Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Kamis, 09 OKTOBER 2025 • 16:20 WIB

Penelitian UGM Soal Ritual Labuhan Merapi: Tradisi Rutin Keraton Yogya yang Menjaga Hutan Lereng Merapi

Penelitian UGM Soal Ritual Labuhan Merapi: Tradisi Rutin Keraton Yogya yang Menjaga Hutan Lereng MerapiRitual Labuan Merapi Oleh Keraton Yogyakarta. (Istimewa (via e-mail))

JOGJA - Ritual Labuhan Merapi yang setiap tahun digelar oleh Keraton Yogyakarta bukan sekadar prosesi spiritual, melainkan juga bentuk nyata kearifan lokal dalam menjaga kelestarian hutan di kawasan Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM). Nilai-nilai ekologis yang tersimpan di balik ritual ini kini tengah dikaji lebih dalam oleh Tim Program Kreativitas Mahasiswa Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH) Universitas Gadjah Mada (UGM).

Penelitian itu bertajuk “Labuhan Merapi: Analisis Aspek Ekologi Ritual dalam Upaya Konservasi Hutan dan Relevansinya dalam Perspektif Sains Modern”, dimana ini dilakukan oleh lima mahasiswa lintas fakultas diantaranya Bhara Dewaji (Kehutanan 2023) selaku ketua tim, bersama Vina Indrawati (Kehutanan 2024), Yassa Allaya Annas (Kehutanan 2024), Reina Arkhadia Eka Putri (Vokasi 2024), dan Inoora Putri Haliza (Ilmu Budaya 2024).

Bhara menjelaskan bahwa timnya menggunakan pendekatan etnoekologi dengan metode observasi lapangan, wawancara tokoh adat, serta analisis vegetasi. Tujuannya adalah untuk mengungkap bagaimana tradisi dan kepercayaan masyarakat sekitar Merapi dapat berperan langsung dalam pelestarian alam.

Labuhan Merapi itu bukan hanya warisan budaya, tapi juga sistem ekologis yang terintegrasi. Ada aturan adat, pantangan, dan mitos yang membuat masyarakat menghormati alam Merapi dan tidak sembarangan menebang atau mengambil tanaman di kawasan ritual,” ujar Bhara saat ditemui usai pemaparan rencana penelitian di Balai TNGM, Kamis (9/10/2025).

Baca juga: Seminar Astechnova 2025 di Yogya, Retno Marsudi Ajak Dunia Bersatu Antisipasi Krisis Air Hingga Energi

Diketahui, ritual yang dilaksanakan setiap 30 Rajab itu berlangsung di zona adat TNGM, dari Pos 1 Bedengan hingga Pos 2 Srimanganti. Selain prosesi pelarungan sesaji dan kirab gunungan, masyarakat juga melakukan penanaman tanaman lokal seperti tesek, yang dipercaya sebagai simbol keseimbangan alam.

Bhara menambahkan bahwa hasil pengamatan awal menunjukkan adanya keterkaitan langsung antara ritual dan kondisi ekologis kawasan.

Larangan menebang pohon, tidak boleh membawa pulang tumbuhan dari lokasi Labuhan, hingga kewajiban menjaga vegetasi di sekitar tempat ritual, semuanya berkontribusi nyata pada konservasi hutan Merapi,” jelasnya.

Baca juga: Konsep KOSMOT-ZeroGRK, Cara Mahasiswa UGM Dorong Warga Playen Gunungkidul Ubah Limbah Organik Jadi Kompos Ramah Lingkungan

Selain itu, analisis vegetasi menunjukkan beberapa jenis tanaman yang digunakan dalam ritual memiliki fungsi ekologis penting mulai dari mencegah erosi hingga menjaga kestabilan ekosistem lereng gunung. Penelitian ini diharapkan menjadi jembatan antara kearifan lokal dan sains modern.

"Kami ingin menunjukkan bahwa tradisi seperti Labuhan Merapi punya nilai ilmiah yang kuat dalam konteks konservasi. Ini bisa jadi model pengelolaan kawasan konservasi yang berpihak pada budaya lokal,” tandas Bhara.

Sebagai langkah awal, tim PKM-RSH UGM telah memaparkan rencana penelitian mereka kepada pihak pengelola TNGM. Kegiatan yang digelar di Balai TNGM ini dihadiri oleh Kepala Balai TNGM, jajaran Kepala SPTN Wilayah I dan II, Koordinator RPTN, hingga perwakilan Polisi Hutan. 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Dikirim Melalui E-mail

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Penelitian UGM Soal Ritual Labuhan Merapi: Tradisi Rutin Keraton Yogya yang Menjaga Hutan Lereng Merapi

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!