dan Kesehatan Populasi FK-KMK UGM, dr. Risalia Reni Arisanti, MPH, menyoroti bahwa penularan campak kerap terjadi tanpa disadari, terutama di lingkungan keluarga. 

Ia menyebut gejala awal campak sering menyerupai penyakit lain seperti demam berdarah, sehingga masyarakat kerap tidak segera menyadari risiko penularan.

"Masing-masing dari kita diharapkan dapat bersikap bijaksana. Begitu merasa tidak enak badan, langkah pertama adalah memakai masker dan membatasi interaksi guna mencegah penularan," pungkasnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Dikirim Di Grup WA

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Kasus Campak Meningkat Jelang Mudik Lebaran 2026, Pakar UGM Minta Warga Waspada :"Ini Alarm"

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!