JOGJA - Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali turun langsung ke tengah masyarakat melalui program pengabdian masyarakat Gemilang Desa, yang digagas Departemen Pengembangan Masyarakat Desa, BEM KM UGM. Tahun ini, kegiatan tersebut dilaksanakan di Desa Donoharjo, Ngaglik, Sleman, dengan fokus pada pemberdayaan masyarakat dan pembangunan desa berkelanjutan.
Koordinator Umum Gemilang Desa, Faris Zakiy Ramadhan, menjelaskan bahwa program ini bertujuan memperkuat peran mahasiswa sebagai mitra masyarakat dalam mewujudkan desa yang berdaya.
“Melalui Gemilang Desa, kami ingin menghadirkan sinergi nyata antara gagasan mahasiswa dan aksi di lapangan. Desa tidak lagi dipandang sebagai wilayah tertinggal, tetapi sebagai pusat inspirasi dan motor penggerak kemajuan bangsa,” ujar Faris, Selasa (21/10/2025).
Tahun ini, Gemilang Desa menghadirkan dua kegiatan utama, yakni Gebyar Desa dan Kongres Abdi Desa. Pada Gebyar Desa, sebanyak 59 mahasiswa lintas fakultas UGM terjun langsung mendampingi masyarakat lewat sejumlah program interaktif seperti GEMAJAR (Gemilang Desa Mengajar), General Medical Check Up (GMCU), Sosialisasi Tanaman Obat bersama dosen Fakultas Farmasi UGM Dr. Joko Santosa, permainan edukatif Keping Cerita Donoharjo, serta kegiatan Sehat Bersama Warga.
Selain itu, para mahasiswa juga turut memeriahkan Festival Healing Tourism yang disambut antusias oleh warga. Tercatat lebih dari 50 orang dewasa dan 30 anak-anak aktif berpartisipasi dalam berbagai kegiatan tersebut.
Mewakili warga, Sumaryono, mengaku sangat terbantu dengan adanya layanan kesehatan gratis yang diadakan mahasiswa.
"Saya sangat berterima kasih dengan adanya cek kesehatan gratis ini. Sangat membantu bagi warga di sini. Harapannya, kegiatan seperti ini bisa sering diadakan,” ujarnya.
Warga lain, Zaki, yang mengikuti sosialisasi tanaman obat, mengatakan kegiatan tersebut menambah wawasan baru bagi masyarakat.
"Jadi makin tahu manfaat tanaman obat yang bisa ditanam di sekitar rumah,” katanya.
Di sisi lain, sub-event Kongres Abdi Desa menjadi wadah kompetisi sekaligus forum gagasan antar generasi muda. Lebih dari 300 peserta dari berbagai universitas dan SMA mengikuti tiga cabang kompetisi yakni Business Plan Competition, Kompetisi Esai, dan Kompetisi Poster.
Setelah melalui proses seleksi, 10 tim terbaik dari masing-masing cabang berhasil melaju ke babak final. Tak hanya kompetisi, Kongres Abdi Desa juga menghadirkan talkshow edukatif bertajuk SEDASA (Suara Pemuda untuk Kemajuan Desa).
Kegiatan tersebut menghadirkan berbagai narasumber lintas bidang, antara lain Joko Susilo (Founder Gunungkidul Menginspirasi), Prof. Irfan Dwidya Prijambada, Ph.D. (Fakultas Pertanian UGM), Kanjeng Yudanegara (Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Kalurahan, Kependudukan, dan Pencatatan Sipil DIY), serta Antonia Elena (Duta Lingkungan Provinsi DIY). Faris berharap, melalui kegiatan ini lahir kolaborasi berkelanjutan antara mahasiswa dan masyarakat desa.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Dikirim Melalui E-mail