JOGJA - Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin melontarkan candaan kepada Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X saat menghadiri acara groundbreaking pembangunan Central Medical Unit (CMU) RSUP Dr. Sardjito, Yogyakarta, Kamis (8/1/2026).
Kelakar tersebut disampaikan Budi ketika memaparkan rencana transformasi besar RSUP Dr. Sardjito yang tertuang dalam master plan jangka panjang hingga tahun 2040. Master plan ini, menurut Budi, menjadi yang pertama rampung dan disetujui sejak Kementerian Kesehatan mewajibkan seluruh rumah sakit menyusun perencanaan terpadu mulai akhir 2022.
"Waktu saya menghadap Ngarsa Dalem (Sultan HB X), saya sampaikan rencananya sampai 2040. Beliau malah tertawa. Saya ini baru masuk lansia di atas 60 tahun, tapi Ngarsa Dalem bilang, 'Ini mah usia anak saya’," ujarnya disambut tawa para undangan.
Menkes Budi juga mengaku sempat memikirkan siapa yang akan meresmikan proyek-proyek tersebut jika seluruh rencana baru terealisasi pada 2040. Karena itu, Kementerian Kesehatan berkomitmen mempercepat pembangunan agar sebagian besar proyek bisa diresmikan sebelum masa jabatannya berakhir pada 2029.
"Sebagai Kementerian Kesehatan, kami akan merasa sukses kalau Ngarsa Dalem usianya minimal sama seperti Queen Elizabeth. Kepalanya harus kepala 9, syukur-syukur kepala 100," ucapnya.
Ia bahkan menyebut, apabila Sri Sultan tidak mencapai usia tersebut, maka dirinya merasa gagal sebagai Menteri Kesehatan. Budi pun secara khusus meminta Direktur Utama RSUP Dr. Sardjito agar memastikan Sri Sultan mendapatkan perawatan terbaik.
"Kalau sampai tidak tercapai, saya merasa gagal menjaga kesehatan tamu sekaligus sahabat saya. Saya sudah titip ke Dirut Sardjito, Ngarsa Dalem harus dirawat baik-baik supaya tetap sehat dan bugar," katanya.
Di balik kelakar tersebut, Budi menegaskan transformasi RSUP Dr. Sardjito merupakan langkah serius dalam peningkatan layanan kesehatan. Penataan ulang akan dilakukan dengan mengonsolidasikan 32 gedung menjadi sembilan gedung utama.
"Gedungnya memang berkurang, tapi kapasitas dan kualitas layanannya justru naik dua sampai tiga kali lipat. Ruang hijau ditambah, pelayanan dibuat lebih nyaman dan terintegrasi," tuturnya.
Lanjut Menkes Budi menekankan, arah pembangunan rumah sakit ke depan tidak hanya berfokus pada penyembuhan penyakit, tetapi juga pada kualitas hidup pasien dan masyarakat.
"Kita ingin rumah sakit ini betul-betul fokus ke pasien. Bukan hanya mengobati, tapi merawat kehidupan masyarakat Jogja. Di sini banyak lansia, jadi kalau sakit tidak perlu lagi ke luar daerah atau bahkan ke luar negeri," jelasnya.
Budi menambahkan, pembangunan dan renovasi fasilitas kesehatan tidak hanya dilakukan di Yogyakarta. Proyek serupa juga tengah dan akan berjalan di sejumlah daerah lain seperti Surabaya, Makassar, Ambon, Kupang, Jayapura, hingga kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN).
"Mulai tahun depan kami masuk tahap pendanaan lanjutan. Targetnya percepatan pembangunan bisa benar-benar tercapai," imbuhnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung