Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Kamis, 09 OKTOBER 2025 • 15:50 WIB

Seminar Astechnova 2025 di Yogya, Retno Marsudi Ajak Dunia Bersatu Antisipasi Krisis Air Hingga Energi

Seminar Astechnova 2025 di Yogya, Retno Marsudi Ajak Dunia Bersatu Antisipasi Krisis Air Hingga EnergiUtusan Khusus Sekretaris Jenderal PBB untuk Isu Air, Retno Marsudi. (Istimewa (via e-mail))

JOGJA - Utusan Khusus Sekretaris Jenderal PBB untuk Isu Air, Retno Marsudi, menyerukan kerja sama global untuk mengantisipasi potensi krisis air, pangan, dan energi yang dinilai semakin mengancam ketahanan dunia. Ia menegaskan, ketiga isu tersebut saling berkaitan erat dengan target pembangunan berkelanjutan dan upaya penurunan emisi karbon.

Semua tantangan tersebut saling terhubung erat, karena air, pangan, dan energi merupakan elemen utama dari tujuan pembangunan berkelanjutan,” ujar Retno dalam sambutannya secara daring pada konferensi internasional bidang energi Astechnova 2025, di Hotel Alana Yogyakarta, Rabu (8/10/2025).

Retno menjelaskan, keterbatasan air bersih menjadi salah satu persoalan mendesak yang dihadapi masyarakat global. Ketersediaan air terus menurun, sementara kebutuhan meningkat untuk sektor industri dan rumah tangga. Menurutnya, solusi atas persoalan ini hanya bisa dicapai melalui kebijakan yang selaras di berbagai sektor.

Untuk mengatasi ancaman krisis air, pangan, dan energi, dibutuhkan koherensi kebijakan yang kuat, apalagi dunia termasuk Indonesia tengah menghadapi tantangan menjaga keseimbangan populasi yang berpengaruh langsung terhadap kebutuhan sumber daya,” ujar Retno.

Baca juga: Akan Dihitung Absen, UNY Buka Suara Soal Status Mahasiswa Perdana Ari yang Ditangkap Polda DIY Atas Dugaan Pembakaran Saat Aksi Akhir Agustus 2025

Sementara itu, perwakilan dari International Atomic Energy Agency (IAEA), Carolyn Scherer, menilai energi nuklir memiliki potensi besar sebagai solusi energi jangka panjang yang berkelanjutan. Melalui program International Project on Innovative Nuclear Reactors and Fuel Cycles (IMPRO), IAEA mendorong penggunaan teknologi nuklir yang lebih efisien dan ramah lingkungan.

"Reaktor modern kini dirancang untuk beroperasi selama 60 hingga 80 tahun lebih lama dari reaktor generasi pertama yang hanya 40 tahun,” jelas Carolyn.

Kami berupaya memastikan tenaga nuklir tersedia secara berkelanjutan, kompetitif, meminimalkan risiko proliferasi, dan memiliki dampak lingkungan yang minimal," sambungnya.

Guru Besar Departemen Teknik Nuklir dan Teknik Fisika FT UGM, Prof. Andang Widi Harto, menyoroti pentingnya pemanfaatan teknologi penyerapan karbon dioksida (CO₂) dari atmosfer untuk diolah menjadi produk bernilai ekonomi seperti pupuk urea dan hidrokarbon sintetis. Namun, ia menekankan bahwa kunci keberhasilan inovasi tersebut terletak pada ketersediaan hidrogen (H₂).

Tanpa hidrogen, konsep pemanfaatan CO₂ tidak bisa menghasilkan produk bernilai ekonomi,” tegasnya.

Baca juga: Bupati Halim : Konsep “Kuntul Gunung” Untuk Kembangkan Kawasan Pansela DIY Jadi Pengelolaan Wisata "Satu Pintu"

Karena konferensi Astechnova 2025 yang diselenggarakan Fakultas Teknik UGM diikuti lebih dari 300 peserta dari delapan negara, lanjut Prof. Selo, berharap forum ini mampu menjadi ajang pertukaran ide untuk menghadapi tantangan energi global.

Kami berharap kegiatan ini dapat meningkatkan kolaborasi antara akademisi, industri, pemerintah, dan mitra internasional dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan,” pungkas Prof Selo.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Dikirim Melalui E-mail

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Seminar Astechnova 2025 di Yogya, Retno Marsudi Ajak Dunia Bersatu Antisipasi Krisis Air Hingga Energi

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!