JOGJA - Setelah viralnya di media sosial ditemukannya mural bajak laut dari anime One Piece di wilayah Balecatur, Gamping, Kabupaten Sleman, DIY. Kali ini, sebuah mural bertema One Piece yang ditemukan di tembok rumah warga di Jl. Temulawak, RT 7 RW 37, Padukuhan Temulawak, Kalurahan Triharjo, Kapanewon Sleman, Kabupaten Sleman, menuai perhatian aparat setempat. Terdapat dua simbol yaitu yanh satu berlambang tengkorak dengan topi jerami yang turut dituliskan kata Merdeka. Sementara gambar satunya dituliskan STRUGGLE.
Menindaklanjuti temuan tersebut, Babinsa dan Bhabinkamtibmas Triharjo sekitar pukul 14.00 WIB langsung menemui pihak Dukuh dan pemuda sekitar, meminta agar mural tersebut dihapus hari ini juga.
“Kita sangat mengapresiasi kreativitas warga, tapi kalau menyangkut lambang negara seperti bendera Merah Putih, itu tidak bisa diubah-ubah. Kami sudah koordinasi dengan Pak Lurah dan Pak Dukuh untuk memberikan edukasi kepada pemilik rumah agar menghapus gambar tersebut,” ujar Babinsa Triharjo, Sersan Mayor Hadi Suroso, saat ditemui dilokasi tersebut, pada Kamis (7/8/2025).
Menurutnya, keberadaan bendera Merah Putih dalam mural tersebut berpotensi menimbulkan kesalahpahaman dan dianggap melecehkan lambang negara.
“Bendera Merah Putih itu simbol perjuangan. Banyak nyawa dikorbankan untuk itu. Tidak semudah itu digambar seenaknya. Kami curiga ini bisa dimaknai macam-macam,” katanya.
Babinsa juga menegaskan bahwa mural-mural lain yang tidak memuat bendera Merah Putih masih akan ditinjau lebih lanjut, meski tetap akan dihapus sesuai arahan dari kelurahan.
"Kalau hanya One Piece-nya saja, sebenarnya enggak ada masalah. Tapi karena ini sudah menyangkut instruksi dari kelurahan dan kami juga dapat perintah dari pimpinan, jadi tetap akan dihapus semuanya,” jelas Hadi.
Mural bertema One Piece yang ditemukan di tembok rumah warga di Jl. Temulawak, RT 7 RW 37, Padukuhan Temulawak, Kalurahan Triharjo, Sleman, sebelum dihapus. (Olivia Rianjani)
Sementara itu, Dukuh Temulawak, Hardi Wiyanto, mural tersebut muncul baru dalam beberapa hari terakhir. Ia mengaku belum mengetahui secara pasti siapa pembuatnya, namun menduga dilukis oleh salah satu warga sekitar secara iseng.
"Istilahnya enggak tahu, itu cuma seneng aja, iseng terus gambar wae. Tapi kalau soal siapa yang bikin, belum tahu. Kayaknya pribadi aja, bukan pemuda,” jelasnya.
Meski begitu, pihak padukuhan tetap akan mengambil langkah persuasif untuk memberikan pengertian kepada pembuat mural, apalagi karena lukisan tersebut kini telah menjadi perhatian masyarakat. Secara umum menurutnya kondisi lingkungan tetap kondusif.
"Kami akan beri pengertian saja ke anaknya, untuk netralisir saja. Kalau untuk ekspresi sebenarnya enggak apa-apa, tapi tetap harus lihat konteksnya,” tegas Hardi.
Lanjut Hardi menjelaskan bahwa mural tersebut diketahui dibuat pada malam hari, tanpa ada saksi mata yang melihat langsung proses pembuatannya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung