Kamis, 04 JUNI 2026 • 12:55 WIB

13 Hari Fenomena Api Misterius di Seyegan Belum Padam Bahkan Titik Api Meluas, BPBD Sleman Siapkan Status Darurat Khusus

Author

Lokasi kejadian munculnya api misterius di rumah warga Seyegan, Sleman. (Olivia Rianjani)

JOGJA - Fenomena kemunculan api misterius yang melanda permukiman warga di Dusun Kasuran, Kalurahan Margomulyo, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman, kian meresahkan. Sejak pertama kali muncul pada Jumat (23/5), intensitas kebakaran acak ini terus melonjak hingga mencatatkan puluhan kejadian.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman, Bambang Kuntoro, mengungkapkan bahwa api masih terus muncul dalam beberapa hari terakhir. Fenomena ini tercatat sudah terjadi hampir seratus kali.

"Total kejadian mencapai 91 kali. Rinciannya 83 kali kemarin, 5 kali pagi ini, dan 3 kali semalam," ujarnya kepada wartawan, saat ditemui di Dinas Pariwisata (Dinpar) Sleman, Kamis (4/6/2026).

Dugaan Berasal Tanah Rawa

Bambang menceritakan pengalamannya saat meninjau langsung lokasi kejadian pada Sabtu lalu. Ia menyaksikan sendiri bagaimana api tersebut tiba-tiba berkobar tanpa pemantik yang jelas. Berdasarkan kajian awal tim ahli, area tersebut dulunya merupakan lahan rawa yang kemudian diurug untuk pemukiman.

"Bener waktu saya kesana, tiba-tiba muncul. Jadi memang saya lihat langsung waktu itu hari Sabtu. Kalau historis dari struktur tanahnya dulu apa saya nggak tahu ya, tapi informasi dari teman-teman peneliti (timnya Prof. Rasuki dan Prof. Alfaidi) itu dulu katanya daerah rawa. Karena ternyata rumah itu juga dulu diurug, bukan rata dengan tanah tapi diurug," ungkapnya.

Bambang juga menyebut, sifat api ini sangat selektif. Kobaran api cenderung membakar benda-benda tertentu yang memiliki karakteristik material spesifik, terutama yang sempat lembab lalu mengering.

"Saya sendiri lihat satu kali dan langsung membesar dengan media. Dari media nggak bisa, harus ada baju, kain. Gas hidrogan (hidrogen) tadi tertangkap oleh media sehingga jadi terbakar. Tidak semua benda, tapi yang mengandung plastik, mengandung air, agak basah-bahok dikit kemudian kering. Karena kayu kering kemarin terbakar," beber Bambang.

Titik Api Mulai Meluas

Kondisi di lapangan saat ini kian dinamis. Laporan terbaru menyatakan bahwa sebaran titik api misterius ini tidak lagi hanya berpusat di satu titik awal, melainkan sudah mulai merembet ke bangunan di sekitarnya.

"Yang sebelah kirinya aman, kanannya sudah ada mulai, tapi di belakang rumah ya tumpukan kayunya terbakar. Sebelahnya lagi agak jauh juga terbakar. Ada dua (rumah yang mulai meluas)," imbuh Bambang.

Baca juga: Aksi Klitih Maut di Seyegan Sleman, Polisi Amankan Dua Orang

Padahal, pihak petugas telah melakukan upaya antisipasi dengan memasang sejumlah alat penyedot udara (blower) di dalam rumah terdampak. Langkah ini diambil untuk mengurai konsentrasi gas berbahaya agar tidak mengumpul di dalam ruangan.

"Bisa jadi (meluas), kita nggak tahu alam ya. Padahal sudah dipasang blower-blower kan di rumah itu, pasangin banyak untuk membuang biar gas itu keluar. Kolaborasi dengan gas yang lain di luar gitu kan, ketika akumulasinya kecil, persentasenya kecil kan sudah hilang di sana. Tapi ternyata dia suka di spot-spot yang memang rumah itu minim ventilasi. Ventilasinya minim di kamar-kamar itu, sehingga memicu untuk gas itu suka di tempat lembab," jelasnya.

Status Darurat Khusus Disiapkan

Lokasi kejadian munculnya api misterius di rumah warga Seyegan, Sleman. (Olivia Rianjani)

Dikarenakan rentetan teror api yang tak kunjung reda selama 13 hari terakhir, kata Bambang, korban terpaksa mengosongkan rumah mereka. Mereka terpaksa tidur di area terbuka hingga ruko kosong, yang berujung pada terganggunya aktivitas kerja harian.

Merespons situasi darurat ini, BPBD Sleman langsung menggalang kolaborasi multisektoral skala besar. Penyelidikan mendalam kini melibatkan Basarnas, BPPTKG, BRIN, TNI, Polri, serta tim pakar dari Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta untuk memastikan jenis gas apakah metana, hidrogen, atau gas rawa.

"Selama masa darurat ini, kami memberikan dukungan berupa bantuan anggaran dari BPBD, bantuan sosial, hingga pendampingan psikologis dari Puskesmas setempat untuk mengatasi trauma warga," ujar Bambang.

Mengenai langkah jangka panjang seperti opsi relokasi atau pengosongan wilayah secara permanen, BPBD masih menunggu hasil akhir kajian komprehensif dari tim peneliti. Di sisi lain, rencana penetapan status Tanggap Darurat Bencana Khusus tengah digodok dengan penuh kehati-hatian, khususnya terkait pos anggaran APBD.

"Kita pakai dengan anggaran (APBD) di luar reguler, tapi kita sangat hati-hati, tidak semaksimal mungkin, tapi kita tetap yang seperlunya saja lah," katanya.

Baca juga: Heboh Teror Api Misterius di Rumah Warga Seyegan Sleman: Muncul Puluhan Kali Membuat Satu Keluarga Terpaksa Mengungsi

Kendati demikian, Bambang menegaskan, keputusan akhir mengenai status darurat khusus tersebut tidak akan diambil secara gegabah dan harus memiliki landasan hukum serta saintifik yang kuat.

"Nanti sesuai dengan rujukan dari tim ahli dengan aturan mainnya seperti apa. Selanjutnya dari kita, karena situasinya kok sepertinya sampai saat ini belum ada mengerucut (kesimpulannya) gitu ya," pungkasnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Wawancara Langsung

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU