Kepala Pelaksana BPBD Sleman, Raden Haris Martapa. (Olivia Rianjani)
JOGJA - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana di masa peralihan musim kemarau ke musim hujan dengan membentuk Kalurahan Tangguh Bencana (Kaltara) di seluruh wilayah Sleman.
Kepala Pelaksana BPBD Sleman, Raden Haris Martapa, menjelaskan bahwa pembentukan Kaltara menjadi langkah penting untuk memastikan kesiapan masyarakat di tingkat kalurahan dalam menghadapi berbagai potensi bencana.
“Seluruh kalurahan yang ada di Kabupaten Sleman ini sudah memiliki standar ketika ada bencana. Kesiapsiagaannya sudah melalui program Kaltara,” ujar Raden Haris, Kamis (16/10/2025).
Dalam struktur Kaltara, setiap kalurahan memiliki unit pelaksana penanggulangan bencana yang didukung oleh para relawan. Saat ini, BPBD Sleman telah mencatat sekitar 3.700 relawan terdaftar, dengan jumlah relawan tidak terdaftar yang juga cukup banyak.
“Beberapa kelompok relawan sedang kami upayakan untuk distandarisasi agar bisa menjadi relawan terdaftar,” katanya.
Selain Kaltara, BPBD Sleman juga terus menggalakkan program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) di sekolah-sekolah. Program ini bertujuan memberikan edukasi, penyusunan SOP, serta pelatihan bagi guru dan siswa agar mampu merespons dengan cepat saat terjadi bencana.
“Setiap hari kami bersama relawan memberikan edukasi dan menyiapkan SDM di sekolah-sekolahan. Karena sekolah adalah tempat berkumpulnya ratusan anak setiap hari, jadi harus benar-benar siap seandainya terjadi bencana,” jelasnya.
Menurutnya, BPBD Sleman juga aktif melakukan kegiatan lapangan berupa pemetaan dan pengecekan wilayah rawan bencana, termasuk potensi guguran lava dan awan panas dari Gunung Merapi, tanah longsor di wilayah Prambanan, hingga ancaman angin kencang di sejumlah daerah terbuka.
“Untuk Gunung Merapi, potensi guguran lava dan awan panas paling besar berada di sektor selatan-barat daya dengan jarak luncur maksimal sekitar lima kilometer. Sementara di sisi timur dan tenggara, potensi mencapai tiga hingga lima kilometer ke arah Kali Gendol dan Pariworo,” ungkap Haris.
Disisi lain, BPBD juga memetakan 14 kalurahan di sekitar Prambanan yang rawan tanah longsor, serta wilayah Turi dan Pakem yang memiliki kontur perbukitan curam.
"Kami terus memperbarui peta rawan bencana agar penanganan di lapangan lebih cepat dan tepat. Semua ini bagian dari upaya mengurangi risiko bencana di Sleman,” pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan