Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Jumat, 09 JANUARI 2026 • 17:00 WIB

Menkes: Pembangunan CMU RSUP Dr. Sardjito Jogja Cara Konkret Tekan Warga Berobat ke Luar Negeri

Menkes: Pembangunan CMU RSUP Dr. Sardjito Jogja Cara Konkret Tekan Warga Berobat ke Luar NegeriMenteri Kesehatan (Menkes) RI Budi Gunadi Sadikin saat ditemui usai acara peletakan batu pertama pembangunan Gedung Central Medical Unit (CMU) RSUP Dr Sardjito, DIY, Kamis (7/1/2026). (Olivia Rianjani)

JOGJA - Menteri Kesehatan Republik Indonesia (Menkes RI) Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa pembangunan Central Medical Unit (CMU) di RSUP Dr. Sardjito, Yogyakarta, merupakan langkah konkret pemerintah untuk meningkatkan kualitas layanan kesehatan dalam negeri sekaligus menekan angka masyarakat Indonesia yang memilih berobat ke luar negeri.

Hal tersebut disampaikan Menkes Budi saat menghadiri acara groundbreaking pembangunan gedung CMU RSUP Dr. Sardjito, Kamis (8/1/2026). Menurutnya, pembenahan infrastruktur rumah sakit menjadi salah satu kunci utama untuk membangun kepercayaan masyarakat terhadap layanan kesehatan nasional.

"Salah satu yang penting adalah kita benar-benar memperbaiki infrastruktur sarana-prasarana. Kondisi di hampir seluruh rumah sakit Kemenkes itu perencanaannya tidak pernah rapi, tumpang tindih di mana-mana, seperti ada tanah kosong langsung dibangun," ujarnya kepada wartawan usai acara.

Ia mengakui, persoalan perencanaan fasilitas rumah sakit di Indonesia masih menjadi pekerjaan rumah besar. Budi pun membandingkan tata kelola pembangunan rumah sakit di Tanah Air dengan sejumlah negara maju.

"Kalau kita jalan-jalan ke luar negeri, ke Singapura atau New York, itu langsung terasa pembangunannya jauh lebih rapi dan tertata," ucapnya.

Menurut Budi bahwa pembangunan CMU di RSUP Dr. Sardjito merupakan bagian dari upaya memperbaiki kualitas layanan kesehatan, khususnya bagi masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya, agar tidak perlu lagi mencari pengobatan ke luar negeri.

Namun, ia menegaskan bahwa pembangunan fisik saja tidak cukup untuk menjawab tantangan sektor kesehatan nasional. Peningkatan kualitas sumber daya manusia, terutama tenaga medis dan tenaga kesehatan, juga harus menjadi prioritas.

"Saya titip, selain meningkatkan sarana-prasarana, juga harus meningkatkan dokter-dokternya. Bukan hanya dari sisi jumlah dan keterampilan medis, tapi juga kemampuan non medisnya," tegas Budi.

Lebih lanjut, ia menyampaikan masyarakat tidak hanya membutuhkan dokter yang kompeten secara klinis, tetapi juga tenaga medis yang mampu berkomunikasi dengan baik dan memiliki empati terhadap pasien.

"Masyarakat itu butuh dokter yang bisa komunikasi, yang empati, yang mau mendengarkan, yang memberikan waktu. Jadi pasien merasa dirawat dan diperhatikan," jelasnya.

Budi juga mengungkapkan, salah satu alasan utama masyarakat Indonesia memilih berobat ke luar negeri bukan semata karena fasilitas atau biaya, melainkan karena pengalaman pelayanan yang mereka rasakan.

"Orang ke luar negeri itu bukan hanya soal fasilitas dan harga, tapi karena mereka merasa lebih ‘diwongke’ sebagai pasien, didengarkan, merasa nyaman, dan percaya bahwa perawatannya yang terbaik," terangnya.

Ia pun mengakui bahwa hingga saat ini fenomena warga Indonesia yang berobat ke luar negeri masih terjadi dan jumlahnya masih cukup besar. Kondisi tersebut, kata Budi, menjadi tantangan serius bagi pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan di sektor kesehatan.

"Masih ada, masih banyak. Itu tantangan buat kita," katanya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Doorstop

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Menkes: Pembangunan CMU RSUP Dr. Sardjito Jogja Cara Konkret Tekan Warga Berobat ke Luar Negeri

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!