Senin, 27 JULI 2026 • 12:45 WIB

PDIP Sleman Ajak Ratusan Gen Z Peringati Malam Kudatuli Tahun ke-30 Lewat Teatrikal dan Diskusi : "Demi Politik yang Baik untuk Masa Depan"

Author

Peringatan malam "Kudatuli" yang berlangsung di kantor DPC PDIP Sleman, pada Minggu (26/7/2026). (Olivia Rianjani)

JOGJA - DPC PDI Perjuangan (PDIP) Kabupaten Sleman sukses menggelar aksi teatrikal dan renungan malam guna memperingati peristiwa kerusuhan 27 Juli 1996 atau yang dikenal sebagai Tragedi "Kudatuli" di Kantor DPC PDIP Sleman, Minggu malam (26/7/2026).

Kegiatan yang mengusung tema "Spirit Perjuangan Menegakkan Demokrasi dan Melawan Otoritarianisme dalam Perspektif Generasi Z" ini dihadiri setidaknya 218 anak muda yang mewakili seluruh kapanewon di Kabupaten Sleman.

Ketua DPC PDI Perjuangan Sleman sekaligus Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa, mengatakan bahwa acara ini diselenggarakan sebagai ruang edukasi sejarah dan politik bagi generasi muda agar tidak melupakan tonggak penting lahirnya demokrasi di Indonesia.

"Jadi hari ini, di malam peringatan Kudatuli tepat di tahun 1996. Jadi ini kemarin pemuda-pemuda kita mengikuti untuk mengingat kembali sejarah demokrasi Indonesia ini," ujarnya, di lokasi acara, Minggu malam (26/7/2026).

Baca juga: Serukan Perlawanan Terhadap Kriminalisasi Sekjen PDIP Hasto, Banteng Jogja Gelar Aksi Kumpulkan Koin : Ini Serangan Terhadap Martabat Partai

Menurut Danang, peringatan ini merupakan panggil moral untuk menanamkan pemahaman bahwa politik bukan sekadar perebutan kekuasaan, melainkan alat perjuangan demi kesejahteraan masyarakat.

"Ini bagian dari panggilan kita mengingatkan generasi muda kita tentang salah satu sejarah sebagai tonggak demokrasi di Indonesia, yang itu juga merupakan dari bibit adanya reformasi dulu untuk mengajak memahami bahwa politik itu adalah sesuatu yang harus kita lakukan sebagai warga negara Republik Indonesia. Tetapi bagaimana politik itu yang benar dan tentu berjuang untuk kesejahteraan rakyat," tegasnya.

Ia menyebut, keterlibatan Gen Z dalam ruang diskusi ini diharapkan mampu membuka cakrawala berpikir mereka mengenai esensi kebijakan publik yang berpihak pada rakyat.

"Jadi anak-anak muda ini hari ini akan kita bukakan sedikit pemikirannya tentang politik terkait dengan kebijakan apapun, tetapi bagaimana politik itu yang berpihak kepada rakyat. Itu yang paling penting acara ini," jelasnya.

Dalam refleksinya, Danang menyinggung betapa mahalnya harga yang harus dibayar bangsa Indonesia demi menegakkan sistem demokrasi saat ini melalui Tragedi Kudatuli.

"Kejadiannya bahwa Tragedi Kudatuli adalah proses sejarah yang harus kita bayar mahal karena itu menimbulkan korban. Baik itu refleksinya untuk merenungkan bahwa perjuangan membutuhkan pengorbanan yang tidak kurang," paparnya.

Acara yang diwarnai aksi pertunjukan teatrikal tersebut disajikan sebagai metode visual agar sejarah tidak terkesan kaku bagi anak-anak muda. Danang juga menekankan bahwa forum malam itu murni diisi dengan ruang dialog edukatif.

"Teatrikal tadi hanya sedikit gambaran untuk memberikan penjelasan kepada anak-anak muda soal Kudatuli adalah tragedi 27 Juli dalam rangka menegakkan demokrasi dari beberapa penindasan waktu itu," ungkap Danang.

"Ini diskusi, bukan mimbar rakyat. Ini diskusi, ini nanti ada saling bertukar pikiran. Kalau mimbar rakyat kan seolah-olah menunjukkan apa virus-virus berbahaya, ini tidak. Kita memberikan ajakan kepada rakyat yang kita ingin ajak teman-teman anak muda ingat jangan lupa sejarah atau JAS MERAH. Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang selalu menghargai sejarah, itu saja," tuturnya.

Ia menyadari bahwa banyak anak muda era sekarang yang mungkin familiar dengan istilah Kudatuli, namun belum tentu mendalami rentetan peristiwa di balik sejarah kelam tersebut.

"Mungkin anak-anak muda ini sering dengar atau bahkan setiap tahun pasti tahu bahwa Kudatuli itu apa, tetapi belum tentu anak-anak muda ini paham terkait apa sebenarnya kejadian Kudatuli," kata Danang.

Peringatan malam "Kudatuli" yang berlangsung di kantor DPC PDIP Sleman, pada Minggu (26/7/2026). (Olivia Rianjani)

Pada kesempatan itu, Danang menyampaikan dua pesan utama dari DPC PDIP Sleman untuk para pemuda yang hadir.

"Terutama harus Jas Merah, jangan sekali-kali meninggalkan sejarah. Yang kedua, memberikan pemahaman kepada anak-anak muda bahwa negara atau demokrasi ini dihadirkan dengan perjuangan dan penuh pengorbanan," tuturnya.

Baca juga: Hasto Kristiyanto Bantah PDIP Dalang Demo :"Kami Kebal Tudingan"

Kendati demikian, ia berharap generasi penerus tidak kehilangan arah dan tetap konsisten menjaga nilai-nilai kebangsaan.

"Artinya hari ini anak-anak muda yang nanti akan meneruskan perjuangan-perjuangan kita harus bisa mewarisi api perjuangan. Biar tetap lebih semangat dan lebih daripada kita-kita yang hari ini ada di dalam negara ini. Itu saja positif," pungkas Danang.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan Langsung

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU