Ingatkan Generasi Muda Soal Sejarah, Pemkab Sleman Kemas Peringatan "Kembalinya Jogja" Lewat Sarasehan dan Seni Pada 23 Juni Mendatang
JOGJA - Dinas Kebudayaan (Disbud) Kabupaten Sleman tengah bersiap menggelar rangkaian acara untuk memperingati momentum bersejarah "Kembalinya Jogja" tahun 2026. Peringatan yang menandai kembalinya kedaulatan Ibu Kota RI tersebut akan dipusatkan di Museum Monumen Jogja Kembali (Monjali) pada Selasa, 23 Juni 2026 mendatang.
Kepala Bidang Sejarah, Bahasa, Sastra, dan Permuseuman Disbud Sleman, Joko Dwi Haryadi, mengatakan meskipun tanggal historis peristiwa ini jatuh pada 29 Juni, pihak dinas sengaja memajukan jadwal pelaksanaan demi mengoptimalkan esensi edukasi kepada masyarakat luas.
"Pada kesempatan yang baik ini, tentu kami dari Dinas Kebudayaan akan menyampaikan materi atau informasi terkait dengan peringatan hari bersejarah 'Kembalinya Jogja' 29 Juni 2026. Bahwasanya nanti peringatan Kembalinya Jogja itu akan kita selenggarakan di tanggal 23 Juni 2026 di Museum Jogja Kembali," ujarnya, dalam jumpa pers pada Kamis (3/6/2026).
Menurut Joko, peristiwa "Kembalinya Jogja" bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan tonggak krusial bagi eksistensi Ibu Kota RI kala itu.
"Memang peristiwa Kembalinya Jogja merupakan salah satu momentum penting dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Peristiwa ini menandai kembalinya Pemerintah Republik Indonesia ke Yogyakarta setelah masa agresi Belanda dan menjadi simbol kemenangan diplomasi serta keteguhan perjuangan rakyat Indonesia dalam mempertahankan kedaulatan negara," jelasnya.
Sebagai wilayah yang menyimpan banyak rekam jejak perjuangan, Kabupaten Sleman dinilai memiliki tanggung jawab moral yang besar dalam mewariskan nilai-nilai kepahlawanan. Hal ini dinilai krusial, terutama di tengah pergeseran perilaku generasi muda di era digital saat ini.
"Kabupaten Sleman karena memiliki keterkaitan erat dengan sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia, memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga, melestarikan, dan mewariskan nilai-nilai perjuangan tersebut kepada utamanya generasi muda kita. Karena memang saat ini kalau kita melihat di media itu kan, generasi muda itu ada yang positif, ada yang kurang positif. Itu menjadi PR kita bersama, tidak hanya dari Dinas Kebudayaan, mungkin dari dinas-dinas terkait yang lainnya," kata Joko.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Disbud Sleman mengusung tema "Diplomasi Perjuangan dan Semangat Kebangsaan untuk Generasi Masa Kini" dengan subtema "Menumbuhkan Memori Perjuangan melalui Sejarah Budaya dan Keteladanan".
Joko merinci ada lima tujuan utama yang ingin dicapai melalui agenda besar ini, di antaranya meningkatkan kesadaran sejarah masyarakat terhadap perjuangan bangsa, serta menanamkan nilai nasionalisme dan cinta tanah air kepada generasi muda.
"Serta mengenalkan kembali peristiwa Jogja Kembali, mengembangkan sejarah sebagai media edukasi publik yang menarik dan kontekstual, dan memperkuat kolaborasi antara pemerintah, museum, komunitas sejarah, pelajar, dan masyarakat," imbuhnya.
Kemas Sejarah Lewat Sosiodrama Malam Hari
Rangkaian acara di Monjali nantinya akan dikemas dalam dua bentuk kegiatan utama, yaitu sarasehan sejarah dan pentas seni pertunjukan. Sarasehan tersebut akan menghadirkan narasumber dari kalangan akademisi, budayawan, serta penggiat sejarah atau museum.
Kemudian, Pemkab Sleman juga menyajikan daya tarik visual berupa pentas sosiodrama sejarah. Dalam pertunjukan ini, pemerintah daerah menggandeng Komunitas Yogyakarta 45, sebuah wadah kelembagaan yang aktif melestarikan sejarah perjuangan bangsa di wilayah Sleman.
"Untuk sosiodrama akan menampilkan terkait dengan situasi Yogyakarta pasca agresi militer Belanda kedua, kemudian perjuangan diplomasi Indonesia di tingkat internasional, kemudian dukungan rakyat terhadap RI, kemudian kembalinya Pemerintah Republik Indonesia ke Yogyakarta, serta refleksi nilai perjuangan persatuan dan nasionalisme bagi generasi muda masa kini," papar Joko.
Menariknya, pertunjukan seni ini sengaja dijadwalkan pada malam hari untuk memberikan alternatif hiburan yang edukatif bagi sektor pariwisata lokal. Pihak panitia sendiri memprioritaskan siswa SMP dan SMA sebagai peserta utama, selain dihadiri oleh mahasiswa, guru sejarah, komunitas sejarah, seniman, hingga budayawan.
"Ini akan kita selenggarakan nanti di malam hari. Harapan kami nanti bisa mendukung wisatawan, khususnya anak-anak remaja, agar bisa menikmati hiburan di Jogja Kembali pada malam hari," tuturnya.
Melalui momentum ini, Joko berpesan agar masyarakat memahami bahwa kemerdekaan dan kedaulatan diraih lewat kombinasi rumit antara pengorbanan fisik dan jalur diplomasi para pendahulu, di mana Yogyakarta memegang peran yang sangat strategis. Nilai-nilai persatuan, gotong royong, dan nasionalisme inilah yang harus terus dirawat.
"Harapan kami memang melalui sarasehan dan sosiodrama Kembalinya Jogja ini, Dinas Kebudayaan Sleman berharap masyarakat semakin mengenal sejarah perjuangan bangsa, tumbuh rasa bangga terhadap identitas kebangsaan, serta terbangun kesadaran untuk menjaga dan melestarikan warisan sejarah sebagai bagian penting dari pembangunan karakter bangsa," tegasnya.
Program Jangka Panjang Lewat Program Wajib Kunjung Museum
Disisi lain, Joko menekankan bahwa strategi promosi sejarah di Sleman tidak berhenti pada momen seremonial tahunan saja. Dinas Kebudayaan Sleman secara konsisten terus memfasilitasi pendidikan karakter sejak dini, salah satunya lewat program wajib bagi siswa tingkat dasar.
"Tentunya untuk mempromosikan sejarah ini, kita tidak hanya di peringatan-peringatan hari bersejarah, tapi kita juga dari Kabupaten Sleman itu memfasilitasi anak-anak kita, terutama SD itu kita mempunyai kegiatan wajib kunjung museum," ungkap Joko.
Oleh karena itu, pihaknya telah menjadwalkan kunjungan museum bagi belasan sekolah dasar di wilayahnya sepanjang bulan ini.
"Harapan kami nanti tentunya menambah wawasan anak-anak kami sejak dini. Dan di bulan Juni ini, kita memfasilitasi ada 10 SD untuk bisa berkunjung ke museum-museum yang ada di Kabupaten Sleman," pungkas Joko.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung