Nasib Warga Wisata Rumah Teletubies Sleman: Ditinggalkan Wisatawan, Status Lahan Akan Jadi Sultan Ground
JOGJA - Kawasan rumah domes atau yang lebih dikenal masyarakat sebagai Rumah Teletubies di Padukuhan Sengir, Kalurahan Sumberharjo, Kapanewon Prambanan, Kabupaten Sleman, kini menghadapi dilema. Di satu sisi, kompleks unik ini masih kokoh berdiri sebagai tempat berlindung bagi puluhan kepala keluarga korban gempa. Namun di sisi lain, denyut nadi pariwisata di kawasan tersebut kian meredup dalam beberapa tahun terakhir.
Carik Kalurahan Sumberharjo, Budi Raharjo, membenarkan bahwa fungsi ganda kawasan rumah domes sebagai tempat tinggal relokasi dan destinasi wisata masih berjalan, meski sektor pariwisatanya terus mengalami penurunan omset kunjungan.
"Ya, untuk saat ini rumah domes untuk tempat tinggal warga yang terdampak gempa bumi tahun 2026. Itu untuk relokasi dimana di Padukuhan Sengir memang ada wilayah yang terdampak gempa. Sehingga relokasi tersebut ditempatkan masih di Padukuhan Sengir yang saat ini di lebih tengah dengan rumah domes," ujarnya saat memberikan keterangan di lokasi, Kamis (28/5/2026).
Budi mencatat, saat ini ada puluhan keluarga yang menggantungkan hajat hidupnya di bangunan berbentuk kubah tersebut.
"Saat ini warga menggunakan untuk tempat tinggal lebih dari 40 KK di sana dan juga dari sana masyarakat masih menggunakan untuk wisata," katanya.
Secara fisik, pertumbuhan infrastruktur di kawasan yang memiliki luas area diperkirakan mencapai 2.000 meter persegi ini tidak banyak berubah sejak awal dibangun pasca-gempa 2006 lalu menggunakan dana bantuan pihak luar. Pemerintah kalurahan mencatat hanya ada penambahan pada fasilitas publik.
"Jumlah bangunan masih tidak ada perubahan, masih sama, untuk bangunannya tidak bertambah, hanya untuk bertambah untuk fasum (fasilitas umum) misalnya pos ronda dan sedikit gedung pertemuan, yang untuk memudahkan kegiatan warga, manakala warga perlu ada yang dirembug atau perlu untuk koordinasi ataupun untuk bermusyawarah," jelasnya.
Namun, ia mengakui tidak mengingat detail angka kuantitas awal pembangunan.
"Total awal saya lupa, jumlahnya berapa, untuk pastinya berapa saya lupa," ucapnya.
Persaingan Ketat Destinasi Wisata
Menjamurnya objek wisata modern di kawasan Prambanan disinyalir menjadi faktor utama ambruknya angka kunjungan ke Rumah Teletubies. Pengelolaan yang sepenuhnya diserahkan kepada kelompok desa wisata mandiri bukan oleh pemerintah kalurahan membuat objek wisata ini harus berjuang keras berinovasi.
"Kalau pengelolaan rumah domes, ini ada kelompok desa-desa wisata. Jadi yang mengelola dari masyarakat, bukan pemerintah kalurahan," jelas Budi.
Baca juga: Lima Sapi di Sleman Sempat Positif PMK, Pemkab Perketat Pengawasan 215 Pasar Tiban
Ia memaparkan realita penurunan tersebut secara terbuka.
"Terus terang mengalami penurunan tidak seperti dulu lagi, karena mungkin masyarakat banyak pilihan sekarang di luar Sumberharjo sudah banyak pilihan. Sekarang menjamur, ada mungkin Obelix, ada desa-desa wisata juga banyak," ungkapnya.
Guna menyiasati hal ini, Pemerintah Kalurahan Sumberharjo mengklaim terus berupaya menyuntikkan dukungan promosi melalui penyelenggaraan agenda skala internasional.
"Langkah kita adalah bagaimana memberikan dukungan terhadap kelompok masyarakat tersebut agar pengelolaannya baik, bermanfaat untuk masyarakat," terang Budi.
"Contohnya tahun kemarin ada event JIHW (Jogja International Heritage Walk), itu kebetulan juga bertempat di rumah domes. Ini salah satu upaya dukungan kita untuk memperkenalkan atau memberikan dukungan publikasi supaya orang tahu bahwa rumah dom juga masih ada dan masih menerima kunjungan masyarakat," sambungnya.
Di tengah lesunya sektor pariwisata, regulasi mengenai legalitas lahan kawasan tersebut kini juga tengah memasuki babak baru. Budi menyebut status tanah kas desa itu kini sedang diproses untuk dikembalikan ke Kasultanan Yogyakarta atau Sultan Ground (SG).
"Tanah tersebut adalah tanah kalurahan atau tanah desa. Tapi saat ini berdasarkan aturan kemarin kita sudah mendapatkan arahan dari pihak terkait ini tanah tersebut sekarang dikembalikan haknya kepada Kasultanan," ungkap Budi.
Menurutnya, langkah ini diambil untuk menyelaraskan penggunaan lahan dengan aturan yang berlaku di Daerah Istimewa Yogyakarta.
"Keberadaan permukiman di atas tanah kas desa memang menyalahi aturan. Karena sesuai aturan kan memang tanah kas tidak boleh untuk tempat tinggal. Jadi tanah tersebut saat ini sudah dalam proses pengembalian ke Kasultanan," tandas Budi.
Warga Nyaman di Tengah Keterbatasan Fasilitas
Bagi warga setempat, rumah domes tetap menjadi tempat bernaung yang nyaman terlepas dari sepinya wisatawan yang datang. Lisa Lestari, salah seorang warga yang sudah mendiami rumah kubah tersebut selama tujuh tahun terakhir, menceritakan pengalamannya.
"Kalau saya baru 7 tahun. Sepertinya nyaman ya kalau disini. Kalau saya masalahnya tidurnya dibelakang. Saya punya bangunan rumah sendiri. Kalau disini nyaman. Kalau siang tuh nggak panas banget. Kalau malam juga nggak dingin banget," tutur Lisa.
Rumah domes yang ditempatinya memiliki tata ruang yang cukup fungsional, terbagi atas dua kamar tidur, satu dapur, dan satu ruang tamu.
"Jadi memang kalau di atas juga ada ruang yang biasanya buat gudang hanya buat gudang. Kalau malam tuh semakin malam semakin dingin banget kalau tidur diatas," katanya.
Namun, Lisa tidak menampik bahwa fasilitas sanitasi pribadi masih menjadi kendala utama bagi warga sejak awal direlokasi.
"Kamar mandi nggak ada, paling pakai MCK umum. Dari awal memang nggak ada," beber Lisa.
Terkait merosotnya sektor pariwisata, Lisa merasakan perbedaan atmosfer yang sangat kontras dibanding tahun-tahun pertamanya tinggal di sana.
"Kalau dulu pas awal-awal banyak tapi sekarang sudah kayaknya nggak ada. Paling 3 tahun lah nggak banyak pengunjung, paling cuma beberapa gitu. Baru sebentar pergi lagi ‘oh nggak kayak dulu ya’ paling begitu," ungkapnya.
Ia sepakat bahwa gempuran destinasi baru membuat daya tarik Rumah Teletubies memudar.
"Sekarang mungkin banyak bangunan-bangunan jadinya mungkin kurang menarik," kata dia.
Kendati demikian, denyut ekonomi warga tidak sepenuhnya mati karena masih ditopang oleh geliat usaha mikro. Lisa menaruh harapan besar agar pemangku kebijakan dan pengelola dapat menggandeng masyarakat lokal secara lebih agresif untuk mengembalikan kejayaan wisata Rumah Domes.
"Kalau saya sih pengennya itu biar diramekan lagi gitu dengan bekerjasama dengan masyarakat sekitar. Mungkin UMKM," pungkasnnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung