Alasan Jogja Disebut Pusat Gerakan Budaya dan Dakwah di Padhang Bulan Fest 2026, Salah Satunya Jadi Harapan Baru Indonesia
JOGJA - Padhang Bulan Fest 2026 disebutkan bukan sekadar festival budaya sekaligus dakwah terbesar, melainkan momentum untuk menghidupkan kembali nilai-nilai luhur warisan para wali dan budaya Jawa yang mengajarkan manusia agar terus berbuat baik, mempererat persaudaraan, serta memberikan manfaat bagi sesama.
Hal tersebut disampaikan Penasehat Padhang Bulan Fest 2026, Ustad Salim A. Fillah, dalam konferensi pers Padhang Bulan Fest 2026 di Masjid Jogokariyan, Yogyakarta, Selasa (21/7/2026). Dimana, festival tersebut dijadwalkan berlangsung pada September 2026 melalui rangkaian safari dakwah di sejumlah titik di Yogyakarta maupun luar Yogyakarta.
Menurut Salim, rangkaian kegiatan yang telah digelar sejak 2022, mulai dari Ojo Leren Dadi Wong Apik, Lir Ilir, hingga kini Padhang Bulan Fest, merupakan ikhtiar merawat filosofi kehidupan yang diwariskan para leluhur dan para wali.
"Event-event yang sudah kita selenggarakan secara tahunan sejak tahun 2022 mulai dari Ojo Leren Dadi Wong Apik, Lir Ilir, dan kemudian bersambung kepada bulan ini. Tentu semuanya dalam rangka untuk bersama-sama memaknai kehidupan yang kita jalani, mengambil akar dari nilai budaya kita, dan sekaligus ajaran para leluhur dakwah, para wali yang telah memberikan kepada kita satu filosofi kehidupan yang sangat luar biasa," ujarnya.
Ia mengatakan filosofi Jawa seperti ojo leren dadi wong apik, urip iku urup, dan awang sinawang mengandung pesan agar manusia terus istiqamah dalam kebaikan, menjauhi iri dan dengki, serta menjadi pribadi yang bermanfaat bagi orang lain.
"Ojo leren dadi wong apik tentu kesemuanya dalam rangka untuk bersama-sama memaknai kehidupan yang leluhur kita dari generasi ke generasi merawatnya menjadi tanaman yang senantiasa akan bermanfaat. Awang sinawang, terhindari iri dan dengki, menumbuhkan benih-benih kebaikan yang sudah dihadirkan oleh seluruh leluhur kita," jelasnya.
Menurutnya, tema Padhang Bulan juga memiliki makna mendalam karena diambil dari syair Lir Ilir maupun lagu dolanan Jawa yang menggambarkan terang bulan sebagai simbol kesempatan terbaik untuk berbuat baik.
"Hari ini kita sampai kepada Padhang Bulan, yang Padhang Bulan itu juga menjadi bagian dari syair Lir Ilir, mumpung padhang rembulane, tapi juga sekaligus kita punya lagu dolanan Padhang Bulan, padange kaya rino, yang kemudian menjadi simbol kita semua berada pada kesempatan emas untuk senantiasa melaksanakan hal-hal baik," terang Salim.
Ia bahkan menegaskan kesempatan berbuat baik tidak perlu menunggu waktu yang dianggap ideal.
"Tidak untuk menunggu esok hari, tidak untuk menunggu waktu yang ideal, tetapi berbuat sejak saat ini di kesempatan yang dianugerahkan oleh Allah," ucap Salim.
Lebih lanjut, Salim menjelaskan bahwa tradisi berkumpul di bawah cahaya rembulan dalam budaya Jawa memiliki makna sosial yang kuat.
"Mumpung padhang rembulane ketika rembulan bercahaya. Dan pada malam yang semacam itu bagi kita di Jawa khususnya dimanfaatkan untuk berkumpul bersama, bersilaturahmi, untuk kemudian memperkuat persaudaraan, memperkuat hubungan sosial, perketanggaan. Anak-anak juga dididik untuk kemudian rukun, guyub bersama teman-temannya," tuturnya.
Menurutnya, momentum tersebut juga menjadi ruang refleksi bagi masyarakat.
"Di situ kemudian kita memahami bahwa hidup itu merenung sejenak tentang hari-hari yang kita lewati dan hari-hari yang akan kita hadapi di masa yang akan datang," ucap Salim.
Lebih lanjut, Salim menambahkan bahwa Padhang Bulan Fest menjadi pengingat agar masyarakat memanfaatkan setiap waktu yang Allah berikan dengan sebaik-baiknya.
"Maka event rembulan ini menjadi pengingat bagi kita tentang pentingnya senantiasa memanfaatkan waktu yang diberikan oleh Allah, begitu yang dianugerahkan oleh Allah untuk mengisinya dengan berbagai hal yang bermanfaat dan bermakna bagi kehidupan kita," ujarnya.
Menurutnya, kesempatan terbaik untuk berbuat baik adalah saat ini.
"Kesempatan itu adalah saat ini. Kesempatan emas itu adalah yang ada sekarang, dimulai dari apa yang kecil, dimulai dari saat ini, dimulai dari diri kita sendiri," katanya.
Sehingga, ia berharap festival tersebut menjadi ruang mempererat ukhuwah sekaligus mendorong masyarakat berkontribusi bagi bangsa.
"Ini adalah saat untuk kemudian berkumpul bersama, menyambung tali silaturahmi, berukhuwah, bersaudara, guyub rukun dalam keceriaan membangun umat dan bangsa yang sedang menantikan kontribusi kita semua," jelas Salim.
Dalam kesempatan itu, Salim juga mengaitkan makna bulan purnama dengan syair Thola'al Badru 'Alaina yang dinyanyikan masyarakat Madinah saat menyambut kedatangan Rasulullah SAW.
"Sebagaimana dahulu orang-orang Madinah menyambut Rasulullah SAW dengan syair Thola'al Badru 'Alaina. Terbitnya bulan purnama adalah harapan baik. Terbitnya bulan purnama adalah saat kita bergandeng tangan, saat untuk kita bersama-sama berukhuwah, merenung bersama, menyusun agenda-agenda kehidupan, agenda perjuangan, dan agenda kita untuk berkontribusi kepada umat dan bangsa," papar Salim.
Karena itulah, Padhang Bulan Fest 2026 akan menghadirkan sejumlah ulama dan tokoh bangsa sebagai simbol harapan serta penguat semangat kebersamaan.
"Insyaallah event Padhang Bulan Fest pada tahun ini akan menghadirkan para ulama dan tokoh bangsa sebagai simbol bahwa kita masih punya harapan," tegas Salim.
Kemudian, para panitia Padhang Bulan Fest 2026 menyebut kegiatan ini telah menjadi "hari raya" bagi para pegiat dakwah di Yogyakarta karena menjadi ruang kolaborasi lintas organisasi tanpa mengedepankan identitas masing-masing.
"Kita menyebutnya sebagai hari rayanya teman-teman pekerja dakwah di Jogja karena yang pertama ini menjadi tempat kita kumpul-kumpul bareng. Jadi bisa berkolaborasi bersama," jelaa Salim.
Dalam hal ini, dimana sebanyak 18 lembaga dakwah terlibat dalam penyelenggaraan, namun seluruhnya sepakat tidak menampilkan logo organisasi.
"Yang unik di Jogja ini kesediaan semua teman-teman yang terlibat di kepanitiaan untuk melebur menjadi satu alias tidak ada yang pasang logo sama sekali. Padahal benar-benar kumpulan banyak sekali, total 18 lembaga bareng-bareng, tapi tidak ada yang ego untuk kemudian pasang logo menonjolkan diri," ungkap Salim.
Bagi Salim, itu adalah suatu hari yang sangat patut dirayakan, karena kita bisa melepaskan ego kita, melepaskan baju organisasi kita, guyub rukun bareng-bareng untuk satu kepanitiaan bersama.
Ia juga mengapresiasi profesionalisme panitia di Jogja yang tetap fokus menjalankan tugas selama acara berlangsung.
"Teman-teman panitia yang kemudian bertugas di hari-H itu tidak rebutan untuk minta foto sama ustadnya, minta tanda tangan, tetapi betul-betul bertugas sesuai dengan tugas dan fungsinya," katanya.
Menurutnya, panitia akan diberi kesempatan bertemu para ulama setelah seluruh rangkaian tugas selesai.
"Nanti kita memang insyaallah sediakan waktu untuk teman-teman panitia bisa ngobrol bareng dan sharing bareng dengan ustadz di waktu yang khusus, tidak di saat mereka bertugas sebagai panitia," tegas Salim.
Selain menjadi ajang silaturahmi, Salim menyebut, hasil berbagai program penggalangan dana selama penyelenggaraan juga akan dibagikan untuk mendukung program dakwah lembaga-lembaga yang terlibat.
"Semuanya akan kita bareng-bareng bagi-bagi untuk support program-program dakwah dari teman-teman yang kemudian bergabung, insyaallah," tegasnya.
Kendati demikian, ia kembali berharap semangat kebersamaan tersebut terus terjaga. Dimana, event dakwah terbesar ini yang disebut sebagai hari rayanya para pegiat dakwah dan lembaga dakwah di Jogja, semua pendakwah bersatu tanpa membeda - bedakan atribut.
"Karena insyaallah kita bersatu, guyub rukun, melepaskan identitas kita, bareng-bareng berkontribusi terbaik dan saling support untuk program-program setahun ke depan," pungkas Salim.
Diberitakan sebelumnya, menginjak tahun ke-4 Padhang Bulan Fest 2026 akan kembali menyapa masyarakat pada 18 hingga 21 September 2026 mendatang, yang mana lokasinya terpusat di Jogja Expo Center (JEC).
Ketua Panitia Padhang Bulan Fest 2026, Muhammad Akhid Subianto, mengatakan bahwa rangkaian acara tahun ini akan dibagi menjadi dua agenda utama, yakni safari para asatidz dan festival utama selama dua hari di JEC pada Sabtu - Minggu, 19 - 20 September 2026.
"Acara ini sudah tahun ke-4. Ini masih sama dengan tahun kemarin, ada safari para asatidz dan juga ada festival di Jogja Expo Center. Kegiatan yang akan berlangsung pada bulan September, insya Allah akan dimulai dari tanggal 18 September dan berakhir pada tanggal 21 September," ujarnya, saat konferensi pers di Masjid Jogokariyan, Yogyakarta, Selasa (21/7/2026).
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung