JOGJA - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Yogyakarta menemukan adanya kluster flu di sejumlah sekolah setelah banyak anak dilaporkan mengalami flu berkepanjangan dengan gejala yang dinilai lebih berat dibandingkan flu biasa. Temuan tersebut terjadi pada September 2024 lalu.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit serta Pengelolaan Data dan Sistem Informasi Kesehatan Dinkes Kota Yogyakarta, dr. Lana Unwanah, mengatakan flu yang dialami anak-anak tersebut pada dasarnya masih termasuk influenza. Namun, durasi sakitnya cenderung lebih lama.
"Ini sebetulnya sama dengan flu pada umumnya, hanya durasinya lebih panjang. Kalau flu biasa biasanya dua sampai tiga hari sudah sembuh, ini bisa sampai lebih dari satu minggu," ujar Lana saat jumpa pers di Kompleks Balai Kota, Jumat (9/1/2026).
Menurut dr Lana, influenza merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dan bersifat self-limiting disease, artinya dapat sembuh dengan sendirinya apabila daya tahan tubuh penderita dalam kondisi baik. Meski demikian, pada kasus yang belakangan disebut masyarakat sebagai "super flu", keluhan yang dirasakan bisa lebih berat.
"Yang paling terasa itu lemasnya lebih ekstrem, sakit kepala lebih berat, dan batuknya bisa menetap cukup lama," katanya.
Baca juga: Super Flu Terdeteksi di DIY, Kemenkes: "Bukan Virus Baru Seperti COVID-19"
Mudah Menular di Sekolah
dr Lana juga menjelaskan, penularan influenza terjadi melalui droplet atau percikan udara yang keluar saat seseorang berbicara, batuk, maupun bersin. Lingkungan sekolah menjadi salah satu tempat yang rawan penularan karena padatnya aktivitas dan intensitas interaksi antarsiswa.
"Memang di bulan September lalu dilaporkan beberapa kluster di sekolah-sekolah. Banyak anak mengalami gejala flu secara bersamaan," ungkapnya.
Meski ditemukan kluster, Dinkes Kota Yogyakarta saat itu tidak melakukan pemeriksaan laboratorium lanjutan terhadap seluruh kasus. Oleh karena itu, belum dapat dipastikan apakah semua kasus disebabkan oleh influenza A subtipe H3N2 atau jenis influenza lainnya.
Lebih lanjut dr Lana menegaskan flu berkepanjangan yang terjadi di masyarakat tidak berkaitan dengan COVID-19, meskipun sama-sama disebabkan oleh virus.
"Kalau super flu itu penyebabnya influenza A tipe H3N2, sedangkan COVID-19 disebabkan oleh SARS-CoV-2. Keluarganya berbeda," jelasnya.
Ia juga menerangkan bahwa influenza A hanya menyerang saluran pernapasan bagian atas, seperti hidung dan tenggorokan.
"Influenza tidak sampai masuk ke paru-paru atau alveolus. Berbeda dengan COVID-19 yang menyerang sampai ke paru-paru dan bisa menyebabkan gangguan pernapasan berat," tuturnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung